Arsip untuk Kategori 'Ngerumpi'

25
Okt
09

Grand Launching dari kaca mata the Outsider

ngambil dari jupiterimages

first of all, maap baru posting laporan pandangan mata tentang Grand Launching Jumat kemaren pada hari ini, which is topik yang paling HOT adalah pesta Blogger.. hahaha.. ampun ya guys!

Ok, let’s start…

Jumat Sore, kira2 jam 3an waktu Cileungsih..

Saya bru aja buka ngerumpi dot com. Artikel yang muncul di header adalah undangan Grand Launching dari si Mbok Venus… yang… very very tempting.. ah, seandainya saya ngga perlu nemenin implementor buwat loader data di server, bisa pulang jam 4 teng, dan langsung cabut ke Pasar Festival (even saya belum tau tempat pastinya), hmmh… masih nggantung…

Jam 4an

Nelpon si hubi, bilang klo mau ke Jakarta. Hahahaha, ketahuan klo pikiran pengen ketemu si Mbok dan penasaran ama mamih silly sangat mengganggu konsentrasi saya sedari tadi… dan, walla!, ternyata si hubi malah nawarin untuk jemput saya di rumah dan nganter saya menuju TKP (kami berdua masih engga tau dimana posisi tepatnya Pasar Festival Jakarta, hahahhaha). Bersemangat kembali, segera buka peta online dan nyari tau posisi Pasar Festival.

Jam 5an

Belum juga nyampe rumah, coz saat injury time dimana lappie udah di beresin malahan para implementor itu ngajuin banyak question yang mereka temukan dari data yang mau di loader. Huwaaahhh,.. kenapa ngga tadi2 pas saya ngantuk siyy…, hmmhh… sabar-sabar… *ngelus dada* dan masalah terselesaikan pas waktu menunjukkan pukul 17.30an. Huwaa… it’s time to RUN!!!

Jam 6an

Nyampe rumah, alhamdulillah selamat. Mandi secepat mungkin, sholat, dan duduk manis nungguin si Hubi. Dia nyampe rumah jam 7.30an malam, dan ternyata dia ngga ngajak langsung cabut, masih harus beraktivitas di kamar mandi, sementara saya nunggu dengan H2C, huhuhu.. takut macett.. padahal acara rampung jam 9 malem, dan kami belum tau posisi sebenarnya Pasar Festival, meskipun tau klo ituh di daerah kuningan.. huwaahhhh…

Jam 7an lebih

Akhirnya kami berangkat juga. Cikeas, lancar, Cibubur, macet dikit dan tapi masih bisa jalan sampe kami masuk tol Jagorawi.  Untuk menuju Kuningan, kami masuk tol dalam kota, tepatnya sih keknya daerah pancoran, dan oh Gosh… di sinilah mobil kami bener2 stuck! engga bisa jalan, padahal jam di tangan kanan saya udah menunjukkan hampir pukul 8 malem. Saya mulai gelisah.. antara perasaan bersalah ama si hubi yang udah bela-belain pulang en jemput saya dan perasaan sedih, dengan usaha yang semaksimal tadi, saya harus bilang kalah ama macet..

Jam 8 lebih dikit

Kami nyampe di perempatan kuningan. Thanks God, udah engga macet lagi begitu mobil kami arahkan ke arah kanan. Tapi kebingungan masih melanda, coz kami begitu buta dengan daerah kuningan ini.. akhirnya, ilmu IMPC (Ilmu medan peta dan cocot) pun di berlakukan, turun dari mobil dan nanya ama orang yg lagi bengong di pinggir jalan, dan Thanks God, again,.. ternyata tempat acara itu engga jauh dari kami berdiri… :D

Jam setengah 9

Dan.. sampek lah saya di tempat itu, food court area di Pasar Festival (hahaha, akhirnya kami nemu juga tuh tempat, dan ternyata mudah!!). Saya ngeliat sosok dua perempuan yang jadi sorotan di situ, dengan senyum malu-malu dan ketawa simpul..  hmmm, tidak seperti bayangan saya sebelumnya, ngga tau ya, acara ini terkesan begitu formal buat saya yang awalnya hadir karena saya mengira akan menghadiri sebuah acara yang hangat.. hehehe, maap ya mbok, dan mamih silly…

Tadinya saya pengen jadi the Outsider, ngga pengen mendekat dan masuk. Tapi saya inget perjuangan suami saya mengantar saya dan si baby dalam perut ini nyampe ke tempat ini. Hmm.. saya harus punya cerita untuk dia. Maka saya melangkahkan kaki menuju meja registrasi yang bukunya udah ditutup. Saya beruntung masih dapet merchandise kaos ngerumpi, stiker, dan pin meskipun ngga beruntung mendapatkan goodie bagnya Fit. hehehehe..

Saya duduk di situ, di pinggiran dengan kacamata merah saya. Melihat sekeliling, mereka2 yang ternyata sudah saling akrab satu dengan yang lain.. huhuhu.. saya merasa sendiri. Tapi saat saya merasa demikian, si kecil dalam perut mengigit pelan, minta makan. Yaelah, saya lupa kasih dia makan dari tadi siang… maapkan bunda ya sayang..

Saya bergerak, melihat kiri dan kanan serta kupon makan di tangan kanan. Engga banyak pilihan coz udah hampir jam 9. Ya udah, malam ini makan ayam aja ya sayang? kata saya kepada si kecil.

Selesai makan, saya kembali, dan memutuskan untuk membeli buku mereka, “When Silly met Venus” sebage bukti dan kenang-kenangan hari ini, dan.. meskipun harus ngantre untuk dapet tanda tangan mamih Silly, tapi terbayar dengan hangatnya dia menyapa dan menulis di buku-nya yang barusan saya beli :

Dearest : Skydiva

            “Happy to Finally Meet You”

                                 LOve,

                                 Silly…

 

Dan meskipun saya engga bisa nyapa dan bilang ke Mbok Venus klo saya ini tetangganya di cileungsih tapi untungnya saya bisa ‘sedikit’ maksa buat poto bareng ama sayahh… hehehhehe…

Makasih ya Mbok Venus, dan mamih Silly atas malam yang penuh kenangan dan menyenangkan. Meskipun masih berharap suatu saat akan ada acara laen yang lebih santey.. lebih hangat.. hehehe..

Salam,

Skydiva

30
Sep
09

-newly- passionate

85699,1177778634,1Sebelumnya engga pernah menyangka akan merasa seperti ini. Terlebih ketika dia mengajukan permintaan menikah tepat pada perayaan 5 tahun masa perkenalan slash pacaran kami . Jika ada pertanyaan mengapa saya ingin segera menikah dengannya adalah karena satu hal, saya ingin ditemani. Entah mengapa, terasa lelah berjalan sendirian diantara semakin banyaknya masalah yang muncul di hadapan saya, berjalan beriringan dengan semakin bertambahnya umur.

Iya, alasan saya menikah selain tentu saja karena saya mencintai dia, tapi satu yang membuat saya merasa harus mensegerakan adalah karena saya lelah selalu sendirian. Terlebih semakin kesini, teman-teman yang senantiasa dapat diandalkan setidaknya untuk menghabiskan weekend, sekarang lebih memilih untuk sibuk sendiri-sendiri. Jangankan menyempatkan diri berburu barang-barang murah di daerah senen, ataupun glodok. Sekedar rujakan di kos saya saja sepertinya mereka tidak sempat lagi.

Hmmm.. iya, saya merasa sangat kesepian. Terlebih ketika pada usia produktif seperti ini saya semakin disibukkan dengan rutinitas kantor yang jamnya semakin lama semakin ngga menentu. Saya justru merasa dunia saya semakin sempit, dan di dunia sempit itu saya sendirian. Hmmmh… sedih sekali jka teringat waktu-waktu itu. Sampai saya tersadar bahwa walo bagaimanapun mencoba untuk tidak sampai ke titik ini -baca : kesadaran menikah- pada akhirnya semua manusia sesuai dengan fitrahnya, akan tergiring dengan sendirinya menuju ke fase ini. Semuanya memang seperti ada yang mengatur, bahwa saya tidak akan selamanya di temani oleh teman-teman saya yang mereka pun pada akhirnya akan menentukan jalan sendiri-sendiri yang kemungkinan berbeda dengan jalan yang saya ambil. Maka, demi menghilangkan perasaan kesendirian di dunia saya yang semakin lama semakin mengecil ini, mau tidak mau, saya harus memilih -dan membidik- salah satu teman saya untuk dijadikan teman seumur hidup, menemani saya sampai rambut menguban dan memutih (insyaalloh).

Niat yang sudah kian membulat itu rupanya engga begitu aja mulus. Bener kata orang, menuju pernikahan itu biasanya cobaan beragam, klo dalam bahasanya iqa (seorang teman dari Bandung) karena kalo menikah, semua ibadah nilainya berlipat ganda, jadi setan engga mau pahala kita bertambah demikian cepatnya sehingga berusaha untuk menghalangi pernikahan tersebut. Hmmm… masuk akal sih, but in my opinion, semua cobaan pada dasarnya untuk menaikkan level seseorang, dan apakah pahala menjadi berlipat karena pernikahan, wallohu a’lam, saya engga mau berurusan matematika dengan Alloh, itu hak Dia sebagai maha segala dari apa yang ada didunia ini.

Dan finally, hari itu, minggu 2 Agustus 2009,  saya pun menjadi muhrimnya.Laki-laki yang saya coba mengenal selama kurun waktu duatahun perkenalan, dan lima tahun pacaran. Bismillah, semoga saya memilih lelaki yang tepat, untuk diri saya dan anak-anak saya kelak. Amien.

Saya tidak menyangka, bahwa sebuah pernikahan akan merubah apa yang telah menjadi idealisme saya dalam memandang sebuah profesi atau posisi. Profesi dalam hal ini adalah pekerjaan yang berkaitan dengan sebuah instansi tertentu, ada hitam di atas putihnya, perjanjian antara manusia dan manusia. Tadinya, laki-laki itu mengenal saya sebagai sosok yang pantang menyerah dengan semua cita-cita tingginya. Seseorang yang percaya dengan quote-nya Andrea Hirata “bermimpilah setinggi langit dan Tuhan akan memeluk mimpimu itu”.

Saya masih Na yang itu. Yang ingin mimpinya di peluk Tuhan. Tapi yang pasti saya bukan lagi Na yang dulu. Begitu terobsesi untuk selalu menjadi nomor satu dan menjadi dragon lady, wanita dengan karier cemerlang. Dikelilingi fasilitas nomor satu dan dengan segala kemudahan dalam hidup. Saya sempat ingin menjadi seseorang yang mengejar itu semua. Semua semata-mata karena saya kira nilai kebahagiaan terletak pada itu semua, jika semua hal yang menyangkut hidup ini menjadi demikian mudah dan indah, bagaimana mungkin hidup tidak bahagia?

That’s my stupid thought. Dan saya menyadari kebodohan itu tepat ketika saya mengalami masa-masa dimana ternyata mengejar apa yang saya kira benar itu sungguh melelahkan. Terlalu banyak effort yang harus dikeluarkan untuk sesuatu yang saya belum yakin bahwa semua itu akan membuat saya bahagia. Effort yang saya yakin tidak akan seimbang dengan hasilnya apabila yang harus saya korbankan adalah waktu-waktu singkat saya bersama keluarga dan orang-orang yang saya sayangi. Pada titik tertentu, saya menyadari bahwa ternyata saya ngga seambisius itu, bahwa untuk menjadi bahagia tanpa kehilangan mimpi saya yang sebenarnya ternyata ngga harus se-ngoyo itu.

Then, I became who I am right now. Masih saya yang ingin terus bermimpi ingin menjadi dosen, karena dengan profesi itu saya punya banyak tabungan akherat dengan meninggalkan banyak ilmu yang berguna. Menuju itu, terlebih dahulu saya harus kuliah S2 (dosen S1 sekarang udah jarang boww) dan kesanalah panah impian saya saat ini saya tancapkan. Saya, masih orang itu yang memiliki mimpi berjenjang. Yang tidak lagi menganggap enteng tentang motherhood *ampuni saya para ibu-ibu didunia*, bahkan mulai menyadari bahwa justru dari rumahlah kunci semua ke kesuksesan yang di dapat di luaran sana. Dari rumahlah kebahagiaan itu dibangun, dan ditangan ibulah kunci diletakkan. Ngga mudah memang, tapi mungkin memang itulah alasan kenapa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

25
Agu
09

Heart Matter

155647,1232552513,2Hari ini, seorang teman bercerita tentang bagaimana dia jatuh lagi, sekali lagi-dan berulang kali di waktu sebelumnya- oleh lelaki yang sama. Lelaki yang pernah berada dalam hidupnya, lalu memutuskan untuk keluar. Susah payah teman saya ini membangun kehidupannya, dengan me-reduksi ketergantungan terhadap lelaki itu, hingga dia mampu berpikir -tanpa rasa sakit hati- bahwa this is the best for them. Bahwa dengan tidak terlalu sering ‘bersentuhan’ akan mendewasakan mereka, bahwa mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk memulai lembaran baru tanpa kehadiran laki-laki itu dalam kehidupannya. Sampai kemarin, dia jatuh lagi. Entah karena laki-laki itu atau karena harapannya sendiri. Bahwa masih ada cerita indah yang layak untuk diteruskan diantara mereka. Bahwa keyakinannya masih sama terhadap laki-laki itu. Bahwa hanya laki-laki itulah yang menjadi tujuan akhir perjalanan cintanya. Bahwa hatinya memang tidak mampu -meski sudah dicoba- untuk menghadirkan sosok lain dalam hidupnya, menggantikan tempat laki-laki itu. Sampai saat dimana dia jatuh lagi, menangisi puing-puing hatinya yang kembali terluka.

She’s been told me how much she’s been try. To control her feelings… For not letting her self down, falling apart trough the same hole…And crying for the same thing. Dengan sebab yang berbeda dipermukaan, tapi sebenarnya sama juga, in the bottom of her heart. Bukan, bukannya dia tidak tahu apa yang menyebabkan air matanya kembali mengalir. Dia cukup dewasa untuk mengerti hatinya sendiri dan tau pasti apa resiko yang akan dia rasakan ketika dia mengambil kesempatan itu. Tapi kepercayaan yang dia rasakan bahwa dia yakin laki-laki ini adalah yang terbaik dalam hidupnya, dan dia mampu menunggu laki-laki ini kembali menjadi laki-laki yang dia kenal dulu. Rasa percaya itu bukan tanpa alasan, bukan salah teman saya itu jika dia percaya dengan sepenuh hatinya, ketika laki-laki ini menyatakan bahwa dia ingin agar bersama teman saya inilah hidupnya dilanjutkan, bahwa dengan teman saya inilah laki-laki itu ingin memiliki anak dan membangun sebuah keluarga. Adegan mengharu biru itu terjadi dulu sekali, saat dimana kedekatan itu nyata di hadapan mereka. Hingga saat ini, teman saya merasa banyak yang berubah pada diri laki-laki itu, yang demikian cuek dengan keadaannya, jangankan mengatakan how much he loves her, mengatakan kangen saja, sangat jarang.

“Bukan karena ada perempuan lain bu… aku masih yakin kalo dia engga pacaran lagi” kata teman saya suatu ketika.
” Lalu, hubungan yang kalian punya sekarang disebut apa say??” tanyaku.

Lalu dead air… teman saya hanya diam. Dalam pikiran kecil saya, layaknya hubungan yang sehat adalah keseimbagan. Ada saat dimana kita ingin memberi, ada saat dimana kita ingin menerima. Ada saat dimana kita ingin dimanja, ada saat dimana kita ingin memanja. Oke lah kalo laki-laki senantiasa ingin dianggap macho dan seakan-akan memandang tidak penting hal-hal yang berbau cinta-cintaan, ngga perlu diumbar katanya. Eiitss.. tunggu dulu, siapa juga yang pengen ngumbar, kami cuma pengen kalian mengungkapkan. Engga perlu berlebihan, tapi kena sasaran.

“The more I know, the less I understand. And all the things I thought I figured out, I have to learn again
I’ve been tryin’ to get down to the Heart of the Matter. But my will gets weak
And my heart is so shattered. But I think it’s about forgiveness
Forgiveness…”

“All the people in your life who’ve come and gone. They let you down, you know they hurt your pride
Better put it all behind you; cause life goes on. You keep carrin’ that anger, it’ll eat you up inside”
(Heart Matter-India Arie)


Kalo dari sisi seorang saya, lagu itu nyeritain tentang gimana sebenarnya rapuhnya hati seorang wanita. Dan dalam mencintai seseorang, mungkin wanita lebih berani mengambil resiko, padahal dia tau hatinya sebenarnya rapuh. There’s always a side of heart yang selalu bisa forgiveness (and hoping). Sesakit apapun hati kita dimasa lampau, tapi ketika dia datang kembali dimasa depan, mengetuk pintu hati kita sekali lagi, entah kenapa selalu aja ada forgiveness…

Ini kelemahan sebenarnya. Betapa seorang wanita kadang kala -terlalu- sering melakukan sesuatu hal didasarkan dari perasaannya. Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, nyaman atau tidak nyaman. Benci atau cinta, dan sebagainya. Ini berbahaya sebenarnya, meskipun harus diakui, bahwa pada kasus-kasus tertentu, justru hal inilah yang menjadi kekuatan seorang wanita. Hahaha, bagai buah simalakama memang. Tapi justru disinilah tantangannya. Kapan kita menggunakan ‘senjata’ yang kita punya dan bukannya menjadikan yang sebenarnya ‘senjata’ itu sebagai kelemahan kita.

“Sometimes in life,You run across a love unknown, Without a reason, it feels like you belong,
Hold on dear life, Don’t go off running from what’s new, I became somebody through loving you”
(Dear Life – Antony Hamilton)

Kedua lagu ini pesannya berkelanjutan. Si Indie Arie bilang tentang forgiveness, trully forgiveness, without any hoping at all. Yang dalam bahasa islamnya mungkin IKHLAS…
Merelakan apa yang dulu indah, terlalu indah, dan membiarkannya berlalu, karena memang hanya indah saja. Merelakan sakit yang dulu sangat sakit, dan membiarkannya berlalu, karena terlalu sakit untuk disimpan.

Sebenarnya maksud dari keduanya sih sederhana : LOViN’ UR LIFE!!
Itu aja sih. That-very-simple words.
karena kita-even women, even men-ini terlalu berharga untuk sekedar merisaukan apa yang past dan apa yang future. Karena past, kalo emang pantes untuk dijadikan pelajaran, maka bersyukurlah. Jika tidak, lupakan, ikhlaskan…Dan future kita, semoga aja menjadi blessing yang membawa perubahan yang baik. Nah, yang harus lebih dihargai sebenarnya adalah kehidupan di saat present ini. Menjalaninya dengan sebaik-baiknya.

Saya percaya, teman saya pasti lebih tau sedalam-dalamnya apa yang dia sendiri inginkan, serta apa yang dia hadapi dibandingkan dengan saya yang hanya mendengar dan mengamati. Saya juga percaya, bukannya dia engga mencintai dirinya dengan menyerahkan penuh hatinya untuk laki-laki itu, hanya saja, dia memang belum mampu deal dengan akan sebuah kehilangan. Saya belajar banyak darinya, tentang keberanian dalam mencintai, meskipun dia harus jatuh berkali-kali, but she take that risk! I’m standing applause for her brave.Saya, mungkin hanya bisa menyediakan dua buah kupin saya untuk selalu mendengar ceritanya, dan dua pasang lengan untuk memeluknya, jika dia jatuh kembali.

-na-

22
Agu
09

at my lowest line of ambition

gambar : googling ajah

Udah 3 hari. Terhitung dari hari senin kemaren. Ketika satu macam pertanyaan begitu banyak datang kehadapanku. Saat mulut ini ngga tau lagi gimana menjawabnya. Secara otomatis, diri ini seperti terjerembab turun ke posisi yang paling rendah dalam garis ambisiku.

Apalagi bulan ini (dan beberapa bulan sebelumnya siihh…), sepertinya semua orang berbondong-bondong menutup akhir tahun ini dengan menggelar acara pernikahan. Jangan disebutkan deh, berapa banyak undangan yang nyampe kehadapanku. Baik dalam bentuk fisik maupun lewat friendster atau blogspot atau website (apa sekarang udah musim kek gitu yak?? sengaja mengirit kertas dalam rangka menghemat batang pohon atau emang itu cara yang paling mudah dimana teknologi sudah menjamur layaknya gorengan?)

Sepertinya menikah, memang step terbesar yang pernah dibaut seseorang dalam hidupnya. Aku masih inget, kemaren kesasar di blog seorang forografer -panggilannya pram- yang emang ahli bikin vintage prewedding, wedding fotography. Sesaat hatiku trenyuh. Saat-saat menuju pernikahan memang penting untuk dikenang dan diabadikan. Detik-detik dimana status kita akan berubah, tanggung jawab akan menambah, saat-saat dimana kalimat suci itu diucapkan dan apa yang tadinya self orientation menjadi our orientation.Coba aku hitung deh undangan yang datang minggu ini : 2 dari teman SMA yang soundingnya udah dari bulan oktober kemaren (Radiq en Ielma -hehehe, bukan radiq nikah ama Ielma, tapi radiq en pasangannya, ama Ielma en Dharma) kemudian satu dari teman dikantor (amri -yang nikah tanggal 20 minggu ini), lalu satu dari teman jaman kuliah (Banov en Erna tgl 14 des minggu lalu, bukannya pulang ke solo demi menghadiri pernikahan mereka, kami -ajustabrata geng- justru merencanakan ke Dufan karena waktu yang terlalu mepet untuk pulang), satu lagi datang dari teman dari pekerjaan sebelumnya (Imoet amit _Novie, yang undangannya belon nongol), lalu satu lagi dari teman GDP (aku sih bukan GDP, kebetulan aja kenal ama mereka, sepaket deh kenalannya) si Iqa diBandung untuk tgl 28 desember 08. Sayangnya tanggal segitu aku dah meluncur dan mungkin ke rumah coz udah rencana mo bikin SIM (Yippe, awal bulan depan motorku dah boleh diambil). Yah itulah, total ada 7 undangan yang sepertinya kesemuanya ngga bisa kuhadiri tepat waktu. Mungkin nanti akan menyempatkan diri nyambangi Radiq en Ielma waktu pulang.

Sedihnya… saat ini aku benar-benar berada dalam level yang kritis menghadapi optimisme pernikahan. Even for my self! Aku seperti berada di lowest level of ambition jika sudah menyebut hal yang berjudul Married. Entah kenapa…Tadinya, beberapa bulan yang lalu kira2 bulan maret atau april lah, saat dimana kami (aku dan si mas) mulai serius membahas rencana pernikahan. Adalah tahun depan, kami berencana menuju kesana : menikah. Rencana yang baik ini kami niatkan dalam hati, diiringi dengan doa dimana semoga niat ini diamini oleh para malaikat disana, dan dimudahkan jalannya.

Sedikit gambling sih rencana itu. Mengingat saat itu kondisi kami masing-masing masih dalam tahap awal meniti karier. Aku baru aja diterima kerja (dan masih harus berjuang supaya diterima jadi pegawe tetap diakhir tahun ini) lalu masku, baru aja keterima jadi pegawe di PMA yang bergerak di bisnis semen (bukan calon pegawe tetap sih, makanya akhirnya dia mengundurkan diri). Tapi niat kami tulus dan insyaalloh kuat, meskipun baru dari diri kami sendiri berdua, tapi setidaknya kami memberanikan diri membahas masalah ini lebih dalam. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika pertanyaan tentang pernikahan kami jawab dengan jawaban aman : biarkan mengalir seperti air.Lalu episode empat terjadi lagi, dimana jarak -sekali lagi- merentangkan tangan kami terlalu jauh. Aku pikir aku akan sanggup setelah cinta kami nyatanya teruji dan kami lolos dari babak-babak berikutnya. tapi emosiku masih ambigu dan terlalu fluktuatif. Pada episode ini aku terlalu banyak pertanyaan tentang komitmen. Terlalu banyak sensitif jika pembicaraan kami mengarah pada pernikahan. Seperti selalu merasa salah karena menempatkan dia pada posisi yang tidak bisa dia jawab, padahal aku nyata-nyata mengerti dan tau pasti kondisi kami seperti apa. Yang aku tau dan ingin hanya tentang diriku sendiri *hmmm, aku juga heran kenapa menjadi too much one direction begini* dimana selalu dan selalu -hampir setiap saat- aku ingatkan dirinya tentang inginku, melalui gerbang itu. Aku semakin tidak mengerti diriku sendiri.

Tapi hebatnya. Dia begitu sabar menghadapiku. Mengimbangi semua titik fluktuasiku dan selalu mendampingiku meskipun secara nyata dia tidak berada didepanku. Aku bangga, sekaligus menyesal kenapa masih saja diriku ini kembali ke sosok childish ketika angan ini menyentuh garis mimpi. Kenapa aku masih saja tidak ingin mengerti bahwa asanya sama besarnya denganku. Kenapa aku tak juga paham bahwa dia selalu berusaha mendekat karena dia tidak ingin diriku berhenti bermimpi dengan adanya pernikahan kami kelak. Kenapa aku tidak mau memahami bahwa sampai ke titik yang paling detail dia begitu ingin menjagaku dan keinginannya memilikiku juga sebesar inginku. Tuhan…, kenapa aku menjadi demikian egois?Lalu, sampailah aku dilevel ini. Menjadi pribadi yang sangat pasrah terhadap keinginan berjudul pernikahan. Aku tidak ingin menyakiti hati lelakiku itu, dengan terus menerus menanyakan perihal yang sama padahal sebenarnya secara sadar aku sudah tau jawabannya. Aku tidak ingin menguji kesabaran lelakiku itu dengan meminta hal yang dia sendiri masih mengusahakannya. Dan yang pasti, aku tidak ingin -dan takut- dia akan kehilangan kesabarannya terhadapku pada saat mimpi kami masih mungkin untuk diwujudkan.

Here I am, at my lowest line of ambition… Karena aku tau, future itu mystery. Nyatanya aku percaya bahwa jodoh itu masih ada diantara kami -buktinya masku diterima kerja di Jakarta sehingga untuk sementara jarak itu tidak lagi ada- setelah episode empat itu sekali lagi berhasil kami lalui. Nyatanya kami masih percaya cinta kami kuat, dan aku membutuhkannya bukan lagi sebagai kekasih tapi juga sahabat, teman, kawan dalam hidupku.

jay saktiwibowo wrote :

“skydiva, panggilannya Na, aku panggil dia sayang, karena memang aku sayang dia. Ngga tau karena apa, senyumnya bikin aku kangen terus, lebih tepatnya ketawanya. Lepas, tanpa tameng, tanpa topeng. Yah, aku begitu mencintai wanita ini… Hmmm… waktu dah hampir pagi, aku belum tidur. Masih kepikiran dia yang mungkin sedang sedih malam ini”

22
Agu
09

brain vs beauty

gambar : googling ajah

ini tulisan lama sih, posting lagi di ngerumpi sebagai artikel pembuka.. enjoy it gals!Seharusnya hari ini adalah hari yang harus gw nobatkan sebagai hari paling tidak produktif sedunia. Bagaimana tidak, dari jam 07.00 WIB (waktu masuk resmi kantor) sampai jam 16.00 WIB ( waktu pulang resmi) mungkin waktu efektif bekerja gw hari ini hanya sekitar 2 jam. Iya, 2 jam saja! Jika dibreakdown, 2 jam itu pun sudah plus kekamar mandi buat sekedar kencing, ngobrol ngga penting ama mbak2 di kanan kiri, ngambil air panas buat ngopi, dan laen sebagenya.

Tapi, ketidak-efektifan waktu kantor gw kali ini membawa perjalanan maya (yups, apalagi yg gw lakukan dalam mengisi waktu tidak efektif ini selain dengan surfing ngga penting supaya keliatan penting) menuju blog-blog yang lumayan keren, sehingga akhirnya dengan sedikit inisiatif yang nyangkut, gw add itu alamat, masuk ke link (padahal sebelumnya yang gw add hanya link-link yang menuju diri gw sendiri, hayyyaaahh…. lingkaran tak berujung nihh). So, that’s it… Gw nge add hanya, dan mungkin HANYA dua artis itu saja, yang pantas masuk ke link gw (secara otomatis gw meng-google blog Luna Maya, biar gemana pun juga she’s my fav artis, setelah Dian Sastro). Yupz, gw nge add alamat blog diansastro, yang emang udah dari dulu dikenal sebage artis yang ngga hanya beauty tapi juga punya brain. Liat aja tulisannya, opininya yang ngga hanya berisi dari kacamata artis yang gemar pamer popularitas, tapi menujukkan kalo dia ini seniman. Salut deh ama si embak yang satu ini.

Lalu si Wulan Guritno (masih gw anggap pantas, karena dia menulis apa yang jadi pikirannya -meskipun belum seexpert diansastro-) tapi setidaknya tuh blog ngga hanya berisi upload-an poto2 ngga penting yang hanya akan memenuhi server dunia. Kemudian ada si Luna Maya (yupz, gw nyari juga dan ketemu, masih dengan domain yang sama dengan punya wulan guritno) disini gw mengalami penyesalan. Ternyata iklan si dia menenteng notbuk Toshiba dengan gaya yang sangat elegan sangatlah tidak nampak dalam tulisan di mbak Luna ini. Sungguh kecewa. Coz brain doesnt come easily…

Mau ngga mau, gw tergelitik untuk masuk ke halaman blog para artis itu satu persatu dan memetakan kemampuan berpikir mereka dari tulisannya (maapkan daku para artis, hanya lewat itu, dan kata-katamu dirimu dinilai, dan dinilai adalah konsekwensi dari keterkenalan, belajarlah menerima itu). Ada sekitar 6 artis yang dilist di web berjudul kapanlagi dot kom. Tergelitik, gw tiba-tiba pengen memetakan statistik IQ para artis itu dari tulisan mereka. Urutan pertama diisi oleh janda Saipul Jamil berinisial DP, urutan berikutnya adalah (janda -terlalu muda- lagi) beranak satu berinisial EL, lalu urutan ketiga adalah artis yang selaluuuuu aja digosip2in ama vokalis Peterpan berinisial LM, keempat adalah artis yang sudah lumayan -enggak- terkenal lagi, berinisial NU, kelima adalah artis -masih bayi banget- muda berinisial NW, dan last adalah artis yang alamat blognya gw link-in ke alamat -salah satu- blog gw. Bukan, bukan… urutan itu bukanlah urutan tentang siapa lebih pintar dari siapa, jika menilik dari statistik IQ yang gw buat. Tuh urutan sepertinya hanya mengabjadkan saja. Jadi berikut adalah ulasan singkat kungungan -tidak sengaaja- yang saya lakukan pada blog para pesohor tanah air Indonesia.

 

1. DP : Ugh, sedikit geram gw mengakui bahwa Si DP ini adalah manusia yang dilahirkan di tanah -propinsi- yang sama dengan gw. Yes, named it! East Java. gw ngga berharap -dan sama sekali engga hold my breath- ketika buletan yang menandakan loading memasuki halaman si janda ini. Dangkal. Mungkin ini adalah kata-kata yang tepat. Seperti yang aku sangka sebelumya, nih blog buat miss DP adalah salah satu ajang gratis pamer pantat (uppss, ngga ada/ belom ada gambar pantat sihh) tapi yang jelas, kata-kata yang paling panjang yang pernah dia tulis adalah tentang umpatan ketika dia diganjar beberapa juta tentang larangan dicekalnya miss DP untuk bergoyang. that’s it! Gw kasih nilai 0.8 point buat IQ miss DP (skala 1-10)

2. EL : Hmmm…. dunia tulisan ibu satu anak ini hanyalah sekitar Bumi -anaknya. Itu aja sih… Maklum, ibu muda yang sedang seneng-senengnya menceritakan perilaku anaknya. Ada beberapa (dan Applause buat ibu ini, sama sekali (atau jangan-jangan belum??) ngga ada foto yang memamerkan dirinya. Hanya tulisan aja. Cukup simple, meskipun gambar headernya cukup menantang. Gw kasih nilai 3 buat ibu satu ini. Bukti kalo dia memang lebih punya brain dari si miss DP.

3. LM : Ini dia, pantulan kekecewaan atas harapan gw yang berlebihan. Gimana engga, si mbak LM ini adalah icon produk yang selalu oke. Bahkan sempet jadi duta untuk program apaaaa gettu, dengan kacamata yang mengesankan seolah-olah dia ini intelek. Ugh, sungguh gw tertipu. Emang sih, blog dia ngga berisi hanya umpatan seperti yang miss DP lakukan, hanya aja, its too short for LM. Dia ya, seorang duta, bukankah dia di beri blessing untuk bisa jalan-jalan sampe ke negeri manapun? masa tulisannya isinya lebih banyak tanda seru, tanya dan segala titik-titik apalah… ugh… i’m just too much hope of her I guess… Nilai IQ buat LM, adalah 2.5 (nggak lebih baek dari seorang EL)

4. Lalu yang lebih pARAH adalah NU. Masih mending isi blog miss DP yang isinya poto pantat itu (setidaknya dia belajar caranya upload poto) dan walla.. blognya isinya poto semua, persis kek kumpulan album ngga begitu penting. Masih mending lagi si LM, yang meskipun isi blognya nggak lebih dari harian yang terlalu ekspresif untuk cewe seumuran dia (ingat, terlalu banyak tanda-tanda baca ngga penting??), setidaknya miss LM ini menghabiskan seluruh upaya mengeluarkan -sedikit- kemampuan berpikirnya lewat tulisan. Jauh lebih mending EL, setidaknya dia menulis tentang heroes, gossipgirl (even she’s no longer girl anymore), entourage dan kawan-kawan. Yups, at least dia tau serial yang lagi ngebooming dan membahasnya dalam blog. Yang jelas tulisan si miss EL ini masuk kategori -sedikit- lumayan. Tapi, yang terjadi pada miss NU (oke..oke.. mending gw sebut aja deh namanya, gemes gw!) Nafa Urbach ini, terlalu -sangat- menyedihkan sekali (gw memang sengaja hiperbola). She didnt write-even- a single word!! Gw ngga tau gemana lagi harus membahas kedangkalan miss satu ini. SANGAT DANGKAL… so, point IQ yang gw kasih adalah big ZERO.

5. Almoust Last. NW. Yah…. selayaknya tulisan anak ABG, isinya adalah postingan poto-poto (mungkin ngga penting juga, tapi yang jelas engga pantat kek si miss DP), trus cerita dia ke citos desebe, deelel. Ngga bisa berkomentar banyak, karena buat gw isi blog NW ini ngga jauh beda dengan blog LM, hanya saja, bedanya telak, ada pada diri gw, gw emang ngga berharap banyak dari tulisan anak bayi ini…point IQ buat dia : 1,5 ajah.

6. Yup, sapa lagi. Miss Wulan Guritno. Yang gw tangkap pas baca blognya adalah, yang jelas gw suka kata-kata diheadernya. Mungkin bukan kata-kata dia, tapi kalo iya, gw acunging cukup satu jempol ajah buat dia. Tulisannya, lumayan lah… setidaknya agak enak dibaca. Dan, satu jempol lagi deh, karena even dia posting poto, bukan poto pantat, dan bukan poto hang out. Keren deh… poto pas dia masak, dan NO make up! ya… itu sebabnya gw menganugerahi penghargaan dimana gw dengan sukarela meng-add alamat blog ibu ini kedalam link di blog gw. Dan sebage bonus, gw kasih poit 5.5 lah buat Wulan…

Pertanyaanya, siapa yang menempati posisi tertinggi daftar statistik IO yang gw buat based on blog page ini?? Yap! Diandra Sastro Wardoyo… she’s the winner. Apalagi yang buat dia menang selain karena emang tulisannya emang enak banget dibaca, ngga melulu tentang keartisan, even gw maklumi klo si embak ini juga agak banci poto. Dia pinter cerita, tentang kegiatannya dia yang positif, kadang juga tentang undang-undang yang gw aja ngga ngerti, trus beberapa postingan gambar eksklusif dari pilemnya yang belum tayang. Kerasa deh hawa special ketika kita memasuki halaman nona satu ini.

Pelajaran surfing hari ini : beauty does can come easily… but brain… never comes that easy…

-udah cukup gw menghabiskan waktu dengan kegiatan ngga penting (seperti membuat statistik IQ para artis itu -sekaligus mencela mereka-), udah hampir jam 7 malam, mending gw cepet pulang-

 




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Mei    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Posts & Halaman

    pages

    permatasakti’s


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.