Arsip untuk Kategori 'Gw-me-my self'

30
Sep
09

-newly- passionate

85699,1177778634,1Sebelumnya engga pernah menyangka akan merasa seperti ini. Terlebih ketika dia mengajukan permintaan menikah tepat pada perayaan 5 tahun masa perkenalan slash pacaran kami . Jika ada pertanyaan mengapa saya ingin segera menikah dengannya adalah karena satu hal, saya ingin ditemani. Entah mengapa, terasa lelah berjalan sendirian diantara semakin banyaknya masalah yang muncul di hadapan saya, berjalan beriringan dengan semakin bertambahnya umur.

Iya, alasan saya menikah selain tentu saja karena saya mencintai dia, tapi satu yang membuat saya merasa harus mensegerakan adalah karena saya lelah selalu sendirian. Terlebih semakin kesini, teman-teman yang senantiasa dapat diandalkan setidaknya untuk menghabiskan weekend, sekarang lebih memilih untuk sibuk sendiri-sendiri. Jangankan menyempatkan diri berburu barang-barang murah di daerah senen, ataupun glodok. Sekedar rujakan di kos saya saja sepertinya mereka tidak sempat lagi.

Hmmm.. iya, saya merasa sangat kesepian. Terlebih ketika pada usia produktif seperti ini saya semakin disibukkan dengan rutinitas kantor yang jamnya semakin lama semakin ngga menentu. Saya justru merasa dunia saya semakin sempit, dan di dunia sempit itu saya sendirian. Hmmmh… sedih sekali jka teringat waktu-waktu itu. Sampai saya tersadar bahwa walo bagaimanapun mencoba untuk tidak sampai ke titik ini -baca : kesadaran menikah- pada akhirnya semua manusia sesuai dengan fitrahnya, akan tergiring dengan sendirinya menuju ke fase ini. Semuanya memang seperti ada yang mengatur, bahwa saya tidak akan selamanya di temani oleh teman-teman saya yang mereka pun pada akhirnya akan menentukan jalan sendiri-sendiri yang kemungkinan berbeda dengan jalan yang saya ambil. Maka, demi menghilangkan perasaan kesendirian di dunia saya yang semakin lama semakin mengecil ini, mau tidak mau, saya harus memilih -dan membidik- salah satu teman saya untuk dijadikan teman seumur hidup, menemani saya sampai rambut menguban dan memutih (insyaalloh).

Niat yang sudah kian membulat itu rupanya engga begitu aja mulus. Bener kata orang, menuju pernikahan itu biasanya cobaan beragam, klo dalam bahasanya iqa (seorang teman dari Bandung) karena kalo menikah, semua ibadah nilainya berlipat ganda, jadi setan engga mau pahala kita bertambah demikian cepatnya sehingga berusaha untuk menghalangi pernikahan tersebut. Hmmm… masuk akal sih, but in my opinion, semua cobaan pada dasarnya untuk menaikkan level seseorang, dan apakah pahala menjadi berlipat karena pernikahan, wallohu a’lam, saya engga mau berurusan matematika dengan Alloh, itu hak Dia sebagai maha segala dari apa yang ada didunia ini.

Dan finally, hari itu, minggu 2 Agustus 2009,  saya pun menjadi muhrimnya.Laki-laki yang saya coba mengenal selama kurun waktu duatahun perkenalan, dan lima tahun pacaran. Bismillah, semoga saya memilih lelaki yang tepat, untuk diri saya dan anak-anak saya kelak. Amien.

Saya tidak menyangka, bahwa sebuah pernikahan akan merubah apa yang telah menjadi idealisme saya dalam memandang sebuah profesi atau posisi. Profesi dalam hal ini adalah pekerjaan yang berkaitan dengan sebuah instansi tertentu, ada hitam di atas putihnya, perjanjian antara manusia dan manusia. Tadinya, laki-laki itu mengenal saya sebagai sosok yang pantang menyerah dengan semua cita-cita tingginya. Seseorang yang percaya dengan quote-nya Andrea Hirata “bermimpilah setinggi langit dan Tuhan akan memeluk mimpimu itu”.

Saya masih Na yang itu. Yang ingin mimpinya di peluk Tuhan. Tapi yang pasti saya bukan lagi Na yang dulu. Begitu terobsesi untuk selalu menjadi nomor satu dan menjadi dragon lady, wanita dengan karier cemerlang. Dikelilingi fasilitas nomor satu dan dengan segala kemudahan dalam hidup. Saya sempat ingin menjadi seseorang yang mengejar itu semua. Semua semata-mata karena saya kira nilai kebahagiaan terletak pada itu semua, jika semua hal yang menyangkut hidup ini menjadi demikian mudah dan indah, bagaimana mungkin hidup tidak bahagia?

That’s my stupid thought. Dan saya menyadari kebodohan itu tepat ketika saya mengalami masa-masa dimana ternyata mengejar apa yang saya kira benar itu sungguh melelahkan. Terlalu banyak effort yang harus dikeluarkan untuk sesuatu yang saya belum yakin bahwa semua itu akan membuat saya bahagia. Effort yang saya yakin tidak akan seimbang dengan hasilnya apabila yang harus saya korbankan adalah waktu-waktu singkat saya bersama keluarga dan orang-orang yang saya sayangi. Pada titik tertentu, saya menyadari bahwa ternyata saya ngga seambisius itu, bahwa untuk menjadi bahagia tanpa kehilangan mimpi saya yang sebenarnya ternyata ngga harus se-ngoyo itu.

Then, I became who I am right now. Masih saya yang ingin terus bermimpi ingin menjadi dosen, karena dengan profesi itu saya punya banyak tabungan akherat dengan meninggalkan banyak ilmu yang berguna. Menuju itu, terlebih dahulu saya harus kuliah S2 (dosen S1 sekarang udah jarang boww) dan kesanalah panah impian saya saat ini saya tancapkan. Saya, masih orang itu yang memiliki mimpi berjenjang. Yang tidak lagi menganggap enteng tentang motherhood *ampuni saya para ibu-ibu didunia*, bahkan mulai menyadari bahwa justru dari rumahlah kunci semua ke kesuksesan yang di dapat di luaran sana. Dari rumahlah kebahagiaan itu dibangun, dan ditangan ibulah kunci diletakkan. Ngga mudah memang, tapi mungkin memang itulah alasan kenapa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

10
Apr
09

missing Solo

entik dan njawani...

entik dan njawani...

Saya cinta banget ama kota itu. Entah karena apa. Suasana malamnya mungkin, atau hanya orang-orangnya.
Saya ngga punya satupun sodara kandung disana. Yang ada hanya sodara dari mantan istri pertama papa saya. Bukan sodara sih menurut saya. Kenalan lama saja. Toh saya kenal baik dengan mereka ketika saya masih kecil banget. Sekarang? hmmm… lagipula jarang sekali saya mengunjungi mereka. Bukan keharusan menurut saya.
Tapi saya memang menyukai Solo, dan senang berada disana. Seperti selalu memanggil-manggil saya untuk pulang, padahal Solo is not really my hometown.
Kota yang menawarkan ke-apa adanya-an. Semua orang dari setiap sudut, mengenal satu dengan yang lain, dan tidak kuatir untuk menjadi asing.
Dulu, saya memang menolak keberadaan saya disana. Awalnya, saya menyesal menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan study di kota dengan kultur yang sangat berbeda dengan tempat saya.
Saya yang begitu meng-idolakan Surabaya sebagai tanah kelahiran saya, meskipun tidak besar disana.
Tapi semua itu berangsur berubah. Begitu saya kemudian membuka diri, menyatakan kepada diri saya bahwa saya akan memberikan kesempatan kepada kota ini untuk saya cintai.
Dan hasilnya, saya justru lebih mencintai kota Solo daripada tanah kelahiran saya sendiri.

Yang khas buat saya dari sebuah Solo, adalah dimana waktu disana berjalan dengan lambat. Bukan dalam artian yang sebenarnya sih, toh dimanapun kita, itungan sehari ya pastinya 24 jam.

hiasan burung-burungan dari kertas, perlambang harapan

hiasan burung-burungan dari kertas, perlambang harapan

Hanya saja, ketika disana, saya ngga perlu terburu-buru dalam melakukan aktivitas. Karena semua orang juga bergerak dengan kecepatan yang standar. Engga bakalan ada tuh motor yang dikendarai dengan kecepatan tinggi dilajukan dengan gerakan menyilang silang membahayakan pengendara lainnya. Semuanya melaju dengan kecepatan yang manusiawi. Selisih beberapa menit tetapi mengorbankan nyawa sendiri dan orang lain. Apalagi kalau kaki ini sudah melangkah memasuki kampus hijau. Suasana kampus yang sangat green, menambah kesejukan penghuninya. Kultur jawa yang adem ayem, membuat nyaman penduduknya.

Kalo inget kos-an saya apalagi. Meskipun letaknya nyaris berdekatan dengan kuburan cina *temen saya suka bilang giniati-ati loh na, kalo tiba-tiba malem2 ada orang jualan sate lewat didepan kamarmupadahal kamar saya dilante 2, artinyaaa…???* tapi tetep saja, tanpa menghiraukan kuburan cina yang ada di bawah kamar, saya tetp ngerasa nyaman dikamar itu. Apalagi klo temen-temen udah pada nongkrong di kamar saya yang suka dijadikan basecamp.

Engga begitu saja saya mencintai Solo. Prosesnya panjang. Tapi toh saya menjalani proses itu, dan hasilnya, sekarang saya malahan sangat mencintai kota itu. Tempat dimana saya merasa didewasakan, baik oleh kota itu, baik oleh penduduknya, baik oleh keadaan selama saya disana, oleh semua yang saya dapatkan disana.

Hmmm… saya kangen ama solo-banget!

10
Apr
09

-sang kekasih-

249017721Dia itu, lelaki kedua yang menempati tempat sekian lama diruang hati saya. Demikian juga saya dihatinya. Lelaki pertama? jangan tanya siapa. Meskipun waktu itu saya masih SMA, tapi untuknya, saya beri hati yang utuh dan berusaha menjaga meskipun terpisah karena saya harus kuliah di kota yang berbeda. Meski begitu, toh saya tidak lantas men-single-kan diri dan mencari yang lebih baik dari dia. Saya akui, karena memang waktu itu (tahun 2002) hape dan alat komunikasi lainnya masih jarang dan engga sepopuler saat ini, toh demi dia saya berusaha setidaknya pulkam sebulan sekali demi menjaga yang tadinya saya minta untuk dihentikan saja. Tapi dia? tidak sekalipun dia melihat keadaan saya di kota tempat saya belajar. Sudah saya minta dari awalnya, sebaiknya saya dan dia menghentikan apa yang baru saja kami mulai saat itu, mumpung saya belum terlalu sayang, mumpung saya masih bisa mem-back flash posisi dia menjadi teman saya kembali, bukan pacar. Tapi dia enggan.

Saya kira itu komitmen, entahlah… toh saya juga masih terlalu muda untuk mengenal komitmen saat itu. Tapi setidaknya saya tetap mencoba. Sampai saat itu, ketika komunikasi mulai membaik diantara kami (thn 2004, saya mulai punya yang namanya hape) sebuah teror masuk ke kotak inbox saya. Lebih dari itu, banyak miscall, dan telpon engga penting mengganggu saya dan menyebut namanya. Seorang cewek mengaku sebagai kekasihnya, membuat saya terhenyak dari posisi sebagai orang yang penting dihatinya. Sungguh, saat itu, saya kira saya sudah berusaha menyelesaikan masalah itu dengan cara yang saya anggap dewasa. Menanyakan kepada dirinya tentang cewek itu, sungguh, saya berusaha untuk mempertahankan apa yang saya kira penting. Tapi dia, tak sekalipun menanggapi pertanyaan saya, dan tidak sedikitpun dia berusaha memenangkan hati saya. Saat itu pula saya sadar, hubungan tidak sehat ini sudah terlalu lama, dan dia… pun tidak menggapai saya ketika saya meninggalkannya.

Yang membuat sakit, dan perih dan enggan untuk memulai lagi adalah perasaaan dihina dan dicampakkan. Saya menjadi demikian pendendam dan merasa diabaikan olehnya. Tidak nampak semua cerita pertama kali tangan saya digenggam oleh laki-laki, tidak nampak oleh saya, saat mendebarkan yang saya tunggu ketika bertemu dengannya, tidak nampak itu semua. Saya terkadung sakit. Dan itu tak termaafkan sampai tahun kedua setelah kami berpisah.

Tapi saya beruntung, oleh lelaki kedua ini, saya diajari banyak hal. Bersama dia, saya merasa banyak berubah dan sepertinya menuju perubahan yang lebih baik. Bukan sengaja saya mencari kekasih lainnya sehingga bertemu dengan lelaki kedua ini. Bagi saya, awalnya dia adalah sosok yang menyenangkan untuk berbagi cerita, mimpi, kisah, harapan dan semua uneg-uneg yang mengganjal hati. Sampai akhirnya kebutuhan akan dirinya menjadi tidak tertahankan karena kerapuhan saya akibat sakit hati. Dan dia, menggengam tangan saya, menggantikan lelaki yang pertama, dengan cara yang berbeda.

Dan cerita kami pun, dimulai pada tahun yang sama, dengan cara yang sederhana dan apa adanya. Toh sebelumnya saya memposisikan diri sebagai seorang adik untuknya. Dan dia, bagi saya adalah seorang kakak laki-laki yang tidak pernah saya punya. Bersamanya, meskipun komitmen itu tidak terucap dengan lantang, toh kami menyadari posisi kami di hati masing-masing. Perjalanan kami pun tidak selalu mulus dan lancar, beberapa kali kami terpaksa harus berpisah karena jalan menuju mimpi ternyata berbelok menuju arah yang berlawanan. Tapi toh kami tidak menyerah, dia sebenarnya. Dia yang tidak pernah menyerah meyakinkan saya bahwa masih banyak yang bisa kami lalui bersama. Dia yang selalu berusaha ada untuk saya dan mengerti mimpi saya, mengajarkan kepada saya apa itu komitmen, apa itu hubungan dan apa itu rasa saling.

Sampai kemarin malam, rasa sayang yang dia perlihatkan kepada saya tidak berubah. Malah semakin kentara. Betapa dia menjadi sosok yang demikian mudah terpengaruh dengan suasana hati saya. Kalo saya lagi seneng, dia bisa dua kali lebih seneng, kalo saya lagi bete -apalagi klo betenya gara2 dia- dia bisa dua tiga kali lebih sedih karena saya suka mengadakan gencatan senjata, engga sms, engga nelpon, engga mau bales sms, engga mau angat telpon.

250152571Iya, saya akui. Semakin kesini, sepertinya saya semakin kolokan ngadepin dia. Dia, tetap berusaha memperlakukan saya selayaknya wanita dewasa. Okelah, kadang kalo logika saya lagi jalan, saya juga mampu diajak mikir logis en dewasa, tapi jujur, menghadapi dia, saya lebih suka mengeluarkan sisi manja -dan kolokan- saya. Hehehe…

Beberapa bulan terakhir ini, rasa diantara kami seperti diuji. Saya yang menguji, kadang juga keadaan yang menguji. Entah untuk menaikkan ‘kelas’ kami atau justru mendewasakan pemikiran kami tentang suatu hubungan itu sendiri. Entahlah. Yang jelas, meskipun sampai detik ini, masih banyak diantara kami yang harus kami temukan titik temunya, dia, meskipun adalah lelaki kedua yang menempati ruang hari saya, tapi dialah saat ini pemilik hati saya sepenuhnya.

-naj-

25
Mar
09

kado terindah

090227usca_sm_rightsabtu malam, tanggal 21 maret 09. Hari pertama saya akan menjalani umur 25, quarter of century. Udah kebayang dalam benak saya nantinya, bakalan banyak pertanyaan penting ngga penting yang akan nyangkut di telinga saya bersamaan ketika ada orang yang menanyakan umur saya. Adegannya bakalan kayak gini nih.

Orang laen : na, udah umur berapa sekarang kamu?

Saya : *sambil malu-malu -bukan- kucing* emm, masih 25. Dalam hati saya berharap, semoga yang kedengaran di telinga orang itu adalah kalimat Masihnya, bukan angka 25-nya. Huh, tapi keknya saya salah.

Orang laen : wah, udah waktunya nikah tuh na. Bla.. bla..bla.. yadda yadda..

Yang kemudian adegan diakhiri dengan orang tersebut akan menceritakan tentang dirinya sendiri, kapan tepatnya dia nikah, udah punya anak sekian, de el el, de es be. Sebal! Siapa sih yang engga pengen segera mengakhiri status dari single menjadi tidak single? dan, saya sendiri juga engga pengen mengakhiri masa lajang karena norma tidak tertulis dimasyarakat yang sepertinya mengharuskan wanita berusia 25th keatas seharusnya sudah menikah. Sepertinya saya kudu buka E-booknya Lajang dan Menikah demi melihat contekan si alexa untuk berkelit dari pertanyaan serupa selama beberapa waktu kedepan. Sekedar mengisi amunisi buat ngadepin pertanyaan penting ngga penting begituan.

Ultah kali ini, engga bakalan saya lupakan. Bukan, bukan karena ada kejadian yang super duper menyenangkan seperti yang saya publish kemarin. Tapi justru di Ultah kali ini, kejadian engga enaknya banyak. Awal bulan, menjelang ultah, adek saya kecelakaan. Yang membuat saya, mau ngga mau ikutan terseret untuk sedikit banyak bertanggung jawab atas kejadian itu. Lalu puncaknya, adalah hari dimana saya memulai peralihan umur, si mas, not been there. Sekedar mengucap selamat seraya mengucap doa untuk saya pun enggak. Lebih parahnya lagi, ternyata dia lupa! Awalnya saya kira dia sengaja. Sudah beberapa kali saya protes, karena kadar keromantisan yang dia berikan kepada saya cenderung berkurang akhir-akhir ini. Tidak ada kejutan-kejutan kecil yang dulu jarang saya dapat, tapi sekarang malah tidak pernah sama sekali. Saya pikir (dan berharap sih…) dia sedang menyiapkan kejutan dengan pura-pura lupa. Tapi sialnya, dia lupa beneran bo’. Saya nunggu sms dia, mulai pulu 11 malam, sampai jam setengah tiga. Terlalu capek menunggu, saya pun tertidur. Swear, saya kecewa dengan dia.

23024400Pagi harinya, kebetulan hari sabtu. My free day. Saya ijin ama koordinator project, pengen me-time hari ini. Kekecewaan sama mas semalam, berusaha saya pendam dan tidak terlalu saya besar-besarkan. Meskipun tak urung bikin saya sedih juga. Begitu banyak ucapan dan doa datang dari teman-teman saya, baik melalui Mukabuku maupun sms. Semuanya mendoakan dan membuat saya merasa disayangi oleh mereka. Teman-teman yang lama sekali tidak bersentuhan dengan saya, hanya berkirim kabar seadanya, tapi justru mereka-lah yang engga pernah absen di hari saya ultah. Diantara kesemuanya itu, malahan dia, orang yang ngakunya cinta dan sayang kepada saya, melupakan hari lahir saya.

Hari itu, saya habiskan dengan mengunjungi lagi ibukota Jakarta. Lebih tepatnya menikmati lagi Busway dengan ke-crowded-an yang pasti akan kita dapatkan ketika menikmati transjakarta itu. Dan memutuskan untuk mengunjungi gramedia terbesar dan terlengkap di daerah ini. Sempat linglung juga sih, jalan sendirian tuh engga ada enaknya. Ngga ada yang diajak ngerumpi, mencela yang ngga penting dan ngebahas apapun mulai dari yang penting ampe yang ngga penting. Setiap sudut saya kunjungi, demi untuk nge-test ketertarikan saya saja. Ngeliat ada kartu ucapan yang bagus, kata-kata yang lucu, dan kepikiran untuk menghadiahi diri sendiri dengan kartu lucu ini, tapi begitu lihat harga yang ngga masuk akal untuk sebuah selembar kertas tebel bertuliskan kata-kata ajaib, kok sepertinya harganya ngga relevan dan terlalu fantastis. Saya urung menghadiahi diri saya kartu tersebut.

Akhirnya, setelah melewatkan beberapa waktu dengan sekedar jalan2 dan membuka-buka buku-buku mahal saya nemu buku yang sudah lama saya cari. Adalah buku terakhir dari trilogi Naga karangan Christoper Paolini : Brizingr ternyata udah ada di Gramed. Tapi saya hampir shock lihat harganya, 450 ribu bo’. Hampir setengah jeti sendiri. Gileee… mahal banget. Engga sanggup saya ngehabisin duit segitu, segila-gilanya saya sama bacaan. Saya lihat saja tuh buku, sambil ngiler dan dalam hati bertekad untuk ke malioboro jogja atau ke bandung, demi dapet buku dengan harga yang sedikit bersahabat. Perjalanan pencarian kado diri sendiri ini berakhir di buku-buku dari penulis lokal yang sedang berusaha mengembangkan diri melalui tulisan. Finally, pilihan saya jatuh ke buku dengan cover lucu dan judul lucu karangan penulis pertama, bukan nama-nama terkenal seperti Icha Rahmanti, Raditya Dika, Okke Sepatumerah dan lainnya. Saya pengen ngasih penulis baru ini kesempatan untuk menjadi penulis kesayangan saya. Dan, saya membeli kedua buku karangan Ika Natasha yang berjudul A Very Yummy Wedding dan Divortiare *salah ngga ya tulisannya… ;) *. Sangat aneh menurut saya, disaat sedang menurun-menurunnya minat saya sama yang namanya wedding and their friends, yang saya beli malahan buku yang bertema married and so on… trus, lebih anehnya lagi, buku yang saya beli, temanya bersebrangan.. hehehe… engga niat sih, tapi terlanjur tertarik ama covernya, jadi beli deh.

Udah bayar, saya mutusin untuk pulang. Sebelumnya, ganjel perut dulu, mampir D’Creeps beli minum ama makanan buat di jalan entar. Begitu udah naek di jembatan penyebrangan, tau-tau ada miskol dari nomernya si mas yang simpati. Damn! Saya ketahuan ganti nomer. Okay, saya emang kolokan. Ngambeknya ke mas juga agak engga kreatif, kesannya ngga niat banget getto. Dulu, saya punya dua nomer, yang dua-duanya keluaran Indosat. Karena yang terlanjur di publish adalah nomer yang raja murah, maka nomer yang Raja siang, engga dipake lagi. Nah, dalam rangka melancarkan acara ngambek saya ini, si Raja siang, saya pake lagi. Demi sekedar bisa buka mukabuku dan kirim-kirim sms ke selain nomer si mas. Nah, karena si mas udah miskol, saya udah kayak orang ke-gap gitu. Setengah mati saya nahan diri supaya bisa stay cool, dan engga meledak-ledak, marah-marah ngga jelas karena dia ‘hanya’ melupakan ultah saya.

mas : hun, lagi dimana? kok ganti nomer ga bilang-bilang?

Ya iyalah saya engga bilang ama kamu mas.. saya ini ngambek ceritanyaaaa….

saya : Lagi diJakarta, iya tadi baru aja.Kenapa mas?

See, saya nyoba lho… untuk bersikap dewasa menghadapi dia. Walopun tak urung hati saya sedih juga. Dia benar-benar lupa sepertinya…

Mas : Ketemuan yukk, aku kangen banget. Apa ketemuan di Jakarta aja ya? Besok renang ya, kayak minggu kemaren…

Saya : Na bakalan sibuk hari ini. Besok na masuk mas… Ketemunya minggu depan atau minggu depannya lagi aja.

Saya berusaha menghindari dia.

Mas : Yah, lama amat hun. Ketemu nanti aja yah…

Saya diem, engga ngebales lagi sms dari dia. Saya ngerasa engga sanggup lagi nerusin sandiwara ini.

Lalu masuk telp dari dia, saya udah didalam angkot. Otomatis saya engga bisa ngomong kenceng. Intinya saya bilang ama dia, jangan telp saya dulu, disamping saya enggan ngomong kenceng2, disisi laen, saya pasti engga bisa bohong ama dia kalo saya sedang agresi mulut ama dia.

23453781Nyampe di kost, dia telp lagi. Dia pikir saya masih di Jakarta. Lama-lama kesel juga, ngomong ama orang yang engga ngeh juga ama keadaan kita. Saya sebel bukan main, sembari mikir, apa iya sih perasaan cowok setumpul ini? Sudah sekian tahun, masa’ sedikit pun dia tidak menangkap bahwa ada yang engga beres dengan diri saya?

Mungkin memang iya, toh nyatanya sampe pembicaraan yang sengaja saya buat boring pun, dia tetep aja keukeuh engga tanggep ama maksud saya. Iya, saya tau, engga semua cowok kek Deddy Cobuzier yang pinter baca pikiran orang. But in this things, saya pengen dia inget. Sampe akhirnya saya senewen dan bilang, “Mas, kamu inget ngga hari ini tanggal berapa” dan seketika itu juga, hening sesaat kemudian terdengar “astagfirullah….then, I shout down his call at that moment.

Saya kesel banget. Dan ampe hampir jam 8 malem pun kesel saya belum juga ilang. Sulit banget buat saya bisa berpikiran positip untuk si mas kala itu. Dia bilang dia cinta dan sayang saya, nyatanya hari ultah saya aja dia engga inget.

Sampe pukul 8 lebih dikit. Ada ketukan di pintu depan. Saya mendengar suaranya. Dia datang, dari Jakarta ke sini, just to ask apologize. Awalnya, saya masih menjadi diri saya yang angkuh dan enggan menerima kata maaf. Tapi siapa coba yang tahan dengan tatapan mata itu. Saya tau, dia tulus meminta maaf kepada saya. Saya tau, bahwa saya engga berhak menvonis dia dengan hukuman terlalu berat, melupakan semua apa yang telah kami lalui hanya dengan satu kesalahan yang pastinya engga dia sengaja. Toh nyatanya ketika dia menanyakan apakah saya masih berniat untuk melanjutkan perjalanan kami, saya engga sanggup bilang ENGGAK. Iya, saat itu juga saya sadar. Rasa sayang saya, ternyata jauh lebih besar dari kemarahan dalam diri saya.

Malam itu, kami nekat ke Jakarta. Kado dari dia adalah mewujudkan mimpi saya jalan-jalan di Jakarta malam hari. Engga terlalu diniatin sih, tapi karena cisangkuy di kota wisata udah tutup maka kami pun melanjutkan perjalanan ampe ke Senayan. Perjalanan malam itu berakhir pukul 03.00 tanggal 22 Maret 09. Yang menjadi lebih indah adalah ketika dia bilang bahwa bapak, mba mung dan mba evi, mereka mengamini niat kami untuk nikah tahun ini. Itu adalah kado terindah sepanjang ulang tahun saya.

23
Mar
09

Last day of my 24th

24314954hari ini, hari terakhir saya berumur 24 th. Waktu saya untuk bertambah secara angka (tapi berkurang secara kesempatan hidup didunia) sudah memasuki hitungan mundur. Tadi pagi,begitu bangun, saya sudah engga se-excited biasanya dalam menanggapi bertambahnya umur saya ini. Salah satu sebabnya sih karena kesadaran berkurangnya kesempatan saya hidup seperti yang barusan saya tuliskan. Saya tiba-tiba jadi pengen flash back ke hari dimana saya ulang tahun pada tahun-tahun sebelumnya. Engga banyak sih unforgettable moment yang bisa saya ceritakan berkenaan dengan ulang tahun, karena biasanya saya melaluinya dengan rutinitas biasa saja.

Ulang tahun ke 17, awal saya akan dianggap dewasa secara identitas. Paling engga diumur itu kita akan diakui secara yuridis (dengan bukti udah boleh bikin KTP) kedewasaan kita.

Surprise datang dari mama. Di umur-umur itu, mama adalah sosok yang sangat temperamental buat saya. Saya enggak bisa cerita dengan bebas kepada beliau jika ada sesuatu yang mengganjal dalam hati. Jujur, saya emang enggak dekat secara batin dengan mama, meskipun hal itu engga mengurangi sedikitpun rasa sayang saya kepada beliau. Menurut saya, dimata mama waktu itu, saya adalah anak yang super nakal dan susah sekali di nasehatin. Saya sering melanggar perintah mama dengan kelakuan yang sedikit di atas ambang batas kesabaran. Enggak jarang saya tidur diluar rumah karena mama sudah jenuh menunggu saya pulang dari nongkrong bersama dengan geng motor yang kebanyakan anak cowok itu. Tapi, saya sungguh merasa tertohok ketika di ulang tahun ke 17 itu, mama, tiba-tiba pulang dan membawakan kue tart berwarna biru yang dihiasi dengan bunga-bunga nan cantik itu. Mengucapkan selamat ulang tahun dan memanjatkan doa terdalam untuk saya. Saya, anaknya mama yang tomboy dan gemar membuat mama marah, kontan menitikkan air mata, kembali pada kodrat saya sebagai perempuan.
Ulang tahun ke 21. Angka dimana saya akan mulai dianggap dewasa secara mental.
Pacaran serius untuk pertama kalinya. Dapet kado yang luar biasa istimewa dari laki-laki yang menganggap saya istimewa. Saya dibuatkan film documenter singkat tentang hidup saya. Apa yang sudah saya alami dan apa yang telah saya capai. Singkat banget sih filmnya, tapi saya bahkan masih inget hari dimana saya baru saja membuka kado itu, dan saya, yang katanya temen kampus adalah preman Teknik ini, menangis bombay.

Ulang tahun ke 22.
Sedang giat-giatnya mengerjakan skripsi. Target saya adalah bisa lulus diumur ini. Sudah empat tahun lewat saya kuliah. Demi mengejar gelar sarjana sesuai dengan rencana, maka saya ikhlas ngekost di dua tempat waktu itu. Satu di Solo, satu lagi di Jogja. Sengaja ngekost di Jogja demi mendekati dosen yang sedang kuliah S3. Saya sedang marah dan kesel dengan mas hari itu. Kesel banget, tapi lupa keselnya karena apa. Siang, menjelang ulang tahun, saya nekat berangkat ke Jogja sendirian. Dengan perasaan marah berkecamuk, saya naik bis dan meluncur ke kost di Jogja. Saya sedih, karena dimata saya waktu itu, si mas adalah lelaki terkejam ‘ampun dah, dangdut banget gua ternyataaaa…’ karena engga mau ngejaga saya, dan menjadi unforgiving adalah karena hari itu merupakan hari dimana saya akan berulang tahun. Saya curiga dia engga inget hari ulang tahun saya. Nyampe di Jogja, saya masih marah dan kesel. Sengaja saya berniat untuk ngajak temen saya, si Guffy (nama aslinya Gufron, sebuah pelajaran untuk tidak memberikan nama kepada anak kita demikian, hihihi…) untuk dinner nanti malam. Kesel banget saya. Biarin aja, saya tetep pengen merayakan hari jadi saya dengan tidak mengingat-ingat keselnya hati saya kepada si mas. Waktu sudah menunjukkan angka 18.00 WIB, tapi si Guffy belum juga nongol. Saya sudah sms dia sedari tadi. Saya jadi kuatir, karena langit Jogja sedang mendung saat itu. Capek nunggu, saya tiduran di kamar. Sampe kira-kira pukul 19.00, seorang temen manggil saya, katanya ada cowok nungguin di depan. Saya keluar dengan girangnya, lupa dengan semua kekesalan hati. Dan yang saya temui didepan kost adalah laki-laki itu, yang telah membuat hati saya meradang dari sejak tadi sore. Si mas, datang dengan muka kuyup keguyur air hujan yang turunnya nanggung. Dia tersenyum, saya pun demikian. Ini adalah surprise teristimewa dalam hidup saya. Tanpa pikir panjang, saya sesegera mungkin mengajak mas yang kedinginan makan diluar. That day, was the best day of my life.
Dan hari ini, was my last day of 24th. Entah kenapa, saya merasa tidak akan mendapatkan surprise apa-apa hari ini. Bahkan saya berencana untuk menikmati me-time besok. Hari pertama saya menjalani tahun ke 25 saya didunia. Mungkin melakukan perjalanan ke Bandung atau Jakarta sendirian. Sekedar melewatkan waktu dan merasakan waktu yang berlalu. Atau tidur aja seharian, seperti ketika saya melewati ulang tahun saya ke 24, setahun yang lalu. Udah hampir jam 12 malam, tidak ada tanda-tanda dari laki-laki itu untuk sekedar men-sms diriku dan bilang heepy b’day seperti tahun kemaren. Saya kelelahan menunggu, dan akhirnya tertidur. Sudah hampir 25 tahun saya melewati hari ini, 21 Maret. Masa’ iya saya engga sanggup melewatinya hanya karena engga dapet sms dari si mas?

Cileungsi, 20 Maret 09 – almost midnite.

28
Jan
09

Love Speaks…

Ini pelajaran singkat yang saya dapat dari nonton Sex and The City kapan hari.
Hanya satu sih yang saya inget.  Saat SJP bilang ke temen-temennya pada acara lunch mereka bahwa dia dan Mr.Big memutuskan akan menikah.
serta merta teman2nya segengnya menanyakan gimana caranya si Mr. Big ngelamar SJP *saya lupa nama dia di Sex and the City*

Dan, jawaban SJP emang sesimple cara Mr. Big ngelamar. Beneran, adegannya adalah saat mereka lagi nyiapin makan malam gitu.  Miss SJP lagi sibuk ngupas bahan, dan Mr. Big nungguin di sebelahnya. Mereka lagi ngobrol apaaa gitu, ane lupa. Trus tiba2 si Mr. Big nanyain, do u wanna marry me *hahaha, ketahuan deh kalo gw lupa adegan lengkapnya* ya, gitu deh… yang saya inget cuma emang ngga ada acara romantis, bahkan si Mr. Big juga ngga ada acara menunduk dibawah SJP dan pegang cincin segala macam.

24423933Jadi jawaban SJP saat ditanya teman-temannya hanyalah Tersenyum dan bilang “keputusan yang memang harus diambil oleh dua orang dewasa yang ingin melanjutkan hidup bersama-sama” itu saja! Terus terang, saya terkejut. Tapi dari sini, saya mendapatkan bentuk lain cinta yang dipandang dari garis logika. Meskipun akhirnya cerita mereka ngga berjalan lancar karena Mr. Big yang ngerasa terlalu banyak kepentingan yang masuk dalam acara pernikahan dia dan SJP, secara ini adalah kali kedua dia menikah, akhirnya acara pernikahan gagal karena SJP terlanjur kecewa karena Mr.Big ngga datang tepat pada acara pernikahan -datang sih, tapi terus balik lagi- mereka.

Pilem ini tetap berakhir happy Ending. Yang finally masing-masing baik dari Mr.Big dan SJP menyadari kesalahan mereka. Memang butuh waktu dan proses untuk belajar tentang keter-saling-an dalam hal berhubungan dengan orang lain. Terlebih untuk orang yang akan hidup bersama dengan kita seumur hidup kita.

Dari sini, saya juga menyadari bahwa ada bahasa lain dari cinta ketika dia berbicara. Tak hanya ungkapan cinta yang mendayu-dayu seperti lagu romantis, tidak hanya sekedar kata pujian seperti kalimat sang pujangga. Tapi ada yang lebih dari itu, yaitu kalimat dan ungkapan yang diucapkan apa adanya.

Hmm… tiba-tiba jadi kangen ama Mas.

23
Jan
09

jerawat(ku)

25040231Hmm.. mungkin ini adalah tulisan teraneh yang pernah saya entri. Mungkin orang2 akan berkomentar klo saya kurang kerjaan -ngga, bener kok, kerjaan saya bejibun…selain mencetin jerawat jahannam ini tentunya- dan saya akan merasa beruntung ketika ada yang baca entrian ini dan dia -sipembaca itu- menulisakan komen klo dia terinspirasi ama jerawat eh tulisan saya.

Tapi beneran loh, saya benar-benar curiga ama jerawat yang kecil yang secara ajaib nongol di wilayah kekuasaan dagu saya. Bukannya sok, tapi saya termasuk beruntung karena sejak jaman puber pertama ampe puber2 berikutnya *emang orang idup tuh berapa kali puber seh?* saya jarang melaluinya dengan ribet masalah jerawat. Hanya saat2 tertentu dimana tiba2 tamu bulanan berwarna merah -yang secara kejam membuat perut saya tiba2 menjadi super sensitif saja- yang mengefekkan timbulnya gunung2 kecil dimuka bernama Jerawat. Ditambah wajah saya berminyak tapi pori2 besar, jadi saya hampir ngga pernah punya masalah yang serius *yg kudu mengakibatkan gencatan senjata seperti sekarang* dengan jerawat saya.

Sampai hari ini, tiba2 saya sadar. Bahwa jerawat kecil didagu saya itu terlalu lama nginep disana. Ngga tau apa dia kalo biaya perawatan dia tuh mahal harganya. Which is saya kudu rajin2 bersihin muka tiap malem, rajin2 pake pelembab, dan berjenis2 pembersih hanya supaya si jerawat *gimana kalo kita panggil jengkil?- jiriwit kicil yg bikin sibil- hahha, maksa!* ini terpaksa angkat kaki dari dagu saya yang konon kata si mas mirip ama dagunya drew barrimore -pada muntah dah!-  menjadi tidak indah dipandang mata lagi. Belom lagi tangan saya yang paling ngga bisa diem kalo ada benda2 asing yang tiba2 muncul di muka saya, pengennya ngegiles aja tiap kali tuh benda asing kering sedikit. Ditambah, klo misalnya saya orang accounting, maka saya akan mengkalkulasi biaya perawatan nih jengkil, yang pada akhirnya akan membuat jebol pengeluaran bulanan saya! Nah lo, ribet banget yah urusan jengkil ini???

Sebenarnya bukan itu sih *bukan masalah pengeluaran dan aktivitas mencet yang harus terus saya lakukan terhadap si jengkil ini* yang menginspirasi saya untuk akhirnya curhat ke public dustbin tentang jerawat saya. Kecurigaan bahwa ada yang ngga beres dengan sistem imun saya-lah yang akhirnya membuat saya merasa bahwa there’s something not rite on my body. Gimana enggak, jerawat biasa seukuran yang sekarang lagi kita bahas keberadaannya, klo dulu, paling lama dia nginep di area waja saya adalah itungan 1×24 jam. Itupun klo pergi, ya pergi aja langsung, ngga pake check out, apalagi cium pipi kiri kanan. Nah yang ini, udah hampir seminggu! Padahal aktivitas pengusiran hampir saya lakukan setiap tangan saya ngga lagi megang sesuatu apapun. Tapi si Jengkil ini emang agak ajaib, setelah saya usir, dia akan membuat wajah saya berdarah, lalu kering. Dan beberapa menit berikutnya, dia akan muncul lagi. Huh!

Akhirnya, saya membuat sedikit analisa mengenai timbulnya si jengkil ini :

Analisa 1 —> Mungkin, siklus hidup saya yang berubahlah yang membuat senyawa semacam jerawat ini betah banget nginep di muka saya. Saya yang udah hampir sebulan ini selalu pulang dalam keadaan capek -ditambah malem yang selalu ujan- bisa dipastikan klo nyampe kamar dan menyapa bantal, yang saya lakukan adalah memencet tombol ON pada tipi, ngidupin dividi, trus ganti baju secepet mungkin, masuk kekamar mandi, cuci muka secepet mungkin *supaya ngantuk akibat say hi ama bantal tadi ngga lenyap* trus membungkus kedua kaki dengan baju kaki, and There!! Beberapa detik kemudian aku akan tertidur sampe akhirnya lagu Wake up Call-nya maroon 5 akan membangunkanku untuk memulai rutinitas yang berkelanjutan. Hampir ngga pernah lagi aku menyentuh aer malem2 buat sekedar membasuh tubuh…

Analisa 2 —> Mungkin, aktivitas saya yang kurang sehat dan bersih. Seneng banget ngejahilin si jengkil, sehingga dia bener2 jadi jerawat yang nyebelin yang ngga mau pergi dari dagu saya. Tapi dalam hati saya mengangkal sih, abis dulu juga sering kek gitu, saya jailin terus, sampe jearwatnya kabur… Nah ini, mungkin saya lagi berhadapan dengan dedengkot kaum jerawat. Hmm… apakah analisa ini masuk akal? Saya rasa tidak…

Itulah, mungkin saya perlu istirahat sejenak. Memejamkan mata lebih lama dari biasanya. Dan sedikit memanjakan diri dengan membasuh semua area sebersih mungkin, merelaks-kan pikiran dan tidak membebani kepala saya dengan berbagai macam jobdesk dan daily activity, serta target2 yang akhirnya berbuntut munculnya si Jengkil ini…

17
Okt
08

(lagi-lagi) Nge-Blog!

ini adalah blog ketiga gw, stelah blog yang ada di friendster, trus di blogger, dan sekarang disini.

Walah, satu bukti bahwa I’m dying to writing something…

kapan ya gw bisa nulis buku?
hahaha, semoga aja blog yang ini bisa gw kelola dengan baek. Amieen.




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Mei    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Posts & Halaman

    pages

    permatasakti’s


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.