hari ini, hari terakhir saya berumur 24 th. Waktu saya untuk bertambah secara angka (tapi berkurang secara kesempatan hidup didunia) sudah memasuki hitungan mundur. Tadi pagi,begitu bangun, saya sudah engga se-excited biasanya dalam menanggapi bertambahnya umur saya ini. Salah satu sebabnya sih karena kesadaran berkurangnya kesempatan saya hidup seperti yang barusan saya tuliskan. Saya tiba-tiba jadi pengen flash back ke hari dimana saya ulang tahun pada tahun-tahun sebelumnya. Engga banyak sih unforgettable moment yang bisa saya ceritakan berkenaan dengan ulang tahun, karena biasanya saya melaluinya dengan rutinitas biasa saja.
Ulang tahun ke 17, awal saya akan dianggap dewasa secara identitas. Paling engga diumur itu kita akan diakui secara yuridis (dengan bukti udah boleh bikin KTP) kedewasaan kita.
Surprise datang dari mama. Di umur-umur itu, mama adalah sosok yang sangat temperamental buat saya. Saya enggak bisa cerita dengan bebas kepada beliau jika ada sesuatu yang mengganjal dalam hati. Jujur, saya emang enggak dekat secara batin dengan mama, meskipun hal itu engga mengurangi sedikitpun rasa sayang saya kepada beliau. Menurut saya, dimata mama waktu itu, saya adalah anak yang super nakal dan susah sekali di nasehatin. Saya sering melanggar perintah mama dengan kelakuan yang sedikit di atas ambang batas kesabaran. Enggak jarang saya tidur diluar rumah karena mama sudah jenuh menunggu saya pulang dari nongkrong bersama dengan geng motor yang kebanyakan anak cowok itu. Tapi, saya sungguh merasa tertohok ketika di ulang tahun ke 17 itu, mama, tiba-tiba pulang dan membawakan kue tart berwarna biru yang dihiasi dengan bunga-bunga nan cantik itu. Mengucapkan selamat ulang tahun dan memanjatkan doa terdalam untuk saya. Saya, anaknya mama yang tomboy dan gemar membuat mama marah, kontan menitikkan air mata, kembali pada kodrat saya sebagai perempuan.
Ulang tahun ke 21. Angka dimana saya akan mulai dianggap dewasa secara mental.
Pacaran serius untuk pertama kalinya. Dapet kado yang luar biasa istimewa dari laki-laki yang menganggap saya istimewa. Saya dibuatkan film documenter singkat tentang hidup saya. Apa yang sudah saya alami dan apa yang telah saya capai. Singkat banget sih filmnya, tapi saya bahkan masih inget hari dimana saya baru saja membuka kado itu, dan saya, yang katanya temen kampus adalah preman Teknik ini, menangis bombay.
Ulang tahun ke 22.
Sedang giat-giatnya mengerjakan skripsi. Target saya adalah bisa lulus diumur ini. Sudah empat tahun lewat saya kuliah. Demi mengejar gelar sarjana sesuai dengan rencana, maka saya ikhlas ngekost di dua tempat waktu itu. Satu di Solo, satu lagi di Jogja. Sengaja ngekost di Jogja demi mendekati dosen yang sedang kuliah S3. Saya sedang marah dan kesel dengan mas hari itu. Kesel banget, tapi lupa keselnya karena apa. Siang, menjelang ulang tahun, saya nekat berangkat ke Jogja sendirian. Dengan perasaan marah berkecamuk, saya naik bis dan meluncur ke kost di Jogja. Saya sedih, karena dimata saya waktu itu, si mas adalah lelaki terkejam ‘ampun dah, dangdut banget gua ternyataaaa…’ karena engga mau ngejaga saya, dan menjadi unforgiving adalah karena hari itu merupakan hari dimana saya akan berulang tahun. Saya curiga dia engga inget hari ulang tahun saya. Nyampe di Jogja, saya masih marah dan kesel. Sengaja saya berniat untuk ngajak temen saya, si Guffy (nama aslinya Gufron, sebuah pelajaran untuk tidak memberikan nama kepada anak kita demikian, hihihi…) untuk dinner nanti malam. Kesel banget saya. Biarin aja, saya tetep pengen merayakan hari jadi saya dengan tidak mengingat-ingat keselnya hati saya kepada si mas. Waktu sudah menunjukkan angka 18.00 WIB, tapi si Guffy belum juga nongol. Saya sudah sms dia sedari tadi. Saya jadi kuatir, karena langit Jogja sedang mendung saat itu. Capek nunggu, saya tiduran di kamar. Sampe kira-kira pukul 19.00, seorang temen manggil saya, katanya ada cowok nungguin di depan. Saya keluar dengan girangnya, lupa dengan semua kekesalan hati. Dan yang saya temui didepan kost adalah laki-laki itu, yang telah membuat hati saya meradang dari sejak tadi sore. Si mas, datang dengan muka kuyup keguyur air hujan yang turunnya nanggung. Dia tersenyum, saya pun demikian. Ini adalah surprise teristimewa dalam hidup saya. Tanpa pikir panjang, saya sesegera mungkin mengajak mas yang kedinginan makan diluar. That day, was the best day of my life.
Dan hari ini, was my last day of 24th. Entah kenapa, saya merasa tidak akan mendapatkan surprise apa-apa hari ini. Bahkan saya berencana untuk menikmati me-time besok. Hari pertama saya menjalani tahun ke 25 saya didunia. Mungkin melakukan perjalanan ke Bandung atau Jakarta sendirian. Sekedar melewatkan waktu dan merasakan waktu yang berlalu. Atau tidur aja seharian, seperti ketika saya melewati ulang tahun saya ke 24, setahun yang lalu. Udah hampir jam 12 malam, tidak ada tanda-tanda dari laki-laki itu untuk sekedar men-sms diriku dan bilang heepy b’day seperti tahun kemaren. Saya kelelahan menunggu, dan akhirnya tertidur. Sudah hampir 25 tahun saya melewati hari ini, 21 Maret. Masa’ iya saya engga sanggup melewatinya hanya karena engga dapet sms dari si mas?
Cileungsi, 20 Maret 09 – almost midnite.

comments