Hamil, sebagaimana semua mengetahui, adalah sebuah proses kehidupan yang hampir selalu akan di lewati dalam fase kehidupan seorang wanita.
Menjadi hamil, sebagaimana yang sedang saya alami saat ini, adalah suatu proses yang mendorong saya untuk melakukan banyak perubahan terutama dalam siklus kehidupan saya.
Bukan sengaja saya melakukan perubahan-perubahan itu, but everything goes so naturally…
Masih inget, hari dimana saya melakukan check kehamilan pribadi pake test pack. Adalah beberapa hari setelah lebaran. Saya merasa mual sekali saat itu. Terkena efek sambal beberapa hari rupanya berbuntut ngga gitu bagus ama perut saya, ndilalah kok saya juga ngerasa mual-mual. Beberapa obat yg di dapat dari puskesmas menganjurkan untuk tidak di minum oleh ibu hamil. Waduh… saya memang sedang tidak haid sih, dan mual-mual itu, mendorong saya untuk beli test pack dan langsung uji lab kamar mandi saat itu juga…
Hasilnya : Strip satu alias Negatip
Saya langsung down begitu melihat hasilnya. Kami memang tidak berencana untuk menunda untuk segera memiliki momongan, makin cepat makin baik, karena masih muda, energi masih banyak, jadi bisa maksimal merawat anak. Tapi rupanya memang bukan kami penentu tentang hal itu, memiliki anak sama dengan meminta rejeki, Dia akan memberikan pada saat dan waktu yang tepat.
Lalu kami pulang ke Jakarta. dan kembali bekerja seperti biasa. Sampai saya sadar saya sudah telat haid kurang lebih seminggu lamanya. Sedikit exited, saya akui itu. Harapan tentang akan adanya jabang bayi di perut saya membuat saya kembali merasa bahagia, meskipun kami masih belum yakin tentang hal itu.
Saya pun kembali melakukan tes kamar mandi, dan kali ini keluar dua strip, tapi salah satu warnanya tidak begitu terang. Kurang percaya dengan penglihatan mata saya, saya pun membangunkan paksa suami yang sedang ngorok dengan hebohnya. Dan diapun sependapat dengan saya bahwa stripnya ada dua.
Tak dipungkiri, terasa ada kupu-kupu kecil di dada saya. Iya, saya bahagia meskipun kami masih ingin ke dokter kandungan untuk check usg dan meyakinkan bahwa memang ada calon kehidupan di perut saya.
Malamnya, kami antre di depan ruangan khusus dokter kandungan. Hati saya membuncah ketika alat usg di arahkan ke perut saya dan dokter Farid bilang kalau ada sesuatu dalam kandungan saya, dan kesimpulannya adalah Ya, saya sedang hamil. Pelukan suami saya terasa beda saat itu, lebih hangat dan lebih dalam. Tak terasa air mata saya mengalir seketika sambil tak lupa mengucap berkali-kali kalimat hamdalah.
Saya selalu menantikan saat itu, saat dimana saya akan di usg dan melihat perkembangan janin di dalam perut saya. Seperti rindu yang tak kunjung berhenti dan seperti pertemuan yang selalu saya nanti, itu adalah perasaan yang saya rasakan ketika alat usg meraba-raba perut saya.
Perubahan yang saya alami? hmmm.. boleh jadi saya ini termasuk hamil yang ndak gitu rewel. Ngidam saya ngga aneh-aneh, hanya tiba2 muncul selera makan terhadap makanan yang biasanya saya hindari seperti soto ayam. Lalu sempat eneg makan sayur di pagi hari selama beberapa minggu. Selama beberapa minggu juga engga doyan makan sampai berat saya turun 2,5 kilo dalam waktu seminggu. Hanya satu yang agak dramatis dan sedikit merepotkan, saya jadi doyan tidur…. hehehehe..
Biasanya, saya paling banter tidur selama sekitar 8 jam. Selebihnya jika saya memaksa tidur, maka yang terasa adalah kepala saya akan pusing dan berat. Tapi tidak dengan saya sekarang, bantal dan kasur itu jadi tempat ternyaman… hehehehe.. *alesan*. Satu lagi, saya yang uda dasarnya pemalas ini menjadi kian pemalas, malas masak, malas nyuci baju, malas setrika. Kerjaan-kerjaan rumah tetap saja numpuk dengan suksesnya padahal saya sudah menyempatkan diri pulang lebih awal.
Sekarang, si kecil dalam perut saya genap berusia 2 bulan 3 minggu. Umur yang masih rentan karena si kecil belum menempel kuat di perut saya. Meskipun dokter kandungan saya engga terlalu cerewet melarang macem-macem hal, tapi saya masih harus puasa mie instan, nanas, segala minuman bersoda, dan makanan fast food dan makanan2 ber-msg tinggi selama 2 tahun lebih. Ho ho ho ho.. its gonna be a long.. long.. long.. time…
bagaimana mungkin, menikah dan tinggal bersama dengan pasangan tapi tetap saja merasa rindu?
Sebelumnya engga pernah menyangka akan merasa seperti ini. Terlebih ketika dia mengajukan permintaan menikah tepat pada perayaan 5 tahun masa perkenalan slash pacaran kami . Jika ada pertanyaan mengapa saya ingin segera menikah dengannya adalah karena satu hal, saya ingin ditemani. Entah mengapa, terasa lelah berjalan sendirian diantara semakin banyaknya masalah yang muncul di hadapan saya, berjalan beriringan dengan semakin bertambahnya umur.
Hari ini, seorang teman bercerita tentang bagaimana dia jatuh lagi, sekali lagi-dan berulang kali di waktu sebelumnya- oleh lelaki yang sama. Lelaki yang pernah berada dalam hidupnya, lalu memutuskan untuk keluar. Susah payah teman saya ini membangun kehidupannya, dengan me-reduksi ketergantungan terhadap lelaki itu, hingga dia mampu berpikir -tanpa rasa sakit hati- bahwa this is the best for them. Bahwa dengan tidak terlalu sering ‘bersentuhan’ akan mendewasakan mereka, bahwa mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk memulai lembaran baru tanpa kehadiran laki-laki itu dalam kehidupannya. Sampai kemarin, dia jatuh lagi. Entah karena laki-laki itu atau karena harapannya sendiri. Bahwa masih ada cerita indah yang layak untuk diteruskan diantara mereka. Bahwa keyakinannya masih sama terhadap laki-laki itu. Bahwa hanya laki-laki itulah yang menjadi tujuan akhir perjalanan cintanya. Bahwa hatinya memang tidak mampu -meski sudah dicoba- untuk menghadirkan sosok lain dalam hidupnya, menggantikan tempat laki-laki itu. Sampai saat dimana dia jatuh lagi, menangisi puing-puing hatinya yang kembali terluka.
o iya, hari ini hari pertama puasa yah??
saya nginep di kosan temen di daerah Tebet semalam…
Sejatinya, yang harus lebih saya pertimbangkan lebih adalah kesiapan mental untuk memutuskan hidup dengan the only one laki-laki itu. Engga saya pungkiri, seperti jawaban yang dia kemukakan ketika saya menanyakan alasan mengapa dia ingin menikahi saya, adalah karena kenyamanan dan kebutuhan, saya pun demikian. Tapi, pun ketika jawaban kami sama atas pertanyaan itu, pastinya nantinya masih akan ada sesuatu yang harus kami sesuaikan satu dengan yang lainnya. Perubahan yang akan terjadi setelah status kami satu sama lain berubah pun, kemungkinan akan ada pula. Saya yang sampe detik ini kemampuan memasaknya masih di bawah rata-rata seleranya, tentu saja masih harus banyak sekali belajar, saya yang menurutnya masih kurang sabar, tentu saja masih harus belajar bagaimana untuk bersabar di saat yang tepat *hahahha, mana pula tuh ada saat yg tepat untuk bersabar, alesan nih…*
comments