Sebelumnya engga pernah menyangka akan merasa seperti ini. Terlebih ketika dia mengajukan permintaan menikah tepat pada perayaan 5 tahun masa perkenalan slash pacaran kami . Jika ada pertanyaan mengapa saya ingin segera menikah dengannya adalah karena satu hal, saya ingin ditemani. Entah mengapa, terasa lelah berjalan sendirian diantara semakin banyaknya masalah yang muncul di hadapan saya, berjalan beriringan dengan semakin bertambahnya umur.
Iya, alasan saya menikah selain tentu saja karena saya mencintai dia, tapi satu yang membuat saya merasa harus mensegerakan adalah karena saya lelah selalu sendirian. Terlebih semakin kesini, teman-teman yang senantiasa dapat diandalkan setidaknya untuk menghabiskan weekend, sekarang lebih memilih untuk sibuk sendiri-sendiri. Jangankan menyempatkan diri berburu barang-barang murah di daerah senen, ataupun glodok. Sekedar rujakan di kos saya saja sepertinya mereka tidak sempat lagi.
Hmmm.. iya, saya merasa sangat kesepian. Terlebih ketika pada usia produktif seperti ini saya semakin disibukkan dengan rutinitas kantor yang jamnya semakin lama semakin ngga menentu. Saya justru merasa dunia saya semakin sempit, dan di dunia sempit itu saya sendirian. Hmmmh… sedih sekali jka teringat waktu-waktu itu. Sampai saya tersadar bahwa walo bagaimanapun mencoba untuk tidak sampai ke titik ini -baca : kesadaran menikah- pada akhirnya semua manusia sesuai dengan fitrahnya, akan tergiring dengan sendirinya menuju ke fase ini. Semuanya memang seperti ada yang mengatur, bahwa saya tidak akan selamanya di temani oleh teman-teman saya yang mereka pun pada akhirnya akan menentukan jalan sendiri-sendiri yang kemungkinan berbeda dengan jalan yang saya ambil. Maka, demi menghilangkan perasaan kesendirian di dunia saya yang semakin lama semakin mengecil ini, mau tidak mau, saya harus memilih -dan membidik- salah satu teman saya untuk dijadikan teman seumur hidup, menemani saya sampai rambut menguban dan memutih (insyaalloh).
Niat yang sudah kian membulat itu rupanya engga begitu aja mulus. Bener kata orang, menuju pernikahan itu biasanya cobaan beragam, klo dalam bahasanya iqa (seorang teman dari Bandung) karena kalo menikah, semua ibadah nilainya berlipat ganda, jadi setan engga mau pahala kita bertambah demikian cepatnya sehingga berusaha untuk menghalangi pernikahan tersebut. Hmmm… masuk akal sih, but in my opinion, semua cobaan pada dasarnya untuk menaikkan level seseorang, dan apakah pahala menjadi berlipat karena pernikahan, wallohu a’lam, saya engga mau berurusan matematika dengan Alloh, itu hak Dia sebagai maha segala dari apa yang ada didunia ini.
Dan finally, hari itu, minggu 2 Agustus 2009, saya pun menjadi muhrimnya.Laki-laki yang saya coba mengenal selama kurun waktu duatahun perkenalan, dan lima tahun pacaran. Bismillah, semoga saya memilih lelaki yang tepat, untuk diri saya dan anak-anak saya kelak. Amien.
Saya tidak menyangka, bahwa sebuah pernikahan akan merubah apa yang telah menjadi idealisme saya dalam memandang sebuah profesi atau posisi. Profesi dalam hal ini adalah pekerjaan yang berkaitan dengan sebuah instansi tertentu, ada hitam di atas putihnya, perjanjian antara manusia dan manusia. Tadinya, laki-laki itu mengenal saya sebagai sosok yang pantang menyerah dengan semua cita-cita tingginya. Seseorang yang percaya dengan quote-nya Andrea Hirata “bermimpilah setinggi langit dan Tuhan akan memeluk mimpimu itu”.
Saya masih Na yang itu. Yang ingin mimpinya di peluk Tuhan. Tapi yang pasti saya bukan lagi Na yang dulu. Begitu terobsesi untuk selalu menjadi nomor satu dan menjadi dragon lady, wanita dengan karier cemerlang. Dikelilingi fasilitas nomor satu dan dengan segala kemudahan dalam hidup. Saya sempat ingin menjadi seseorang yang mengejar itu semua. Semua semata-mata karena saya kira nilai kebahagiaan terletak pada itu semua, jika semua hal yang menyangkut hidup ini menjadi demikian mudah dan indah, bagaimana mungkin hidup tidak bahagia?
That’s my stupid thought. Dan saya menyadari kebodohan itu tepat ketika saya mengalami masa-masa dimana ternyata mengejar apa yang saya kira benar itu sungguh melelahkan. Terlalu banyak effort yang harus dikeluarkan untuk sesuatu yang saya belum yakin bahwa semua itu akan membuat saya bahagia. Effort yang saya yakin tidak akan seimbang dengan hasilnya apabila yang harus saya korbankan adalah waktu-waktu singkat saya bersama keluarga dan orang-orang yang saya sayangi. Pada titik tertentu, saya menyadari bahwa ternyata saya ngga seambisius itu, bahwa untuk menjadi bahagia tanpa kehilangan mimpi saya yang sebenarnya ternyata ngga harus se-ngoyo itu.
Then, I became who I am right now. Masih saya yang ingin terus bermimpi ingin menjadi dosen, karena dengan profesi itu saya punya banyak tabungan akherat dengan meninggalkan banyak ilmu yang berguna. Menuju itu, terlebih dahulu saya harus kuliah S2 (dosen S1 sekarang udah jarang boww) dan kesanalah panah impian saya saat ini saya tancapkan. Saya, masih orang itu yang memiliki mimpi berjenjang. Yang tidak lagi menganggap enteng tentang motherhood *ampuni saya para ibu-ibu didunia*, bahkan mulai menyadari bahwa justru dari rumahlah kunci semua ke kesuksesan yang di dapat di luaran sana. Dari rumahlah kebahagiaan itu dibangun, dan ditangan ibulah kunci diletakkan. Ngga mudah memang, tapi mungkin memang itulah alasan kenapa surga berada di bawah telapak kaki ibu.


Dia itu, lelaki kedua yang menempati tempat sekian lama diruang hati saya. Demikian juga saya dihatinya. Lelaki pertama? jangan tanya siapa. Meskipun waktu itu saya masih SMA, tapi untuknya, saya beri hati yang utuh dan berusaha menjaga meskipun terpisah karena saya harus kuliah di kota yang berbeda. Meski begitu, toh saya tidak lantas men-single-kan diri dan mencari yang lebih baik dari dia. Saya akui, karena memang waktu itu (tahun 2002) hape dan alat komunikasi lainnya masih jarang dan engga sepopuler saat ini, toh demi dia saya berusaha setidaknya pulkam sebulan sekali demi menjaga yang tadinya saya minta untuk dihentikan saja. Tapi dia? tidak sekalipun dia melihat keadaan saya di kota tempat saya belajar. Sudah saya minta dari awalnya, sebaiknya saya dan dia menghentikan apa yang baru saja kami mulai saat itu, mumpung saya belum terlalu sayang, mumpung saya masih bisa mem-back flash posisi dia menjadi teman saya kembali, bukan pacar. Tapi dia enggan.
Iya, saya akui. Semakin kesini, sepertinya saya semakin kolokan ngadepin dia. Dia, tetap berusaha memperlakukan saya selayaknya wanita dewasa. Okelah, kadang kalo logika saya lagi jalan, saya juga mampu diajak mikir logis en dewasa, tapi jujur, menghadapi dia, saya lebih suka mengeluarkan sisi manja -dan kolokan- saya. Hehehe…
sabtu malam, tanggal 21 maret 09. Hari pertama saya akan menjalani umur 25, quarter of century. Udah kebayang dalam benak saya nantinya, bakalan banyak pertanyaan penting ngga penting yang akan nyangkut di telinga saya bersamaan ketika ada orang yang menanyakan umur saya. Adegannya bakalan kayak gini nih.
Pagi harinya, kebetulan hari sabtu. My free day. Saya ijin ama koordinator project, pengen me-time hari ini. Kekecewaan sama mas semalam, berusaha saya pendam dan tidak terlalu saya besar-besarkan. Meskipun tak urung bikin saya sedih juga. Begitu banyak ucapan dan doa datang dari teman-teman saya, baik melalui Mukabuku maupun sms. Semuanya mendoakan dan membuat saya merasa disayangi oleh mereka. Teman-teman yang lama sekali tidak bersentuhan dengan saya, hanya berkirim kabar seadanya, tapi justru mereka-lah yang engga pernah absen di hari saya ultah. Diantara kesemuanya itu, malahan dia, orang yang ngakunya cinta dan sayang kepada saya, melupakan hari lahir saya.
Nyampe di kost, dia telp lagi. Dia pikir saya masih di Jakarta. Lama-lama kesel juga, ngomong ama orang yang engga ngeh juga ama keadaan kita. Saya sebel bukan main, sembari mikir, apa iya sih perasaan cowok setumpul ini? Sudah sekian tahun, masa’ sedikit pun dia tidak menangkap bahwa ada yang engga beres dengan diri saya?
hari ini, hari terakhir saya berumur 24 th. Waktu saya untuk bertambah secara angka (tapi berkurang secara kesempatan hidup didunia) sudah memasuki hitungan mundur. Tadi pagi,begitu bangun, saya sudah engga se-excited biasanya dalam menanggapi bertambahnya umur saya ini. Salah satu sebabnya sih karena kesadaran berkurangnya kesempatan saya hidup seperti yang barusan saya tuliskan. Saya tiba-tiba jadi pengen flash back ke hari dimana saya ulang tahun pada tahun-tahun sebelumnya. Engga banyak sih unforgettable moment yang bisa saya ceritakan berkenaan dengan ulang tahun, karena biasanya saya melaluinya dengan rutinitas biasa saja.
Jadi jawaban SJP saat ditanya teman-temannya hanyalah Tersenyum dan bilang “keputusan yang memang harus diambil oleh dua orang dewasa yang ingin melanjutkan hidup bersama-sama” itu saja! Terus terang, saya terkejut. Tapi dari sini, saya mendapatkan bentuk lain cinta yang dipandang dari garis logika. Meskipun akhirnya cerita mereka ngga berjalan lancar karena Mr. Big yang ngerasa terlalu banyak kepentingan yang masuk dalam acara pernikahan dia dan SJP, secara ini adalah kali kedua dia menikah, akhirnya acara pernikahan gagal karena SJP terlanjur kecewa karena Mr.Big ngga datang tepat pada acara pernikahan -datang sih, tapi terus balik lagi- mereka.
Hmm.. mungkin ini adalah tulisan teraneh yang pernah saya entri. Mungkin orang2 akan berkomentar klo saya kurang kerjaan -ngga, bener kok, kerjaan saya bejibun…selain mencetin jerawat jahannam ini tentunya- dan saya akan merasa beruntung ketika ada yang baca entrian ini dan dia -sipembaca itu- menulisakan komen klo dia terinspirasi ama 
comments