Arsip untuk Kategori 'our journey'

26
Okt
09

miss him

65566,1236528369,9bagaimana mungkin, menikah dan tinggal bersama dengan pasangan tapi tetap saja merasa rindu?

But it Happens! and unfortunatelly, it also happen to me… Hiks :(

Sebenarnya, fenomena dimana suami istri yang baru bisa bertemu menjelang larut malam sudah tidak asing lagi. Terlebih jika sang suami dan istri bekerja di kota besar layaknya Jakarta.

I admit that. Awalnya semua memang berjalan seperti yang saya bayangkan, terlebih di minggu pertama pernikahan kami, dimana hampir setiap saat di selalu ada di sebelah saya, terlepas dari kenyataan bahwa saat itu kami sedang cuti menikah dan memang dalam masa honimun, tapi setelah kembali ke Jakarta pun, kami masih dapat meluangkan banyak waktu berdua, walopun cuma sekedar hunting HIK (hidangan Istimewa Kampung) di sekitaran Cibubur-Cileungsi. But that’s FUN!! dan bener2 rasanya seperti sang waktu adalah belong to us.

Menikah muda, untuk yang sudah menjalani sebagaimana saya sekarang, terlebih untuk yang tinggal deket2 ama ibukota, keknya nasibnya ngga jauh-jauh dari saya. Tiba-tiba jadi inget ama temen yang rumahnya di Kota Wisata. Ngeliat dari jauh, emang keknya hidup yang mereka jalani perfect. Semua fasilitas kelas menengah ke atas telah mereka rasakan, mobil ada, segala hiburan tersedia. Apapun, you name it, they have it. Tapi apa yang mereka korbankan atas semua yang mereka dapatkan?

Yang sering tidak di sadari adalah hilangnya waktu bersama dengan orang-orang terkasih. Seperti yang akhir-akhir ini saya rasakan. Betapa saya merindukan sentuhan tangan suami saya saat saya sedang lelap tertidur, membangunkan saya dan menyadarkan saya akan kehadirannya.  Betapa saya sering kali merindukan saat-saat dimana kami dapat mengobrol santai dan tidak bertemu saat tubuh telah membunyikan alarm lelahnya. Betapa saya merindukan moment-moment simple nan indah yang biasa kami dapatkan saat dulu tekanan pekerjaan tidak sebesar sekarang. Sungguh, saya rindu itu semua.

Ini resiko sih, terlebih nanti klo sudah ada anak. Rasa kehilangan mungkin akan terasa sampe ke level kronis. Merasa lelah sendiri karena merasa sendirian merawat si kecil. Ah, sekarang aja saya sudah merasa sedih membayangkannya. Tapi saya yakin, jauh di dalam hati orang terkasih itu, suami saya tercinta, diapun tidak menginginkan jarak diantara kami demikian terasa, dia pun pasti menginginkan yang sama, senantiasa dapat berada di sisi saya.

Kami, hanya harus lebih berusaha… dan tetap saling mengerti tentunya…

ps : We Love you Ayah…

22
Agu
09

alarm dan puasa

Ramadhano iya, hari ini hari pertama puasa yah??

met puasa untuk yang menjalankan, untuk yang tidak.. semoga masih mau untuk sedikit menyingkir pabila sedang makan es cream atau es teh apalagi menjelang deadclock alias buka puasa… hehehe, kidding lah.. saya udah cukup gedhe (baik fisik dan semoga mental) untuk sekedar menahan godaan makhluk bernama es teh…

puasa kali ini (thanks God) saya sudah tidak sendiri lagi. Ada laki-laki itu, yang selama 5 tahun bersamanya dalam sebuah ikatan berstatus In Relationship ala Facebook, yang setiap datang Ramadhan, dia -hampir- selalu tidak bisa berada di samping saya. Bukan dia tidak mau, saya yakin keinginannya sebesar keinginan saya, tapi apa daya, toh dia tidak mampu begitu saja meninggalkan kota tempat dia bekerja dan menuju kesini, tempat saya berada.

Thanks God -again-, kami telah officially menjadi hubby en wiffy… di awal bulan ini, and I’m such a Happy Women right now.  Rasanya masih ngga percaya, ada seseorang lain yang tidur di samping saya, masih tidak percaya, dan kadang saya suka meraba perutnya ditengah-tengah saya terjaga, dan saya menemukan sosok hangat itu, sedang ngorok dengan damainya… hahaha…

Ini adalah puasa pertama kami sebagai pasangan suami istri. Jangan ditanya betapa excited-nya saya. Kulkas, udah pasti penuh dengan bahan2 masakan, dari daging impor sampe fillet lokal, dari segala macam sayuran produk pasar seperti pete (ini makanan favorit hubbi), kacang panjang, sampe fresh veggie ala supermarket, semua ada dan ngumpul dengan rukunnya di kotak sedang nan dingin itu. Sudah dari kemarin2 saya mempersiapkan ibadah yang satu ini. Membayangkan betapa damainya ibadah sahur, dan tarawih kami nantinya.

Sampai tadi malam, hari terakhir makan semaunya, karena malamnya kami akan memasuki pintu Ramadhan dengan melakukan sholat tarwih, saya di sms suami tercinta, dan mengatakan saya harus tarawih sendirian malam ini… huhuhu… sad, tapi ya sudahlah.. it’s a -one of other- risk being a wife of civil engineer, yang kudu siap ngga bisa merencanakan apapun, karena agenda kerja mereka ngga selalu apa yang ada di atas meja.

Hari itu, lelakiku itu pulang lebih awal. Sadar kalo besok kami harus bangun lebih pagi kali ya?? jam 9 malam, ketika biasanya saya memeluk guling yang dingin itu, malam itu saya bisa memeluk perutnya yang hangat. Damai terasa sampai ujung-ujung kaki saya. Dia mengajak ngobrol karena waktu2 seperti ini, priceless sekali untuk kami. Sampai tak terasa pukul 11 malam.  Sudah hampir menjelang tengah malam, si mas ngajak supaya kami masak saja, sehingga pas nanti sahur kami tinggal angetin sayur dan goreng ikan seadanya. Saya menuruti usulnya yang tumben2an cemerlang.

Pekerjaan yang paling saya sukai dimulai. Dari mengiris-iris tipis sayur dan mengolahnya menjadi masakan yang uhuy… Hmm.. saya sangat menikmati peran saya yang satu ini. Kecapek’an masak, tepat pukul 11.30 saya pingsan sementara alias tidur. Suami saya? hmm.. saya ngga tau kegiatannya setelah dia membantu saya dalam proses masak-memasak itu. Yang saya tau, dia engga langsung tidur.

O iya, sebelum tidur, saya setting current alarm yang bisa bunyi tiap hari. Di hari biasa,  saya setting benda kecil itu untuk membangunkan saya dari pingsan tepat pukul, 04.30. Belive me, they never late!… maka di bulan ramadhan ini, saya ganti settingan menjadi pukul 04.00. Setelah men-save settingan, saya pun beranjak tidur.

Tapi ohh, betapa kagetnya saya, benda kecil itu mengkhianati sayatepat di hari pertama saya akan melakukan puasa. Saya terbangun -sukses dengan kagetnya- tepat pukul 05.00, dimana terdengar suara seseorang mengaji dan beberapa detik kemudian panggilan sholat pun di kumandangkan. Saya hanya sempat menyambar air putih di kulkas. Sementara suami saya, masih terkaget-kaget dan berusaha menerima kenyataan bahwa kami bangunnya kesiangan, dan kami telat sahur!! Astagfirullah…

Semoga kami keluar sebagai pemenang pada puasa hari ini dan seterusnya.. amien.

20
Jun
09

trough de wed

101144p

Berbicara  tentang pernikahan, jadi inget dulu waktu saya masih semester 2. Seorang teman nanya, gimana tentang konsep pernikahan saya kelak. Hehehe… saya jawabnya ngasal banget. Dulu -ampe sekarang sihh- saya paling enggan disuruh pake benda yang namanya rok. Dalam lemari baju saya pun, benda yang namanya skirt, bisa diitung pake jari. Engga bermaksud untuk pilih kasih, tapi  gak tau deh, pake rok tuh sungguh bikin saya yang pencilakan ini engga nyaman. Risih gitu. Terlalu kebuka -bagian bawahnya- dan ngga bisa gerak sesuka hati. Maka saya bilang ama teman saya itu, kalo saya nikah besok-besok, dress code buat tamunya adalah simply jeans, celana jeans maksudnya. Hahaha, udah kebayang tuh dikepala, saya dan suami nerima tamu yang mereka semua kompak pake jeans dan atasan putih, hilanglah itu semua formalitas yang bikin gerah dan capek.

Sekarang, kalo dibalikin lagi ke sana, konsep impian saya diatas, masih akankah saya gunakan di pernikahan kelak. Hmm… sama kek temennya adisti di lajang&menikah, yang mendambakan menikah ala polka yang akhirnya menyerah ama keinginan orang tua yang ingin menikahkan anaknya dengan menggunakan tata cara pernikahan adat masing-masing. Bisa dipastikan, meskipun konsep menikah dengan dress code ala jeans engga bakalan saya dapet, tapi saya juga engga mau nikah pake adat manapun. Pake kebaya? iyalah. Sebuah harga yang engga bisa saya tawar. Tapi konsep yang saya inginkan adalah simply wed. Untungnya, keluarga si mas bukan keluarga penganut adat yang keukeuh. Sudah lumayan nasionalis dan lebih penting adalah mereka engga akan nuntut macem-macem untuk menggunakan adat yang melelahkan itu kepada saya. Fyuhh… lega rasanya.

hari ini, adalah H minus 2 bulan 1 mingguan sekian hari sekian sekian jam. I just cant wait for that beautifully moment. padahal, persiapan menuju kesana big Zero! hahaha, modal nekat doang emang…ama doa sih, gag tau banyakan mana, doa apa nekatnya. Hahaha, embuhlah.. bismillah aja, niatnya baik, insyaalloh ntar dimudahkan jalannya.

baru beberapa hari yang lalu aja, saya akhirnya menyelesaikan konsep pernikahan dan mengirimnya lewat email ama seorang teman. setelah baca artikel gimana menikah secara islam yang saya temukan secara ngga sengaja, artikel itu seakan memberikan inspirasi tentang pernikahan. Memang sih, harus ada penyesuaian sana sini, tapi pada dasarnya udah kena ama apa yang saya harapkan. Simple dan ngga neko-neko.

Acara akan saya lakukan di rumah saja, mengingat jumlah tamu yang kebanyakan adalah para tetangga saja. Keluarga saya yang bisa dibilang keluarga hanya segelintir saja, dan keluarga mas, ngga mungkin juga datang semua mengingat waktu yang sangat jauh dari negara *ceileh* hahaha, *propinsi ding* asal mereka. Jakar tempuh dengan mobil aja bisa 13 jam. Hampir ngga mungkin berkendara dengan waktu segitu lama dengan orang tua yang kebanyakan umurnya udah sepuh-sepuh. Lalu teman SMA, mungkin ngga akan saya undang semua, karena honestly, saya kurang suka harus bermanis-manis ria dengan teman yang engga deket dengan saya, dan jumlah temen yang saya anggap deket pun ngga seberapa. Orang kantor, baik kantor saya dan mas, hmmm… sepertinya tak satu pun dari mereka akan mendatangi negara saya, disamping waktunya yang udah deket ama bulan puasa, jaraknya yang jauh bangeddd… kalopun ada yang datang, sungguh.. niatnya memang sangat mulia. hahaha, lebay! Jadi, kemungkinan maksimal tamu yang akan hadir adalah sekitar 200 orang. Dekor dan kursi, jumlahnya menyesuaikan, kata si ewiet sih ada tempat yang mau menyewakan semuanya sekaligus. Jadi tinggal menyesuaikan budget ajah. Soal makanan, kata si mas akan lebih mending kalo kami masak sendiri, bukan apa-apa, karena acaranya dirumah, maka otomatis kami engga bisa mengontrol jam kedatangan para tetamu, kalo makanan diserahkan ke tukang catering, takutnya ntar pas ada tamu yang datang, kami ngga ada stock makanan. Bisa tengsin berat bo’.

Yang masih nyangkut di kepala cuma masalah Tenda, kursi, dan makanan. Sisanya, keknya bisa kami urus dalam waktu sehari. Undangan, tinggal nyari desain yang match aja, se simple mungkin. Kalo dah nemu desain yang cucok, tinggal pesen, cuma butuh seminggu untuk  bikinnya. Masalah agak gede mengingat selera saya yang agak susah dalam berkebaya adalah mencari atasan yang sesuai dengan acara saya. Selera saya agak aneh iya emang, saya enggak terlalu suka dengan hiasan yang terlalu rame, mau pesen aja yang sesuai dengan yang saya pengen, malahan lebih ribet lagi, kudu cari kain, cari penjahit yang cucok.. waduhh… bisa kriting saya mikirnya. Sudahlah, beli yang langsung pake aja, tapi tetep kudu nemu yang sesuai dengan selera dan budget tentunya.

Menuju ke pernikahan, emang sebenarnya engga ada yang simple sih saya kira. mo dibikin sesimple apapu acaranya, pastinya ada deh acara ribet-ribetnya, dikit atow banyak. se enggak kepengen-kepengennya saya ama acara yang terlalu detail dan ribet, tentu saja saya engga boleh gitu aja maen slonong girl tanpa mempertimbangkan wajah mama saya selaku tuan rumah yang akan dapat imbasnya apabila ada yang ngga berkenan ama para tetamu.

1444035pSejatinya, yang harus lebih saya pertimbangkan lebih adalah kesiapan mental untuk memutuskan hidup dengan the only one laki-laki itu. Engga saya pungkiri, seperti jawaban yang dia kemukakan ketika saya menanyakan alasan mengapa dia ingin menikahi saya, adalah karena kenyamanan dan kebutuhan, saya pun demikian. Tapi, pun ketika jawaban kami sama atas pertanyaan itu, pastinya nantinya masih akan ada sesuatu yang harus kami sesuaikan satu dengan yang lainnya. Perubahan yang akan terjadi setelah status kami satu sama lain berubah pun, kemungkinan akan ada pula. Saya yang sampe detik ini kemampuan memasaknya masih di bawah rata-rata seleranya, tentu saja masih harus banyak sekali belajar, saya yang menurutnya masih kurang sabar, tentu saja masih harus belajar bagaimana untuk bersabar di saat yang tepat *hahahha, mana pula tuh ada saat yg tepat untuk bersabar, alesan nih…*

Eeeniwei, all I know for sure, dari jaman kuliah sampai hari ini, detik ini, he is the best for me... semoga tak ada yang berubah, atau kalaupun ada perubahan pada kami masing-masing semoga cinta itu akan selalu menyelimuti hati dan mengalahkan ego masing-masing. Semoga benang merah yang selama ini menyatukan kelingking kami ini akan selalu ada, bahkan menjadi kuat dengan berjalannya hari. Amien.

gambar : pinjem dari jupiterimages

10
Apr
09

-sang kekasih-

249017721Dia itu, lelaki kedua yang menempati tempat sekian lama diruang hati saya. Demikian juga saya dihatinya. Lelaki pertama? jangan tanya siapa. Meskipun waktu itu saya masih SMA, tapi untuknya, saya beri hati yang utuh dan berusaha menjaga meskipun terpisah karena saya harus kuliah di kota yang berbeda. Meski begitu, toh saya tidak lantas men-single-kan diri dan mencari yang lebih baik dari dia. Saya akui, karena memang waktu itu (tahun 2002) hape dan alat komunikasi lainnya masih jarang dan engga sepopuler saat ini, toh demi dia saya berusaha setidaknya pulkam sebulan sekali demi menjaga yang tadinya saya minta untuk dihentikan saja. Tapi dia? tidak sekalipun dia melihat keadaan saya di kota tempat saya belajar. Sudah saya minta dari awalnya, sebaiknya saya dan dia menghentikan apa yang baru saja kami mulai saat itu, mumpung saya belum terlalu sayang, mumpung saya masih bisa mem-back flash posisi dia menjadi teman saya kembali, bukan pacar. Tapi dia enggan.

Saya kira itu komitmen, entahlah… toh saya juga masih terlalu muda untuk mengenal komitmen saat itu. Tapi setidaknya saya tetap mencoba. Sampai saat itu, ketika komunikasi mulai membaik diantara kami (thn 2004, saya mulai punya yang namanya hape) sebuah teror masuk ke kotak inbox saya. Lebih dari itu, banyak miscall, dan telpon engga penting mengganggu saya dan menyebut namanya. Seorang cewek mengaku sebagai kekasihnya, membuat saya terhenyak dari posisi sebagai orang yang penting dihatinya. Sungguh, saat itu, saya kira saya sudah berusaha menyelesaikan masalah itu dengan cara yang saya anggap dewasa. Menanyakan kepada dirinya tentang cewek itu, sungguh, saya berusaha untuk mempertahankan apa yang saya kira penting. Tapi dia, tak sekalipun menanggapi pertanyaan saya, dan tidak sedikitpun dia berusaha memenangkan hati saya. Saat itu pula saya sadar, hubungan tidak sehat ini sudah terlalu lama, dan dia… pun tidak menggapai saya ketika saya meninggalkannya.

Yang membuat sakit, dan perih dan enggan untuk memulai lagi adalah perasaaan dihina dan dicampakkan. Saya menjadi demikian pendendam dan merasa diabaikan olehnya. Tidak nampak semua cerita pertama kali tangan saya digenggam oleh laki-laki, tidak nampak oleh saya, saat mendebarkan yang saya tunggu ketika bertemu dengannya, tidak nampak itu semua. Saya terkadung sakit. Dan itu tak termaafkan sampai tahun kedua setelah kami berpisah.

Tapi saya beruntung, oleh lelaki kedua ini, saya diajari banyak hal. Bersama dia, saya merasa banyak berubah dan sepertinya menuju perubahan yang lebih baik. Bukan sengaja saya mencari kekasih lainnya sehingga bertemu dengan lelaki kedua ini. Bagi saya, awalnya dia adalah sosok yang menyenangkan untuk berbagi cerita, mimpi, kisah, harapan dan semua uneg-uneg yang mengganjal hati. Sampai akhirnya kebutuhan akan dirinya menjadi tidak tertahankan karena kerapuhan saya akibat sakit hati. Dan dia, menggengam tangan saya, menggantikan lelaki yang pertama, dengan cara yang berbeda.

Dan cerita kami pun, dimulai pada tahun yang sama, dengan cara yang sederhana dan apa adanya. Toh sebelumnya saya memposisikan diri sebagai seorang adik untuknya. Dan dia, bagi saya adalah seorang kakak laki-laki yang tidak pernah saya punya. Bersamanya, meskipun komitmen itu tidak terucap dengan lantang, toh kami menyadari posisi kami di hati masing-masing. Perjalanan kami pun tidak selalu mulus dan lancar, beberapa kali kami terpaksa harus berpisah karena jalan menuju mimpi ternyata berbelok menuju arah yang berlawanan. Tapi toh kami tidak menyerah, dia sebenarnya. Dia yang tidak pernah menyerah meyakinkan saya bahwa masih banyak yang bisa kami lalui bersama. Dia yang selalu berusaha ada untuk saya dan mengerti mimpi saya, mengajarkan kepada saya apa itu komitmen, apa itu hubungan dan apa itu rasa saling.

Sampai kemarin malam, rasa sayang yang dia perlihatkan kepada saya tidak berubah. Malah semakin kentara. Betapa dia menjadi sosok yang demikian mudah terpengaruh dengan suasana hati saya. Kalo saya lagi seneng, dia bisa dua kali lebih seneng, kalo saya lagi bete -apalagi klo betenya gara2 dia- dia bisa dua tiga kali lebih sedih karena saya suka mengadakan gencatan senjata, engga sms, engga nelpon, engga mau bales sms, engga mau angat telpon.

250152571Iya, saya akui. Semakin kesini, sepertinya saya semakin kolokan ngadepin dia. Dia, tetap berusaha memperlakukan saya selayaknya wanita dewasa. Okelah, kadang kalo logika saya lagi jalan, saya juga mampu diajak mikir logis en dewasa, tapi jujur, menghadapi dia, saya lebih suka mengeluarkan sisi manja -dan kolokan- saya. Hehehe…

Beberapa bulan terakhir ini, rasa diantara kami seperti diuji. Saya yang menguji, kadang juga keadaan yang menguji. Entah untuk menaikkan ‘kelas’ kami atau justru mendewasakan pemikiran kami tentang suatu hubungan itu sendiri. Entahlah. Yang jelas, meskipun sampai detik ini, masih banyak diantara kami yang harus kami temukan titik temunya, dia, meskipun adalah lelaki kedua yang menempati ruang hari saya, tapi dialah saat ini pemilik hati saya sepenuhnya.

-naj-

02
Mar
09

petualangan rumah

dream houseMemang tidak mudah dalam mempersiapkan rencana kedepan. Apalagi menyangkut pernikahan yang akhirnya nanti akan berbuntut panjang terhadap kebutuhan seperti sandang, pangan, terutama papan.
Kebutuhan sandang en pangan, jelas -sengaja- ngga dibikin pusing meskipun ntar masih akan pusing juga mungkin. Tapi yang jauh bikin pusing dan akhirnya membawa saya dan mas pada petualangan tak terselesaikan adalah pencarian kebutuhan ketiga : Rumah.
Hari ini, petualangan rumah yang kami lakukan membawa kami ke kawasan perumahan elite kedua setelah Kota Wisata. Legenda Wisata.
Gara-gara iklan besar yang ditempel di pintu gerbang legenda wisata saya dari hari kamis malam udah berinisiatif ngajak si mas untuk mendatangi kantor pemasaran Legenda Wisata yang bentuknya kek Colloseum di Roma.
Nyampe di coloseum itu, si mas secara sepihak memutuskan ngga jadi turun. Keder ngadepin kemungkinan harga yang akan ditawarkan kepada kami nantinya.


“nanya-nya lewat telpun aja kali ya Hun?”
kata mas.
yah, udah terlanjur kesini sih mas” saya merajuk. Padahal setiap saya di datangi oleh marketing perumahan, yang saya sodorin adalah si mas karena saya sendiri suka keder ngadepin angka yang beratus2 juta, ditulis kehadapan saya.
Si mas masih melajukan motornya menjauhi kantor pemasaran Legenda Wisata.
Akhirnya, dia balik arah dan bertekad memasuki Coloseum itu. “Berani ah, sapa yang takut” katanya.

Lalu kami, dengan mengumpulkan semua kepercayaan diri yang sempat tercecer melihat kantor pemasaran yang demikian megah, memberanikan diri untuk duduk dan bertanya. Semua demi mimpi memiliki rumah sendiri.
Singkatnya, kami salah tafsir. Iklan besar yang menyesatkan itu memang nyata, tapi bukan berbentuk rumah tapi kavling. Pantas saja jika seharga 105 juta dengan dp dicicil 36 kali, masih didiscount 30%.
Hmmm, tapi tanah kavling kan bukan impian kami. Tapi tidak menyesal, toh kami sudah memberanikan diri untuk bertanya dan dapat info yang lebih dari yang kami harapkan.

Beberapa minggu sebelum kami mendatangi Legenda Wisata, petualangan rumah telah membawa kami menelusur sampai ke wilayah terdalam daerah Jonggol dan sekitarnya. Mulai dari perumahan untuk kalangan menengah ke bawah, Griya Kahuripan dengan cicilan hanya 300ribu per bulan, sampai ke perumahan untuk menengah ke atas, Harvest City.
Minggu ini pun, untuk terakhir kalinya (karena kami akhirnya memutuskan untuk mengakhiri petualangan rumah kami) kami mendatangi perumahan Griya Nusantara. Terlalu banyak referensi, malahan membuat otak kami menjadi terlalu banyak pertimbangan.
Padahal kondisi keuangan kami, belum mencapai kondisi yang stabil. Saya, mungkin masih bisa bertahan. Tapi rata-rata dari perumahan2 yang kami datangi semuanya mementokkan kami dengan permintaan Uang Muka yang melebihi kemampuan kami.

Akhirnya, kami memutuskan untuk setidaknya sampai akhir tahun ini, saya dan mas -jika rencana menikah kami diridhoi- sementara waktu akan menyewa rumah saja. Sambil mengumpulkan uang untuk setidaknya mampu membayar Uang Muka, jikalau suatu saat nanti kami mendapatkan rumah impian kami.
Kondisi penempatan si mas yang masih belum pasti *update: penempatan si mas, masih kudu nunggu ampe by the end of this month. Saya anggap itu waktu bonus dari Tuhan, jika memang dia akan dipisahkan kembali dengan saya*

nAj-

20
Feb
09

Lelaki dan Janji

melambung karena janji

melambung dulu, jatuh kemudian...

Mungkin sudah nasib saya sebagai cewe yang menjalin hubungan *caelaah… bilang aja pacaran* ama cowo yang berbackground Teknik Sipil. Bukan men-discredit-kan dalam artian yang jelek [mungkin baik juga buat beberapa orang] tapi background pendidikan yang satu ini identik dengan pekerjaan yang nggak bisa state di satu tempat.

Sebenarnya sih tergantung tempat kerjanya sih. Saya inget-inget dulu ya, temen yang teknik Sipil yang kerjanya ngga lompat sana-sini. Hmmm.. saya nyerah.

Temen saya, Renick. Teknik Sipil UGM. Ngantor di Jakarta, meskipun dia ngga didepartemen yang berhubungan langsung dengan ke-Teknikannya [dan dia memang tidak begitu menyukainya] juga ngga bisa lepas dari karma anak Sipil yang memang sepertinya -diharuskan- hobi travelling. Minggu ini, mungkin dia di Jakarta. Minggu depan, acara ke Bandung. Minggu depannya lagi.. ngga tau deh.

Kebanyakan memang sebage seorang Civil Engineer harus siap dengan kemungkinan untuk dipindah, atau sekedar tugas keluar kota bahkan pulau, bahkan negara. Teman saya, si Galang (PT.PP), yang dari taun kemaren dipindah kerja ke Makasar, ampe detik ini juga belon bisa pulang. Kalopun bisa state di tempat (maksud saya lebih sering dikantor daripada tugas keluar kota) biasanya sih pindah aliran alias bekerja tidak sesuai dengan bidangnya. Seperti teman saya Icuk yang bekerja di bidang perbankan, dari jaman dia mulai diterima ampe sekarang juga masih betah banget di Kediri.

Lalu apa hubungannya antara lelaki, janji dan Teknik Sipil? Ada sih, hubungan dari ketiga kata itu adalah si Mas, yang adalah pasti Lelaki, dan kebetulan dia civil engineer, dan dia berjanji ama saya untuk berangkat ke Solo malam ini, demi menghadiri acara ‘keluarga’ kami di kampus UNS tercinta. Tapi, sekali lagi, janji tinggal janji karena tiba-tiba hari selasa kemaren dia berangkat ke Pelabuhan Ratu untuk tinjauan project disana.

Huh! Saya benci berada disituasi kayak gini, dimana saya merasa terjebak untuk mengerti kepentingan dia dalam menyelesaikan tanggung jawabnya pada pekerjaan, dan memenangkan janji yang terlanjur dia ucap kepada saya. sering dia bilang, bahwa dia enggan berjanji kepada saya. Tapi malahan saya yang ngga mau diperlakukan kek gitu. Maunya saya, saya dapet kepastian untuk bisa saya pegang, tapi malah jad bumerang kepada diri saya karena ngga siap kecewa dengan resikonya. Apa saya yang ngga dewasa ya?

Jadi inget beberapa minggu lalu, masih tentang project dia di Pelabuhan Ratu. Adalah weekend, waktu yang saya nantikan karena disaat itulah saya bisa bebas sejenak dari schedule yang semakin menggila karena target untuk mampu menyelesaikan project ini diperpendek. Hari-hari kerja (Monday to Friday, 7 am – till midnight) saya gunakan maksimal untuk mengejar target yang mau ngga mau harus saya lakukan. Karena tanggung jawab ini bukan hanya seorang Ratna kepada atasannya, tapi mewakili Departemen kepada Perusahaan. Impactnya adalah pada hari libur saya, dimana saya menjadi demikian sensitif ketika si mas ngga bisa nemenin saya di hari off saya. Padahal alasannya jelas, dia bekerja juga. Yang kebetulan, weekend-nya dia adalah memang untuk memantau project dan hari-hari lainnya untuk mengerjakan tugas harian.

Awalnya sih saya berusaha ngerti, asalkan saya dijanjikan olehnya untuk bertemu jam berapa (see, saya memaksa dia untuk membuat janji). Dan dia, seperti mengenal saya, sedikit enggan memberi batasan waktu untuknya karena dua hal.

Satu, adalah untuk saya, dia enggan saya kecewa apabila ternyata di tengah pekerjaannya ada sesuatu yang ngga beres yang terpaksa harus diselesaikan. Kedua, adalah untuk dirinya, dia enggan dirinya terpojok ketika saya menagih janjinya dan seperti mleemparkan bumerang kepadanya.

janji oh janji...Hmmm… tapi bagaimananpun juga saya wanita biasa. Saya mampu diajak berpikir logis, tapi kadang masih sering terjebak dengan sifat kewanitaan saya yang ingin selalu ditemani. Saya senang mengerjakan sesuatu sendiri dan ingin disebut sebagai wanita yang mandiri, tapi sering juga tiba-tiba menjadi manja dan menggantungkan diri kepadanya. Saya ingin dilihat olehnya sebagai pasangan yang ideal, tapi seringnya saya menolak untuk tidak memperlihatkan keaslian saya dan berharap untuk dimengerti.

Yang jelas, saya kecewa ama dia. Karena rencana kami (yang sudah sedemikian lama saya tunggu) untuk berangkat ke Solo demi sekedar refreshing dan melihat wajah-wajah lama yang saya rindukan akhirnya harus menggantung seperti sekarang. Saya tau, dia menyesali ke-enggak pastian yang sekarang sedang dia alami. Toh dia juga ngga menginginkannya. Saya akan berusaha memaafkan dia (sekarang saya jadi bingung, siapa yang seharusnya memaafkan siapa) tapi harus saya akui, memang bukan hal yang mudah untuk berdiri disamping laki-laki yang terpaksa diminta berjanji.

Cileungsi, 20 Februari 2009

13
Feb
09

tertohok dan konsultasi

melihat jauh ke depan

melihat jauh ke depan

Jam 14.30 WIB. Habis makan siang ceritanya. Si mas tau2 sms nanyain hari ini saya mau balik kos jam berapa.
Saya bilang masih belum tau, tapi kepengen pulang sore karena pengen nyuci baju.
Akhirnya saya bales sms mas dengan menanyakan ada apa gerangan dirinya yang biasanya prefer ngabisin jam dikantor kok tiba2 hari ini dengan ajaibnya kepengen banget ketemu ama saya.
Dia jawabnya singkat. Kepengen ketemu en konsultasi.
Hmmm.. saya penasaran sih, ngga biasanya si mas ngajak ketemuan ditengah minggu begini. Kalo cerita biasa sih, saya yang suka ngeyel pengen ketemuan ditengah minggu.
Maklum, dulu saya sering ditinggal -pisah jarak jauh maksudnya- giliran sekarang udah deketan, saya jadi *sedikit* norak. Suka tiba2 pengen diajak makan bareng. Tuh, keinginan saya simple kan sebenarnya?
Tapi rasa penasaran saya pengen saya simpan sampe ketemu ama dia.
Mungkin konsultasi alias ngobrol ringan soal kerjaan seperti biasanya.

Pukul 17.00 dia telpon saya. Katanya sih udah diangkot menuju ke kos-an saya. Dia nanya saya pengen makan apaan, soalnya dia mo beli lauk. Ga lama kemudian nyampe lah dia didepan kos-an saya. Membawa bungkusan berisi lauk dan kerupuk bulet favoritnya. Mungkin beginilah gambaran kehidupan kami kelak, pikirku menerawang.

Persiapan makan butuh waktu sekitar 20 menit. Akhirnya nyampe-lah kami di pembicaraan mengenai konsultasi yang tadinya akan dia bicarakan ama saya.

Konsultasi apaan sih mas, kata saya sambil nyiapin minum buat dia.

Tadi abis ngobrol ama Barra *temen sekerjanya*, dia mulai makan mie instant yang digodok campur ama telor rebus.

Ngobrol apaan?, saya ngidupin lagu dari dipidi.

Tabungan dia udah nyampe 25 juta Hun, katanya. Sesaat dia menghentikan acara makan.

Trus kenapa? tanya saya agak cuek. Lha, buat saya ngapain juga mikirin tabungan orang laen.

Aku malah belum punya tabungan sama sekali, gimana bisa mikir nikah, katanya.

Aku tertohok hun, katanya pelan.

Apa aku kasih uangku ke kamu yah?

Lah, kamu udha bilang kek gitu dari dulu deh. Kataku agak ngga semangat. Si mas nih ya, udah kepengen en rencana kek gitu dari jaman kapan, ampe sekarang belum juga kesampean.

Apa aku buka tabungan Rencana berjangka aja kali ya?

Lha piye, na sih mendukung aja. Mau gabung rekeningnya apa sendiri-sendiri?

Sendiri aja kali.

Kenapa?

Ga papa, sendiri aja pokoknya.

Ya udah, kapan?

Kudu ke Banknya ya Hun?

Iya mas, kan bisa pas istirahat… kataku.

Gak bisa habis pikir deh saya ama dia. Masih saja kek gitu, selalu aja ngga bisa teges ngambil kesimpulan atau keputusan. Terlalu banyak pertimbangan.

memandang jauh ke atas

memandang jauh ke atas

Inti dari pembicaraan kami sih selalu saja berakhir seperti itu. Si mas yang masih terlalu banyak pertimbangan membuat saya kadang ngga sabar ngadepin dia yang ngga fokus ama tujuannya. Akhirnya, karena acara makan sudah selesai dan adzan magrib sudah berkumandang, dia mengajak saya sholat di masjid. Hmm… mungkin berserah pada yang membuat hidup adalah jalan yang dia pilih, jalan singkat penuh kepasrahan.

Tertohoknya dia karena cerita 25 juta temennya awalnya saya kira dapat membangkitkan semangatnya untuk lebih fokus ama rencana kami kedepan. Meskipun dalam hal ini saya ngga bisa berharap banyak dan percaya dengan jodoh Tuhan serta jalan yang akan diberikan olehNya, saya lebih percaya lagi jika Dia akan lebih senang jika umatNya mau berusaha untuk mendapatkan apa yang akan Dia berikan untuk kita. Iya ngga??





23
Jan
09

Kebahagiaan itu Terasa

Masih inget banget dibenakku… Kejadian minggu malam kemaren.

_mg_2307kecilSebenarnya kedatangan di Mas ke kos-an niatnya pengen ngambil notbuk karena 2 minggu lagi dia mo ujian buat penempatan. Tapi kemudian acara berkunjung dilanjut dengan acara lunch bareng *hahaha, dasar ngga pengalaman, aku masaknya nasinya dikit banget, porsi 2 cewe gitu… walhasil, aku yg ngalah demi porsi makan si Mas yang bujubuneh…* dan dilanjut dengan jalan2 *tapi pake motor* bareng dengan tujuan ATM Permata Cibubur Town Square.

Kami berangkat dari kosku sekitar jam 4-an gitu. Si Mas yang akhirnya ngaku kalo dia bawa motor pabrik, tapi ngga dibekali STNK bikin aku keder juga, ni acara jalan *tapi naek motor* bisa dilanjut apa enggak ya?? Ditambah lagi, si Mas ternyata juga ngga bawa helm, so otomatis kalo pengen nekad jalan, kudu sedikit rela berkorban.

Walhasil, setelah perundingan satu belah pihak. Aku mutusin untuk beli helm. Itung2 investasi, siapa tau Beat yang aku booking jadi nyampe kos bulan depan. Akhirnya dimulailah perjalanan kami menuju tukang jualan helm. Menurut informasi satpam penunggu ATM Mandiri Plasa Cileungsi, penjual Helm ada di kenari di sebelah ATM Lippo… Hmm… deket nih, pikirku. Tanpa pikir panjang, si mas yg waktu itu sibuk nelp temen-nya di Surabaya segera putar balik motornya menuju ATM Lippo.

Sungguh, ternyata bukan hanya ucapan jomblo yang ngga bisa dipercaya *meng-adopt quote eljomblodesperado* tapi ucapan satpam pun sekarang sudah mulai tidak dapat dipercaya. Bukannya tukang jualan helm yang kami dapat begitu kami nyampe ATM Lippo, tapi hanya seonggok gerobak sampah *buseett… barang segitu gede gw bilang seonggok*… Hmm.. kuciwa, akhirnya aku berinisiatif mengajak si Mas membelokkan motor menuju arah Wanaherang.

Bukan tanpa alasan. Biarpun termasuk kota kecil yg notabene Cileungsi ngga masuk di Peta yang aku beli, tapi polisi diperempatan Cileungsi yg konon dinilai sebagai tempat yang strategis itu ternyata berwatak preman. Busettt… galaknya minta ampyun, dan No Compromise.  So, daripada jadi bulan-bulanan pak polisi yang lagi tanggung bulan ngga bayar bulanan kontarakan *halah, ngomong opo seh aku* lebih baik sedikit ngorbanin bensin -yg alhamdulillah sekarang harganya sudah turun 3x *hihihi, berasa lagi kampanye partai Demokrat*- buat muter2 nyari helm di Wanaherang. Aku inget, ada pasar yang lumayan rame di Perempatan sebelum menuju jalan Mercedes Benz. Yup… Jangan salah, biarpun ni kota ngga ada dipeta yg aku beli *ya pantes lah, peta yang gw beli peta Jakarta geeto loccchhh* industri yang ada disini lumayan gedhe. Sebut aja Holcim, Indocement, lalu Mercedes benz itu, yang saking paling gedhe-nya *ini dugaan gw* sampe ada jalan yang dinamai Jl. Mercedes Benz… buseeeetttt…

Akhirnya, setelah jalan sepanjang -uh, ngga ngukur gw- jalan, ketemu juga tukang jualan helm. Melewati sedikit perdebatan yang alot tentang harga, dapet juga helm merah yang keknya sedikit kekecilan dikepala si Mas. Hahaha… Perjalanan berlanjut, menuju perumahan Griya Bukit Jaya.

Wuih… kesan pertama : RAME! Beneran deh, ni perumahan rame bener. Apa karena hari minggu ya? dan jam berkunjungku agak tepat? jadi rame begini.  Di sepanjang jalan banyak orang jualan, ada baju imlek yang serba merah, diborong oleh ibu2 yang notabene ngga cina sama sekali, lalu tukang jualah helm juga, yang ternyata lebih mahal dari helm yang tadi aku beli, lalu rambutan…. trus tukang jualan durian.Aku bilang ama si Mas ” dari awal bulan musim durian ampe sekarang, Na ngga pernah makan durian sama sekali”, dan dengan tiba2 si Mas menghentikan motornya berenti didepan tukang jualan durian yang baunya sungguh menari2 di hidungku. “Mahal ah” kataku. “Ngga, paling juga 5000″ kata si Mas. “Masa si cuma 5000?” ternyata beneran cuma 5000, tapi duriannya emang ngga bisa diharepin banyak, ada yang udah busuk, ada yang masih mentah, pokoknya ngga bisa ngarep banyak dahh…

Akhirnya kami beli yang agak mahalan dikit, 10000. Abis satu buah, rasa penasaran terpuaskan. Perjalanan berlanjut, nyari jalan tembusan dari Griya Bukit Jaya ke Bukit Golf di Cibubur. Hmm… dulu sih pernah lewat sini. Tapi sekarang giliran nyoba sendiri, aku bingung. Si Mas, dengan pedenya nerusin perjalanan dengan arah yang based on insting. Makin lama, ni jalan makin ngaco aja. Kami ketemu ama tempat semacam kamp gitu, judulnya Pusat Pelatihan Pengawas Presiden, yang sebelahnya banyak pohon palem2 gede. Lalu aku inget katanya orang2, rumah pak Sby ada di daerah Cikeas. Masih dengan penasaran tentang daerah ini, kami ketemu ama sawah2 yang lumayan keren, mengingatkanku akan Karang Anyar Jawa tengah sono, meskipun luasnya ngga seluas Karang Anyar, tapi lumayanlah klo sekedar melepas kangen mo liat yang ijo2. Perjalanan berlanjut dan pembicaraan antara kami adalah berkisar tentang tebak-menebak yang mana sebenarnya rumah pak Sby didaerah sini.

“Itu tuh pasti” jawabku sambil menunjuk ke rumah yang kecil berpagar rapat tanpa pengawal satupun tapi memiliki halaman yang super luas.

“Ah, masa rumah Sby kecil gitu” kata si Mas ngga percaya.

“Nah, itu pasti yang itu” kata dia dengan pede-nya ketika tiba2 kami ngeliat ada orang berseragam seperti tentara yang agak ngga biasa. Aku udah hampir mo percaya kalo aja mata kami ngga melihat ada tulisan besar “Cibubur Country” Hahahahaha…!!! Tuh orang yang kami lihat, ternyata satpam perumahan mentereng ini… pantesan aja seragamnya semacam satpam. Hihihi…

Perjalanan berlanjut, dan sepertinya insting si Mas ngga kalah ama GPS. Kami nyampe juga di Jl Ry. Transyogi -Alternatif Cibubur. Tapi yang namanya orang lagi seneng tuh, biasanya emang ada aja godaannya. Kali ini godaan datang dari perut gw sendiri. Gw lupa klo semalam menelan pil pahit berjudul Laxing, dikarenakan nge-pup gw ngga sesuai ama schedule akhir2 ini, demi mencapai target, gw minumlah tuh pil malem, sesuai dengan saran mbak Krisdayanti. But, unlucky me, tuh pil malahan bereaksi hebad setelah tadi makan satu biji durian 10ribuan yang bikin perut gw terasa panas, dan mulai ngga bisa nahan.

“Mas, cari pom bensin dunk… mau setor” kataku pelan.

“Dimana pom yang deket? ” tanya si Mas.

“Kali yang ada Gramedia Palsunya itu lohh” kataku udah ngga bisa konsentrasi lagi.

Dengan susah payah aku nyoba mengalihkan perhatian ke pikiran lain selain sakitnya perutku. Dan sampailah si Mas, menyelamatkanku dari siksaan perut di pom bensin yang emang ada toko jualan buku terbitan Gramedia, tapi bukan Gramedia yang aku maksud.

Setelah tragedi Laxing itu, kami pun sholat. Sambil ngebayangin suatu saat bakalan punya surau yang bagus kek yang ada di pom bensin ini, dengan taman yang bagus juga. Amieennn…

Perjalanan berlanjut, ke Atm permata yang aku maksud di cibubur town square yang depannya adalah toko kreatif berjudul ACE hardware. Hehehe, kalo udah nyampe sini, aku paling ngga tahan klo ngga bilang bahwa Cibubur adalah small town yang Big Town. Gimana enggak, semua kebutuhan dari A ke Z ada disepanjang jalan alternatif transyogi ini -kecuali Gramedia sih. Dan aku harus meng-amini omongan seorang bos bahwa Cibubur ini small town-nya Jakarta minus macet dan banjir. Hahaha…

24769115Yang paling berkesan, adalah saat perjalanan pulang. Setelah puas ngudek2 ACE hardware yang berakibat pada semakin panjangnya daftar barang -keinginan saya yang pengen saya beli dan sampe sekarang belon sanggup saya beli- dan mas yang tergiur ama barang2 yang kreatif tapi tidak dia budget untuk dibeli dan tidak sanggup menahan dan akhirnya terbeli. Puas ngerjain mas dipintu depan, saya yang tiba2 ngilang dan dia yang celingukan kebingungan, dan ketawa saya yang bikin heboh pengunjung laennya, maka kami pun melenggang pergi -diiringi dengan tatapan syukur mbak penjaga front door serta satpam. Tapi daftar kunjungan kami bertambah panjang, ketika saya tiba2 mengusulkan untuk mampir Top buah hanya karena penasaran isi toko itu apa.

Puas ngubek2 toko itu, yang ternyata lumayan murah juga kami pun memutuskan pulang. Saya hanya membeli jeruk kecil setengah kilo seharga Rp.5000.-. Kami pun pulang. Dalam perjalanan, seperti biasa, kebiasaan si mas adalah kalo kami di jalan, dan saya pegang makanan, biasanya dia minta disuapin.

“Uh, jeruknya kecut (asem-Jawa-. Red) mas! ” kataku sambil tetap menyuapkan jeruk itu ke mulutnya.

“^$*%$^%&*&%^%__()&&^#” kata masku berkomentar.

“Ngomong apa?” tanyaku karena aku ngga denger apa yang dia bilang.

“Iya ih, kecut …xxx…bla bla..bla… manis.. bla…bla..bla..” hanya sepotong2 yang berhasil aku dengar.

“Lha kan emang kecut tadi aku bilang” kataku agak sewot.

“Nduk, aku tadi bilang. Jeruknya emang kecut, tapi kok jadi manis ya dimulutku. Apa karena kamu yang nyuapin??” Dzing…

Aku speechless.

Penyakit budeg temporary-ku emang suka muncul tak diduga disaat yang ngga tepat. Tapi lalu masku ketawa, sambil ngomong gini.

“Susah ya punya pacar budeg, mo romantis malah jadinya bertengkar, hahaha…”

Dan kami pun tertawa…

Yang jelas, malam itu. Langit memang sedang ramah.  Setelah beberapa hari ini Bogor selalu diguyur hujan. Malam itu pula, aku merasa tidak ada lagi yang aku inginkan selain tetap disampingnya. Karena aku tidak perlu berusaha sempurna hanya untuk dapat berada disisinya.

-Na-




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Mei    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Posts & Halaman

    pages

    permatasakti’s


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.