Arsip untuk Kategori 'any other of hope'

10
Mei
10

[a new life inside me]

Ngga kerasa, kehidupan dalam diriku sudah memasuki bulan ke 9. I’ts a long journey you have my dear baby. masih ingat di benak saya ketika pertama kali perut saya diraba-raba dengan alat bernama ultra sonografik atau biasa dikenal USG, dan yang nampak hanyalah buletan kecil dengan kerlip kecil pertanda bahwa sedang dibangun sebuah kehidupan disana.

Beberapa bulan yang lalu bahkan kami sudah hampir bisa membayangkan wajahmu wahai peri kecilku. Pipi yang tembem dan muka yang hampir bulat, dengan hidung yang cenderung kecil, menyiratkan bahwa kemungkinan nantinya, dirimu akan lebih mirip bunda daripada ayah. Hehehe, aneh juga sih, mengingat bunda udah berusaha nyebelin ayah setengah mati sambil berharap nantinya kamu bakalan mirip ayah daripada bunda.

Dan mungkin, kurang lebih beberapa minggu dari hari ini, kita akan segera bertemu sayang… That day, is will be the day we’ve always waiting for, the day we meet…

Bunda dan ayah pernah bilang kepadamu wahai anakku, bahwa kami sebagai orang tua sebagaimana layaknya orang tua, akan selalu berusaha memberikan yang baik untukmu, mungkin ngga selalu yang terbaik, tapi yang pasti adalah sesuai dengan kemampuan kami sayang, dan percayalah, hal itu tidak menjadi ukuran apakah kami mencintaimu atau tidak, karena mungkin kami ingin mencintaimu dengan cara yang berbeda dengan kehidupan urban di sini.

Sudah beberapa kali bunda merasakan getaran dan gerakan kakimu atau anggota tubuhmu sayang, tapi itu ketika usia kehamilan bunda masih berumur 34minggu. Usia yang ngga terlalu bagus untukmu lahir karena diumur itu meskipun semua organ telah sempurna (kecuali paru-paru) tapi sistem imun dalam dirimu belum terbentuk dengan baik, sehingga pak dokter yang baik itu memberikan obat yang dapat menunda kelahiranmu.

Sempat pula bunda mengalami pendarahan, meskipun akhirnya kata pak dokternya bunda hanya mengalami flek. Disitulah perasaan bersalah menggerogoti hati kami, bunda takut sayang, bunda takut bunda kurang baik menjagamu sehingga hal2 yang tidak kami inginkan akan terjadi kepadamu. Tapi untunglah, dengan istirahat 2 hari saja, bunda ngga keluar flek lagi dan perasaan bersalah itu berangsur hilang.

Tahukah kamu sayang, bahwa minggu-minggu ini, setiap harinya selalu menjadi saat-saat yang mendebarkan hati bunda, dimana pertemuan denganmu bisa terjadi kapan saja, dan dirimu memiliki siklus yang bahkan bunda sendiri ngga bisa menentukan, kapan tepatnya kau ingin keluar dari perut bunda dan melihat dunia.

Anakku sayang, meskipun dunia ini takkan selalu indah bagi kita tapi bunda percaya sayang, adanya dirimu akan memberikan warna lain di kehidupan ayah dan bunda. Yang akan selalu menjadi penyejuk raga kami ketika kami lelah, yang akan selalu memberikan suntikan semangat untuk kami kala kami tidak optimis lagi memandang dunia.

Anakku, semoga kelak engkau menjadi seseorang yang berguna dalam kehidupanmu, keluargamu dan orang disekelilingmu bahkan mungkin bangsamu. Semoga kelak engkau menjadi pribadi yang membanggakan, anak yang sholeh atau sholelah, tidak hanya cantik/ tampan rupa tapi juga baik budi pekerti dan agama. Aminn…

20
Jun
09

trough de wed

101144p

Berbicara  tentang pernikahan, jadi inget dulu waktu saya masih semester 2. Seorang teman nanya, gimana tentang konsep pernikahan saya kelak. Hehehe… saya jawabnya ngasal banget. Dulu -ampe sekarang sihh- saya paling enggan disuruh pake benda yang namanya rok. Dalam lemari baju saya pun, benda yang namanya skirt, bisa diitung pake jari. Engga bermaksud untuk pilih kasih, tapi  gak tau deh, pake rok tuh sungguh bikin saya yang pencilakan ini engga nyaman. Risih gitu. Terlalu kebuka -bagian bawahnya- dan ngga bisa gerak sesuka hati. Maka saya bilang ama teman saya itu, kalo saya nikah besok-besok, dress code buat tamunya adalah simply jeans, celana jeans maksudnya. Hahaha, udah kebayang tuh dikepala, saya dan suami nerima tamu yang mereka semua kompak pake jeans dan atasan putih, hilanglah itu semua formalitas yang bikin gerah dan capek.

Sekarang, kalo dibalikin lagi ke sana, konsep impian saya diatas, masih akankah saya gunakan di pernikahan kelak. Hmm… sama kek temennya adisti di lajang&menikah, yang mendambakan menikah ala polka yang akhirnya menyerah ama keinginan orang tua yang ingin menikahkan anaknya dengan menggunakan tata cara pernikahan adat masing-masing. Bisa dipastikan, meskipun konsep menikah dengan dress code ala jeans engga bakalan saya dapet, tapi saya juga engga mau nikah pake adat manapun. Pake kebaya? iyalah. Sebuah harga yang engga bisa saya tawar. Tapi konsep yang saya inginkan adalah simply wed. Untungnya, keluarga si mas bukan keluarga penganut adat yang keukeuh. Sudah lumayan nasionalis dan lebih penting adalah mereka engga akan nuntut macem-macem untuk menggunakan adat yang melelahkan itu kepada saya. Fyuhh… lega rasanya.

hari ini, adalah H minus 2 bulan 1 mingguan sekian hari sekian sekian jam. I just cant wait for that beautifully moment. padahal, persiapan menuju kesana big Zero! hahaha, modal nekat doang emang…ama doa sih, gag tau banyakan mana, doa apa nekatnya. Hahaha, embuhlah.. bismillah aja, niatnya baik, insyaalloh ntar dimudahkan jalannya.

baru beberapa hari yang lalu aja, saya akhirnya menyelesaikan konsep pernikahan dan mengirimnya lewat email ama seorang teman. setelah baca artikel gimana menikah secara islam yang saya temukan secara ngga sengaja, artikel itu seakan memberikan inspirasi tentang pernikahan. Memang sih, harus ada penyesuaian sana sini, tapi pada dasarnya udah kena ama apa yang saya harapkan. Simple dan ngga neko-neko.

Acara akan saya lakukan di rumah saja, mengingat jumlah tamu yang kebanyakan adalah para tetangga saja. Keluarga saya yang bisa dibilang keluarga hanya segelintir saja, dan keluarga mas, ngga mungkin juga datang semua mengingat waktu yang sangat jauh dari negara *ceileh* hahaha, *propinsi ding* asal mereka. Jakar tempuh dengan mobil aja bisa 13 jam. Hampir ngga mungkin berkendara dengan waktu segitu lama dengan orang tua yang kebanyakan umurnya udah sepuh-sepuh. Lalu teman SMA, mungkin ngga akan saya undang semua, karena honestly, saya kurang suka harus bermanis-manis ria dengan teman yang engga deket dengan saya, dan jumlah temen yang saya anggap deket pun ngga seberapa. Orang kantor, baik kantor saya dan mas, hmmm… sepertinya tak satu pun dari mereka akan mendatangi negara saya, disamping waktunya yang udah deket ama bulan puasa, jaraknya yang jauh bangeddd… kalopun ada yang datang, sungguh.. niatnya memang sangat mulia. hahaha, lebay! Jadi, kemungkinan maksimal tamu yang akan hadir adalah sekitar 200 orang. Dekor dan kursi, jumlahnya menyesuaikan, kata si ewiet sih ada tempat yang mau menyewakan semuanya sekaligus. Jadi tinggal menyesuaikan budget ajah. Soal makanan, kata si mas akan lebih mending kalo kami masak sendiri, bukan apa-apa, karena acaranya dirumah, maka otomatis kami engga bisa mengontrol jam kedatangan para tetamu, kalo makanan diserahkan ke tukang catering, takutnya ntar pas ada tamu yang datang, kami ngga ada stock makanan. Bisa tengsin berat bo’.

Yang masih nyangkut di kepala cuma masalah Tenda, kursi, dan makanan. Sisanya, keknya bisa kami urus dalam waktu sehari. Undangan, tinggal nyari desain yang match aja, se simple mungkin. Kalo dah nemu desain yang cucok, tinggal pesen, cuma butuh seminggu untuk  bikinnya. Masalah agak gede mengingat selera saya yang agak susah dalam berkebaya adalah mencari atasan yang sesuai dengan acara saya. Selera saya agak aneh iya emang, saya enggak terlalu suka dengan hiasan yang terlalu rame, mau pesen aja yang sesuai dengan yang saya pengen, malahan lebih ribet lagi, kudu cari kain, cari penjahit yang cucok.. waduhh… bisa kriting saya mikirnya. Sudahlah, beli yang langsung pake aja, tapi tetep kudu nemu yang sesuai dengan selera dan budget tentunya.

Menuju ke pernikahan, emang sebenarnya engga ada yang simple sih saya kira. mo dibikin sesimple apapu acaranya, pastinya ada deh acara ribet-ribetnya, dikit atow banyak. se enggak kepengen-kepengennya saya ama acara yang terlalu detail dan ribet, tentu saja saya engga boleh gitu aja maen slonong girl tanpa mempertimbangkan wajah mama saya selaku tuan rumah yang akan dapat imbasnya apabila ada yang ngga berkenan ama para tetamu.

1444035pSejatinya, yang harus lebih saya pertimbangkan lebih adalah kesiapan mental untuk memutuskan hidup dengan the only one laki-laki itu. Engga saya pungkiri, seperti jawaban yang dia kemukakan ketika saya menanyakan alasan mengapa dia ingin menikahi saya, adalah karena kenyamanan dan kebutuhan, saya pun demikian. Tapi, pun ketika jawaban kami sama atas pertanyaan itu, pastinya nantinya masih akan ada sesuatu yang harus kami sesuaikan satu dengan yang lainnya. Perubahan yang akan terjadi setelah status kami satu sama lain berubah pun, kemungkinan akan ada pula. Saya yang sampe detik ini kemampuan memasaknya masih di bawah rata-rata seleranya, tentu saja masih harus banyak sekali belajar, saya yang menurutnya masih kurang sabar, tentu saja masih harus belajar bagaimana untuk bersabar di saat yang tepat *hahahha, mana pula tuh ada saat yg tepat untuk bersabar, alesan nih…*

Eeeniwei, all I know for sure, dari jaman kuliah sampai hari ini, detik ini, he is the best for me... semoga tak ada yang berubah, atau kalaupun ada perubahan pada kami masing-masing semoga cinta itu akan selalu menyelimuti hati dan mengalahkan ego masing-masing. Semoga benang merah yang selama ini menyatukan kelingking kami ini akan selalu ada, bahkan menjadi kuat dengan berjalannya hari. Amien.

gambar : pinjem dari jupiterimages

03
Mei
09

[masih harus sendiri dulu]

imagesKost saya sepi sekali akhir-akhir ini. Satu bulan yang lalu, tiba-tiba temen-temen kos berbondong-bondong pindahan. Macem-macem alasannya. Yang satu, pindah ke daerah cibubur dengan alasan karena mobilnya engga bisa masuk ke garasi depan kos. Alasan yang masuk akal memang. Depan kos itu fungsinya emang udah berubah dari garasi menjadi tempat jemur pakaian. Bisa sih jemur baju di atas loteng, tapi kalo tahan ngerinya karena engga ada lampu di tangga menuju loteng. Satu lainnya pindah ke kost depan, dengan alasan dia pengen suasana yang baru karena lantai kamarnya memang sudah engga layak huni. Satu lainnya, malah pindah ke tetangga sebelah dengan alasan yang kurang lebih sama. Akhirnya, yang tersisa adalah saya. Penghuni terakhir yang tersisa.

Tadinya saya mau ikut-ikutan temen-temen saya. Pindah dengan macam-macam alasan yang bisa saya buat seperti juga mereka. Niat itu memuncak di saat ibu kost yang tinggalnya di Solo meneror saya dengan pertanyaan kenapa anak-anak kost ujug-ujug pada pindahan semua. Alasan mereka yang beragam itu, saya simpulkan dengan sedikit dibumbui protes mereka mengenai keadaan kost diluar kamar saya yang memang sedikit mengerikan. Saya pribadi sebenarnya engga ada masalah dengan kos, especially kamar saya. Kamar saya adalah ruangan yang paling tinggi luas diantara semua ruangan di rumah ini. Dengan harga yang sama dengan kamar teman-teman saya, saya termasuk beruntung mendapatkan kamar ini. Dengan barang yang begitu banyak, toh kamar ini masih punya space yang cukup kalo saya mau bergulingan sambil baca buku, hehehe. Itu adalah salah satu alasan yang membuat saya mengurungkan niat. Satu lagi yang membuat saya yakin saya sanggup mengatasi kesendirian ini adalah seorang sahabat bernama Reni, dia mengalami hal yang sama dengan kos-kosannya di Jakarta. Sendirian di rumah sebesar itu, saya belum tentu sanggup, tapi nyatanya dia memilih untuk tetap disana sampai sekarang.

Tapi akhir-akhir ini saya merasakan kesepian. Sering kali. Saya ingat dulu ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Setiap minggu adalah waktunya touring menjelajah tempat-tempat baru dijakarta. Cari barang-barang dengan harga miring berkualitas lumayan. Atau sekedar hunting perangkat yang bisa melengkapi kinerja notbuk saya. Tapi sekarang, teman-teman yang suka di ajak touring itu telah memiliki lebih banyak teman, dan saya, dengan jadwal waktu yang berbeda, hampir tidak pernah lagi mendapatkan kabar tentang mereka. Saya sedih.

ibnu1Keadaan tidak menjadi lebih buruk karena si mas tidak tinggal berjauhan lagi seperti dulu. Tapi untuk bertemu, kami sudah beruntung jika di akhir minggu saya engga masuk kantor, dan dia tidak turun ke lapangan karena ada masalah disana. Seperti hari ini, saya off dan menghabiskan hari di atas kasur dan sengaja bangun siang karena teman-teman kantor sedang liburan ke Bandung. Besok, waktunya masuk seperti hari biasa. Ingin sekali, dapat menghabiskan waktu seharian dengan si mas. Melakukan kegiatan yang santai, rundown pilem misalnya, atau sekedar mencoba masakah baru, atau ngeteh sambil ngobrol, atau apapun yang penting adalah kebersamaan kami yang saat ini sungguh sangat langka sekali dapat kami rasakan. Butuh kelegalan hukum dan agama, supaya kebersamaan kami tidak menimbulkan fitnah.

Dan saya masih harus menunggu dan bersabar, sementara masih sendiri dulu. Sampai suatu saat nanti akan tiba masanya.

25
Mar
09

kado terindah

090227usca_sm_rightsabtu malam, tanggal 21 maret 09. Hari pertama saya akan menjalani umur 25, quarter of century. Udah kebayang dalam benak saya nantinya, bakalan banyak pertanyaan penting ngga penting yang akan nyangkut di telinga saya bersamaan ketika ada orang yang menanyakan umur saya. Adegannya bakalan kayak gini nih.

Orang laen : na, udah umur berapa sekarang kamu?

Saya : *sambil malu-malu -bukan- kucing* emm, masih 25. Dalam hati saya berharap, semoga yang kedengaran di telinga orang itu adalah kalimat Masihnya, bukan angka 25-nya. Huh, tapi keknya saya salah.

Orang laen : wah, udah waktunya nikah tuh na. Bla.. bla..bla.. yadda yadda..

Yang kemudian adegan diakhiri dengan orang tersebut akan menceritakan tentang dirinya sendiri, kapan tepatnya dia nikah, udah punya anak sekian, de el el, de es be. Sebal! Siapa sih yang engga pengen segera mengakhiri status dari single menjadi tidak single? dan, saya sendiri juga engga pengen mengakhiri masa lajang karena norma tidak tertulis dimasyarakat yang sepertinya mengharuskan wanita berusia 25th keatas seharusnya sudah menikah. Sepertinya saya kudu buka E-booknya Lajang dan Menikah demi melihat contekan si alexa untuk berkelit dari pertanyaan serupa selama beberapa waktu kedepan. Sekedar mengisi amunisi buat ngadepin pertanyaan penting ngga penting begituan.

Ultah kali ini, engga bakalan saya lupakan. Bukan, bukan karena ada kejadian yang super duper menyenangkan seperti yang saya publish kemarin. Tapi justru di Ultah kali ini, kejadian engga enaknya banyak. Awal bulan, menjelang ultah, adek saya kecelakaan. Yang membuat saya, mau ngga mau ikutan terseret untuk sedikit banyak bertanggung jawab atas kejadian itu. Lalu puncaknya, adalah hari dimana saya memulai peralihan umur, si mas, not been there. Sekedar mengucap selamat seraya mengucap doa untuk saya pun enggak. Lebih parahnya lagi, ternyata dia lupa! Awalnya saya kira dia sengaja. Sudah beberapa kali saya protes, karena kadar keromantisan yang dia berikan kepada saya cenderung berkurang akhir-akhir ini. Tidak ada kejutan-kejutan kecil yang dulu jarang saya dapat, tapi sekarang malah tidak pernah sama sekali. Saya pikir (dan berharap sih…) dia sedang menyiapkan kejutan dengan pura-pura lupa. Tapi sialnya, dia lupa beneran bo’. Saya nunggu sms dia, mulai pulu 11 malam, sampai jam setengah tiga. Terlalu capek menunggu, saya pun tertidur. Swear, saya kecewa dengan dia.

23024400Pagi harinya, kebetulan hari sabtu. My free day. Saya ijin ama koordinator project, pengen me-time hari ini. Kekecewaan sama mas semalam, berusaha saya pendam dan tidak terlalu saya besar-besarkan. Meskipun tak urung bikin saya sedih juga. Begitu banyak ucapan dan doa datang dari teman-teman saya, baik melalui Mukabuku maupun sms. Semuanya mendoakan dan membuat saya merasa disayangi oleh mereka. Teman-teman yang lama sekali tidak bersentuhan dengan saya, hanya berkirim kabar seadanya, tapi justru mereka-lah yang engga pernah absen di hari saya ultah. Diantara kesemuanya itu, malahan dia, orang yang ngakunya cinta dan sayang kepada saya, melupakan hari lahir saya.

Hari itu, saya habiskan dengan mengunjungi lagi ibukota Jakarta. Lebih tepatnya menikmati lagi Busway dengan ke-crowded-an yang pasti akan kita dapatkan ketika menikmati transjakarta itu. Dan memutuskan untuk mengunjungi gramedia terbesar dan terlengkap di daerah ini. Sempat linglung juga sih, jalan sendirian tuh engga ada enaknya. Ngga ada yang diajak ngerumpi, mencela yang ngga penting dan ngebahas apapun mulai dari yang penting ampe yang ngga penting. Setiap sudut saya kunjungi, demi untuk nge-test ketertarikan saya saja. Ngeliat ada kartu ucapan yang bagus, kata-kata yang lucu, dan kepikiran untuk menghadiahi diri sendiri dengan kartu lucu ini, tapi begitu lihat harga yang ngga masuk akal untuk sebuah selembar kertas tebel bertuliskan kata-kata ajaib, kok sepertinya harganya ngga relevan dan terlalu fantastis. Saya urung menghadiahi diri saya kartu tersebut.

Akhirnya, setelah melewatkan beberapa waktu dengan sekedar jalan2 dan membuka-buka buku-buku mahal saya nemu buku yang sudah lama saya cari. Adalah buku terakhir dari trilogi Naga karangan Christoper Paolini : Brizingr ternyata udah ada di Gramed. Tapi saya hampir shock lihat harganya, 450 ribu bo’. Hampir setengah jeti sendiri. Gileee… mahal banget. Engga sanggup saya ngehabisin duit segitu, segila-gilanya saya sama bacaan. Saya lihat saja tuh buku, sambil ngiler dan dalam hati bertekad untuk ke malioboro jogja atau ke bandung, demi dapet buku dengan harga yang sedikit bersahabat. Perjalanan pencarian kado diri sendiri ini berakhir di buku-buku dari penulis lokal yang sedang berusaha mengembangkan diri melalui tulisan. Finally, pilihan saya jatuh ke buku dengan cover lucu dan judul lucu karangan penulis pertama, bukan nama-nama terkenal seperti Icha Rahmanti, Raditya Dika, Okke Sepatumerah dan lainnya. Saya pengen ngasih penulis baru ini kesempatan untuk menjadi penulis kesayangan saya. Dan, saya membeli kedua buku karangan Ika Natasha yang berjudul A Very Yummy Wedding dan Divortiare *salah ngga ya tulisannya… ;) *. Sangat aneh menurut saya, disaat sedang menurun-menurunnya minat saya sama yang namanya wedding and their friends, yang saya beli malahan buku yang bertema married and so on… trus, lebih anehnya lagi, buku yang saya beli, temanya bersebrangan.. hehehe… engga niat sih, tapi terlanjur tertarik ama covernya, jadi beli deh.

Udah bayar, saya mutusin untuk pulang. Sebelumnya, ganjel perut dulu, mampir D’Creeps beli minum ama makanan buat di jalan entar. Begitu udah naek di jembatan penyebrangan, tau-tau ada miskol dari nomernya si mas yang simpati. Damn! Saya ketahuan ganti nomer. Okay, saya emang kolokan. Ngambeknya ke mas juga agak engga kreatif, kesannya ngga niat banget getto. Dulu, saya punya dua nomer, yang dua-duanya keluaran Indosat. Karena yang terlanjur di publish adalah nomer yang raja murah, maka nomer yang Raja siang, engga dipake lagi. Nah, dalam rangka melancarkan acara ngambek saya ini, si Raja siang, saya pake lagi. Demi sekedar bisa buka mukabuku dan kirim-kirim sms ke selain nomer si mas. Nah, karena si mas udah miskol, saya udah kayak orang ke-gap gitu. Setengah mati saya nahan diri supaya bisa stay cool, dan engga meledak-ledak, marah-marah ngga jelas karena dia ‘hanya’ melupakan ultah saya.

mas : hun, lagi dimana? kok ganti nomer ga bilang-bilang?

Ya iyalah saya engga bilang ama kamu mas.. saya ini ngambek ceritanyaaaa….

saya : Lagi diJakarta, iya tadi baru aja.Kenapa mas?

See, saya nyoba lho… untuk bersikap dewasa menghadapi dia. Walopun tak urung hati saya sedih juga. Dia benar-benar lupa sepertinya…

Mas : Ketemuan yukk, aku kangen banget. Apa ketemuan di Jakarta aja ya? Besok renang ya, kayak minggu kemaren…

Saya : Na bakalan sibuk hari ini. Besok na masuk mas… Ketemunya minggu depan atau minggu depannya lagi aja.

Saya berusaha menghindari dia.

Mas : Yah, lama amat hun. Ketemu nanti aja yah…

Saya diem, engga ngebales lagi sms dari dia. Saya ngerasa engga sanggup lagi nerusin sandiwara ini.

Lalu masuk telp dari dia, saya udah didalam angkot. Otomatis saya engga bisa ngomong kenceng. Intinya saya bilang ama dia, jangan telp saya dulu, disamping saya enggan ngomong kenceng2, disisi laen, saya pasti engga bisa bohong ama dia kalo saya sedang agresi mulut ama dia.

23453781Nyampe di kost, dia telp lagi. Dia pikir saya masih di Jakarta. Lama-lama kesel juga, ngomong ama orang yang engga ngeh juga ama keadaan kita. Saya sebel bukan main, sembari mikir, apa iya sih perasaan cowok setumpul ini? Sudah sekian tahun, masa’ sedikit pun dia tidak menangkap bahwa ada yang engga beres dengan diri saya?

Mungkin memang iya, toh nyatanya sampe pembicaraan yang sengaja saya buat boring pun, dia tetep aja keukeuh engga tanggep ama maksud saya. Iya, saya tau, engga semua cowok kek Deddy Cobuzier yang pinter baca pikiran orang. But in this things, saya pengen dia inget. Sampe akhirnya saya senewen dan bilang, “Mas, kamu inget ngga hari ini tanggal berapa” dan seketika itu juga, hening sesaat kemudian terdengar “astagfirullah….then, I shout down his call at that moment.

Saya kesel banget. Dan ampe hampir jam 8 malem pun kesel saya belum juga ilang. Sulit banget buat saya bisa berpikiran positip untuk si mas kala itu. Dia bilang dia cinta dan sayang saya, nyatanya hari ultah saya aja dia engga inget.

Sampe pukul 8 lebih dikit. Ada ketukan di pintu depan. Saya mendengar suaranya. Dia datang, dari Jakarta ke sini, just to ask apologize. Awalnya, saya masih menjadi diri saya yang angkuh dan enggan menerima kata maaf. Tapi siapa coba yang tahan dengan tatapan mata itu. Saya tau, dia tulus meminta maaf kepada saya. Saya tau, bahwa saya engga berhak menvonis dia dengan hukuman terlalu berat, melupakan semua apa yang telah kami lalui hanya dengan satu kesalahan yang pastinya engga dia sengaja. Toh nyatanya ketika dia menanyakan apakah saya masih berniat untuk melanjutkan perjalanan kami, saya engga sanggup bilang ENGGAK. Iya, saat itu juga saya sadar. Rasa sayang saya, ternyata jauh lebih besar dari kemarahan dalam diri saya.

Malam itu, kami nekat ke Jakarta. Kado dari dia adalah mewujudkan mimpi saya jalan-jalan di Jakarta malam hari. Engga terlalu diniatin sih, tapi karena cisangkuy di kota wisata udah tutup maka kami pun melanjutkan perjalanan ampe ke Senayan. Perjalanan malam itu berakhir pukul 03.00 tanggal 22 Maret 09. Yang menjadi lebih indah adalah ketika dia bilang bahwa bapak, mba mung dan mba evi, mereka mengamini niat kami untuk nikah tahun ini. Itu adalah kado terindah sepanjang ulang tahun saya.

26
Feb
09

menuju pernikahan

23028294Ternyata memang tidak mudah ya, merancang dan merencanakan pernikahan. Padahal, dalam otak kami, saya dan mas, sudah mendesain bahwa tidak akan ada acara yang aneh-aneh dalam pernikahan kami kelak. Simple saja, dan untuk kalangan terbatas.

Semalam, si mas nyamper saya ke kos. Rencananya sih malam ini saya pengen belanja bulanan. Tapi udah terlanjur malam, saya ngga jadi pergi. Kami ngobrol saja didepan kos. Berawal dari obrolan singkat seputar pekerjaan, akhirnya nyampe juga ke rencana pernikahan. Membahas tentang tempat pernikahan, ternyata nggak semudah yang saya kira. Si mas, adalah putera daerah Banyumas, tepatnya Banjarnegara. Letaknya kurang lebih 6 jam ke arah barat dari kota Solo. Saya, asli Jawa Timur. Tepatnya Sidoarjo, yang lebih dikenal dengan kota sejuta lumpur, hehehe. Kurang lebih 7 jam dari Solo. Maka total perjalanan yang harus ditempuh bapaknya si mas dan rombongan, jika acara menikah di gelar di rumah saya adalah sekitar 13 jam perjalanan. Wuihhh… lumayan lama juga ya? Saya ngga sampe hati jika bapak harus menempuh perjalanan selama itu. Belum lagi saya harus menyiapkan tempat singgah, setidaknya untuk beliau dan rombongan istirahat. Perjalanan 13 jam akan sangat memakan tenaga. Nah, ini juga ngga bias dibayangkan menyewa satu kamar, karena yang namanya rombongan, buat keluarga besar si mas, minimal adalah 4 mobil mini van, yang artinya, jika satu mobil muat untuk 10 orang, maka yang akan menemani perjalanan bapak nantinya adalah sekitar 40 orang, more and less.

Itu artinya, simple dalam bayangan saya udah ngga masuk tuh. Belum lagi teman-teman SMA saya, pasti saya kasih woro-woro, ngga mungkin kan kalo enggak ada kabar menikah sama sekali, trus ujug-ujug* bunting. Teman saya SMA, paling apes, yang datang adalah sekitar 20 orang, 40 kalo masing-masing membawa pasangan. Belum lagi temen Ajusta, anak kampus di Solo, temen D3 si mas, orang-orang di kantor saya dan kantor si mas, temen pengajian mama, sodara2 dari pihak papa dan mama saya, tetangga rumah. Waduh… kalo segitu banyak maka total undangan kami adalah bisa nyampe sekitar 200 orang. Walah. Banyak amat, rame tenan.

Lha, kok jadi membengkak gitu ya mas undangannya?”
Iya ya?, apa ngga usah nyebar undangan nduk?
Lha? Sms gitu maksudnya?”. Saya suka keingetan temen-temen saya, entah yang kenal karena deket, atau kebetulan satu kelas pas jaman SMP, jaman SMA, temen kuliah. Suka tiba2 ngirim sms beruntun, ngasih kabar bahwa tanggal segini, jam segitu, di tempat sono, dia dan calon istrinya akan menikah. Ngga jelas banget pula ngirim sms-nya, ngasih tau nama gedungnya, tapi ngga ada alamatnya. Sengaja banget di mepet-mepetin biar pas satu sms. Di satu sisi, mungkin niatnya baik, hanya memberitahukan saja bahwa dia akan mengadakan acara pernikahan, which is itu adalah berita yang bagus. Sengaja ngga jelas, karena ngga mau ngerepotin teman-temannya untuk terpaksa menghadiri acara tersebut karena udah dapet undangan resmi. Tapi disisi lain, seperti ngga menghargai temannya karena ngga ada undangan resmi yang mampir ke depan mata.
Resikonya, kalo nyebar undangan adalah harus menyiapkan tempat ama makanan, apalagi kalo acaranya di Sidoarjo, lumayan jauh kalo dari Solo, dari Bogor. Mungkin nggak mereka pada datang?” Tanya mas lagi.
Saya jadi mikir, “iya yah, waktu temen2 saya nikah saja, saya ngga pernah menjanjikan kepada mereka akan datang secara eksklusif. Karena memang saya bekerja di tempat yang jauh, jadi, rata-rata mereka memang sudah mengerti kondisinya. Biasanya saya datang pas selesai acara, ngga pake lama, ngasih kenang-kenangan aja, ketemu temen saya dan pasangannya. Beres dah.”
Huh, ribet ya say, ini sebenarnya acara kita apa acara orang-orang sih?” kata saya akhirnya.
Iya, dipikir besok-besok aja kali ya hun?” kata si mas.

24844928Masalah dimana kami tinggal setelah menikah saja, masih belum bisa kami putuskan. Petualangan rumah yang sudah sempat kami lakukan, membawa kami ke titik buntu menyandung ke masalah uang muka yang rata-rata jumlahnya jauh di atas budget kami saat ini. Ada yang sesuai pun, letak dan lingkungannya saya kurang suka. Belum lagi kalo mikir status mas yang belum jelas penempatannya dimana. Membuat kompleksitas yang harus kami hadapi demikian kerasa.

Memang tidak mudah, memang tidak sesimple yang saya inginkan. Bohong aja kalo orang bilang nikah tinggal nikah, tinggal ke KUA saja dan panggil penghulu. Beres. Semudah-mudahnya setidaknya saya dan mas harus memikirkan juga perasaan keluarga kami nantinya. Mama saya dan bapaknya si mas, untungnya bukan orang-orang yang suka dengan hal yang ribet. Sama seperti saya, yang masih ngeyel ngga mau pake panggung buat nikah entar. Jikalau terpaksa harus ngadain acara, maunya saya, saya bisa jalan-jalan santai nemuin temen2 saya yang datang, dengan hiasan yang enggak ribet dan seadanya. Acara makan prasmanan biasa, dengan mc yang kocak, bikin acara yang menghibur dan acara nikahan yang memang lain dari yang lain.

Masih berusaha…

Still Try, Still Pray…




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Mei    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Posts & Halaman

    pages

    permatasakti’s


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.