Featured

ketika saat itu tiba

ini adalah tentang luka lama. luka yang terasa sakit awalnya namun ketika luka itu menahun, maka bukan lagi sakit, tapi terasa kebas. ini adalah memori tentangmu ayah, orang yang membuat hatiku menjadi kebas tidak merasa.

tidak banyak yang aku ingat. satu saja yang selalu aku pertahankan di memori adalah ketika aku 5 tahun dan lenganmu terasa seperti pelukan hangat, membopong tubuh kecilku dan aku menyandarkan lenganku di lehermu.

lalu perlahan aku mulai lupa, bagaimana kita berbicara satu sama lain, bagaimana kita berdiskusi yang kadang hampir selalu berakhir dengan perdebatan panjang. aku yang masih sangat muda, anak kecil bagimu sehingga apapun yang aku bicarakan tentang perilakumu sama sekali tidak berbekas. kemudian sampailah kita di titik itu ayah. hari dimana aku untuk terakhir kali mengingatkanmu tentang bagaimana aku berpegangan pada tali yang rapuh, serapuh kepercayaanku kepadamu, serapuh hormatku padamu, tentang bagaimana engkau mungkin akan kehilangan aku jika engkau masih saja berkutat dengan tabiatmu dan enggan berubah.

dan kau pun melepaskan kami, putrimu.

ayah, akan ada hari dimana kamu tidak lagi muda. akan datang masa dimana kami-lah satu-satunya hartamu didunia. akan tiba saatnya dimana yang tertinggal hanyalah penyesalan. bahwa hidup didunia hanyalah tempat untuk mencari bekal dikehidupan yang kekal. bahwa ini semua hanyalah persinggahan.

ayah, engkau telah memilih. Untuk tidak menua bersama kami, tidak melewati liku hidup bersama kami. ayah, saat itu aku belum belajar tentang salah dan benar, yang aku tau hanya bertahan. ayah, sungguh, maafkan aku jika tidak ada rasa tersisa dihatiku untukmu.

Ayah, setelah bertahun berlalu. dibeberapa persimpangan kita sempat bertemu. tanpa sepatah kata, engkau menyadari bahwa kami, aku, tidak lagi sama dengan putri kecilmu dulu. Ayah, aku tau tak banyak yang engkau pinta, pun sejujurnya aku terkadang enggan memberi. tapi keriput di tanganmu, wajahmu, rambutmu yang tidak selebat dulu, gigimu yang tidak sekuat dulu, menceritakan banyak hal tentang kehidupan terjal yang engkau lalui.

Ayah, kini bahkan setelah engkau tidak lagi didunia bersama kami, air mata yang jatuh untukmu dapat kuhitung dengan jari. ayah, betapa sedih dan luka dihatiku terlanjur mengering bersama air mata bertahun-tahun. Maafkan aku ayah, yang tidak menangisi kepergianmu, merelakanmu pergi dan tidak mengusahakan lebih untukmu. Sungguh maafkan aku ayah, sejauh itu yang mampu aku berikan, sejauh itu saja yang mampu aku ikhlaskan.

Aku memaafkanmu ayah. Aku mengikhlaskanmu, bahkan sebelum waktu ini tiba. Bahkan saat ragamu masih ada, namun jiwamu selalu pergi setiap kali ada kesempatan. Tidak ada luka ayah, bahkan saat kita bertemu beberapa tahun terakhir, aku sudah tidak lagi terluka, aku hanya sedih melihatmu tak kunjung bahagia. aku menemukan duniaku, menciptakan kebahagiaanku, dan aku ingin merawatnya. berusaha menjadi lebih baik daripada yang engkau ajarkan padaku.

Aku memaafkanmu ayah. Bahkan sebelum engkau memintanya. Aku merelakanmu. Semoga amal ibadahmu diterima, dilapangkan kuburmu, dan diterangi dengan cahaya-cahaya kebaikanmu. Aku mungkin bukan putri terbaikmu, tapi aku mengingatmu, lengan hangatmu saat menggendongku, disetiap sujudku.

 

Iklan

Journey Of Neyla’s Little Corner Babyshop

Bismillah,

Inilah kali pertama saya akan mencoba menceritakan perjalanan bisnis yang saya lakoni. Jujur saja sebenarnya sampai detik ini rasanya masih janggal dan enggan menyebut ini sebagai bisnis, walaupun kenyataannya memang berlaku seperti bisnis dan berjalan seperti layaknya bisnis. Rasanya bagi saya seperti menjalankan hobi.

Bermula dari ketika Neyla lahir tahun 2010, saya yang saat itu bekerja sebagai karyawan swasta di grup Astra merasa punya gaji sendiri yang cukup banyak untuk memenuhi keinginan belanja demi mendandani anak semata wayang yang sedang lucu-lucunya. Hampir setiap bulan ga kurang dari 500ribu pasti habis untuk belanja pernak pernik kebutuhan bayi mulai dari sekedar headband, baju, kaos kaki, sepatu, mainan, apapun yang lucu-lucu.

Lalu mulai sadar bahwa kebiasaan shopping saya ini bisa saya manfaatkan untuk belanja dengan jumlah banyak dan dijual kembali, sisanya bisa saya pakai untuk anak sendiri. Berangkat dari kesadaran itu, akhirnya mulai searching beberapa penjual yang menjual grosiran. Masih pakai platform facebook, media sosial yang lagi booming saat itu. Dengan facebook pula saya memutuskan bikin account baru yang khusus untuk berjualan biar lebih fokus.

Account baru dibuat, tapi butuh waktu sekitar setahun sampai akhirnya saya ketemu mood lagi dan mulai mengaktifkan account tersebut dan mulai aktif berkenalan dengan beberapa orang. Perjalanan online dimulai dari sini. Malam-malam panjang saya lalui, karena waktu online dimulai jam 9 malam sampai jam 2 dini hari, mulai berkenalan, merapikan album-album, merapikan deskripsi, menjawab komentar sampai bikinin rekapan, dan ajaibnya, beberapa customer malam itu juga transfer, hahaha masih inget ada satu customer orang bandung yang order jumper2, ditransfer jam 2 dini hari. Antara senang tapi kaget juga liat semangat mak2, dini hari masih juga shopping.

Bermodalkan 5juta yang hanya dapat barang satu kontainer kecil, sampai akhirnya setelah dilakoni selama 2 tahun, barang dagangan yang tadinya sedikit banget beranak pinak sampai jadi satu lemari, beranak lagi sampai akhirnya rumah kami hampir jadi kayak gudang penyimpanan karena barang-barang disimpan dimanapun tempat kami bisa simpan, bawah kursi, belakang kursi, belakang pintu, bahkan kadang sampai bawah kasur.

Semua proses itu saya lakoni hampir 2 tahun tanpa kerasa, sampai akhirnya, pada beberapa kesempatan, rasanya semakin berat melakoni 2 peran, 2 tuntutan, 3 tanggung jawab, sebagai ibu, pekerja alias karyawan, dan pedagang yang dikejar-kejar customernya. Pekerjaan sebagai seorang Mechanical Engineer yang semakin membutuhkan konsentrasi karena beberapa project yang sedang saya pegang, disisi lain hobi baru sebagai pedagang yang juga semakin lama semakin menuntut perhatian karena sering kali juga ketemu customer yang ga bisa sabar menunggu, siang transfer maunya sore uda dapat resi. Akhirnya sering kelabakan pulang kerja buru-buru bungkusin paket dan kejar JNE takut ketutupan. Begitu terus sampai akhirnya dihadapkan pada satu titik saya harus memilih.

Dengan melihat kenyataan bahwa cepat atau lambat saya bakal resign juga, karena jika suatu saat suami mutasi maka saya pasti akan dihadapkan juga dengan pilihan pertahankan pekerjaan atau keluar, maka dengan itu, saya pun menyiapkan diri untuk resign dari pekerjaan yang dulu saya impikan. Pekerjaan yang dibanggakan oleh kedua orang tua saya. Dan januari tahun 2012, saya resmi berstatus pengangguran yang mulai belajar bisnis.

Uang pisah saya pakai untuk menambah modal, saya didorong suami untuk mulai buka toko offline. Awalnya niatnya sekedar display karena barang-barang yang ngga muat ditaruh dirumah. Modal digelontorkan untuk melengkapi toko dan biaya sewa. Tidak mudah awalnya. Sering kali toko sepi karena memang baru mulai mencari pelanggan. Saya yang jaga sendiri demi menghemat biaya operasional harus beberapa kali meninggalkan toko demi sekedar mengantar Neyla sekolah, atau pergi untuk urusan yang lain.

Toko yang masih sepi terselamatkan karena saat itu saya menarget setiap bulan minimal ada 100 paket pengiriman, dengan nilai transaksi sekitar 100-150ribu. Maka target bulanan online saya 10-15juta. Dibreakdown perhari, target harian saya 3-5paket. Dan dengan hanya mengandalkan facebook, Alhamdulillah target itu terpenuhi sehingga dengan laba bersih dari online, operasional toko dapat berjalan. Begitu terus sampai akhirnya ketemu ritme dan alhamdulillah di berikan satu karyawan yang dapat gantian sama saya di toko. Seiring dengan berjalannya waktu, bertambah pula pelanggan toko maka grafik omset offline pun naik, dari target 5juta perbulan sampai 10 juta perbulan.

Waktu setahun berlalu dengan cepat, sampai akhirnya kami harus pindah tempat karena ruko yang kami sewa sekarang tidak disewakan lagi melainkan dijual, dengan angka yang cukup fantastis di awal tahun 2013 yaitu sekitar 650juta. Belum mampu membeli, kamipun pundah dan sewa ditempat yang lain. Kali ini kami sewa dengan harga 18juta per tahun dan langsung disewa selama 2 tahun.

Tahun 2014 awal, saya berencana hamil anak kedua. Setelah 6bulan kosong, akhirnya karena dipikir2 pusing juga nungguin hasil ga kunjung hamil, maka memutuskan kuliah S2, ambil di UI jurusan Teknik Metalurgi. Bukan tanpa pertimbangan, jurusan yang lumayan complicated ini masih linier dengan jurusan saat S1 dulu yaitu Teknik Mesin. Berharap agar nantinya ijasah bisa saya pakai buat daftar dosen, maka Bismillah, saya ikutan tes SIMAK UI, dan lolos pada percobaan pertama. Alhamdulillah.

Efek dari mulai kuliah, berdampak pada bisnis. Yang tadinya saya pantau target online bulanan sampai 10juta, turun drastis sampai menyentuh angka 5juta perbulan. Saya masih keukeuh dan mikir, yaudah mungkin lagi sepi. Tutup mata dengan pergerakan diluar sana. Ditambah lagi, penjualan offline yang masih lancar cenderung stabil di angka 15juta perbulan. Yasudah, makin gelaplah saya. Konsentrasi kuliah, ditambah hamil pas 3 bulan saya mulai kuliah. Makin malaslah mengurus bisnis. Dan perlahan NLC makin kehilangan saya sebagai soulnya.

Sampai akhirnya, beberapa masalah muncul. Seperti beberapa barang yang tidak terkontrol kemana perginya, keuangan yang berantakan, serta kepercayaan yang disia-siakan. Saya hampir selesai kuliah S2, sambil mengerjakan tesis, saya mulai benahi manajemen. Ternyata mempercayakan 100% manajemen dan keuangan kepada orang lain membuka kesempatan orang lain tersebut untuk melakukan sesuatu yang salah.

Malam Ini,

Malam ini, bulan muncul setengah muram. bintang yang sekecil-kecilnya pun enggan menjenguk. seakan langit kelam tanpa alasan. juga angin menari tak sepenuh hati. tak tentu arah.

Begitu juga di hati ini keadaannya. ada sepi hendak menelantarkan. sedikit rindu jiwaku terbelenggu. juga rasa bersalah. maafkan perempuan ini. yang sering minta kamu temani. bila saat itu ia tau diri. kamu takkan menghilang begini…

Jakarta, Juli 2015

Allah tau, tapi menunggu

Hidup ini aneh, kadang lucu. Tapi satu hal yang saya ingat dalam perjalanan belajar bisnis saya adalah tentang beberapa keinginan yang dulu terasa sulit sekali dijangkau namun seiring perjalanan, ternyata sekarang satu persatu mulai menjadi nyata.

5be2d9866919c6dd80036359684ab5e4
http://www.pinterest.com

Saya ingat sekali tahun 2012, saat pertama kali resign dan saya memilih untuk sibuk memulai kegiatan baru, membuka toko bayi dilingkungan perumahan kami tinggal. Saat itu semua serba terbatas, tidak banyak yang kami, tepatnya saya punya untuk memulai bisnis ini. Langkah awal tentu saja harus punya tempat sendiri untuk sekedar display, karena stock barang yang lumayan banyak menumpuk banget dirumah sampai2 ruang tamu ditimbuni banyak barang.

Akhirnya Alhamdulillah, jalan Allah mempertemukan saya dengan pemilik ruko, singkat kata saya menyewa ruko tersebut dengan nominal 15jt pertahun. Murah ya, iyaaa sekarang…. tapi tahun itu terasa mahal bagi saya. Singkat kata, soft opening alhamdulillah berjalan lancar, saya mulai enjoy menikmati rutinitas baru dan mulai serius menekuni kegiatan baru ini. Waktu setahun berjalan dengan cukup baik, dan hampir tidak terasa. Saya pun punya satu pegawai saat itu. Akhirnya tibalah habis masa kontrak dan saya dihadapkan pada pilihan : pindah ke ruko lain atau beli ruko yang saya tempati saat ini, karena si pemilik berniat menjual ruko tersebut dengan harga yang tidak dapat saya bayangkan saat itu, 650juta. Ya Allah…

Galau, bingung tapi akhirnya saya memilih pindah. Dan berharap semoga peruntungan kami setidaknya sama dengan saat menempati tempat lama yang memang lebih strategis. Yang saya yakin, Allah sudah membagikan rejekinya dengan adil setiap harinya, bagi hamba-Nya yang meyakini, bahkan untuk semut saja Dia membaginya dengan adil, apalagi bagi kita, manusia yang berusaha. Singkatnya, kami pindah ke tempat baru di deretan yang sama hanya kali ini posisinya di tengah2. Untuk periode ini, saya menyewa 2 tahun dengan nominal 18jt/th. Alhamdulillah.

Waktu 2 tahun hampir tidak terasa. Banyak hal terjadi di tahun-tahun itu, 2013 sampai 2015, yang lain waktu akan saya ceritakan beberapa detailnya. Beberapa misalnya, saat saya mulai bisnis hijab yang akhirnya berhenti di tengah jalan karena inconsistency, lalu saat saya mulai melepas KB dan berharap hamil, tapi ga kunjung hamil sampai akhirnya saya daftar S2, sebagian karena memang pengen sekolah lagi, sebagian karena desperate ga hamil-hamil, yang akhirnya hamil juga di awal semester kuliah. Sampai akhirnya keputusan kami harus pindah rumah karena rumah yang kami tempati saat itu hanya 2 kamar sedangkan penghuni rumah kami (5 orang saat itu) akan bertambah satu lagi dan kami merasa akan kurang ruang gerak terutama untuk anak2.

Long story short, kami pindah ke rumah yang baru, setelah rumah kami terjual (ke tetangga sendiri), pada saat itu juga saya yang sedang hamil tua harus mulai mikir masa depan toko, karena lagi2 sudah habis masa kontrak. Kami yang saat itu sedang menganggarkan pengeluaran untuk renovasi rumah baru (menambah beberapa kamar dan ruangan) pun harus merogoh kembali kantong lebih dalam karena masalah yang sama terjadi di ruko kedua, rukonya dijual! Pilihannya kembali menjadi membeli ruko ini atau pindah lagi, untuk ketiga kalinya. Ya Allahh….

Akhirnya, dengan pertimbangan dan perhitungan yang cukup membuat pusing, campur bingung campur was-was. Saya dan suami memutuskan untuk membeli ruko yang kami tempati saat ini. Harga yang diminta pemilik adalah 680jt, kami tawar sampai akhirnya dapat 670jt. Ya Allah, angka yang sangat fantastis bagi saya. Karena waktu itu status kontrak saya masih ada, maka pembayaran uang ruko kami cicil 3x, 200juta sebanyak 2 kali lalu terakhir 270jt diakhir masa kontrak. Dan Alhamdulillah, berkah Allah, sang pemilik menyetujuinya.

Hamil tua, kuliah semester 2 yang lagi masuk masa ujian akhir, rumah sedang di renov, toko yang harus dibayar, dan terakhir suami yang kerjaannya dipindah ke pulau lain sehingga kami harus LDR. Lengkaplah sudah apa yang saya rasakan saat itu. Karena rumah sedang di renov, maka pilihan tempat tinggal kami saat itu adalah sewa tempat lain, atau tidur di lantai 2 ruko yang statusnya saat itu separuh milik kami, separuh milik orang lain. Dengan pertimbangan menghemat biaya, akhirnya kami (saya, mama, adek, neyla) pun tinggal sementara di lantai 2 ruko kami selama hampir 3 bulan.

Ga usah dibayangkan bagaimana rasanya kami yang tadinya menghuni rumah, lengkap dengan dapur yang walau kecil tapi cukup bagi kami, sedangkan diruko, dapur darurat kami sering banget keguyur hujan karena kami posisikan diluar untuk mencegah bau masuk, dan selain itu meminimalisir resiko tabung meledak dan lainnya. Intinya memang berkurang kenyamanan kami, terutama mama yang suka sekali kebersihan.

Perut saya sudah semakin besar, harus naik turun tangga saat ingin beraktivitas. Cukup melelahkan dan membuat frustasi. Namun harus bertahan dan kuat karena saat itu bisa dibilang saya adalah kepala rumah tangga sementara suami sedang bekerja di kota lain. Alhamdulillah tepat sebulan sebelum bayi Pelangi lahir, rumah sudah siap ditempati. Pun demikian juga ruko yang akhirnya selesai proses jual beli.

2 tahun berlalu setelah saat itu, dan kali ini insyaAllah saya akan membuka kembali cerita baru dalam perjalanan bisnis saya. Ruko lama, ruko dengan posisi strategis (hook) yang dulu adalah tempat pertama saya memulai mimpi ini, dijual kembali oleh pemiliknya (setelah beberapa kali ganti rencana). Walau dengan harga yang cukup fantastis, 850jt.

Apa yang kita kira saat ini adalah sesuatu yang paling kita inginkan, sabarlah, barangkali rencana Allah lebih indah, dan begitulah yang terjadi pada cerita saya, Allah memilihkan skenario yang lebih indah, yang tepat pada waktunya, walau jalannya harus berputar, melewati batu2 kerikil dan rintangan, tetaplah tawakal, dan berprasangka baik padaNya 

caa38652a376e23d5e19a3f33babb8b7.jpg
http://www.pinterest.com

Kali ini dengan Bismillah, dan kembali menghela nafas panjang, tabungan yang tadinya untuk kami pakai beli rumah di balikpapan, akhirnya kami pakai untuk membeli ruko yang tadinya saya impikan. Ruko yang 4 tahun yang lalu saya harap bisa membelinya, namun baru saat ini menjadi kenyataan, dan bahkan dengan ijin Allah, saat ini saya hampir memiliki 2 ruko. Ya Allah… Maka nikmat mana yang kamu dustakan. Yang saya sadari, bahwa jangan putus asa bermimpi, jangan berhenti memimpikan cita-cita karena Allah tau, tapi Dia meminta kita untuk menunggu. Apa yang kita kira saat ini adalah sesuatu yang paling kita inginkan, sabarlah, barangkali rencana Allah lebih indah, dan begitulah yang terjadi pada cerita saya, Allah memilihkan skenario yang lebih indah, yang tepat pada waktunya, walau jalannya harus berputar, melewati batu2 kerikil dan rintangan, tetaplah tawakal, dan berprasangka baik padaNya. Bukankah Allah swt adalah seperti apa yang disangkakan hambanya, maka berprasangka baiklah, niscaya apa yang diinginkan akan menjadi nyata, lewat jalan yang kita tidak duga.

Tentang mimpi lainnya

image

Ini dia senjata untuk menembus mimpi saya berikutnya,
Jadi mahasiswa di kampus depok. Kembali ke dunia pendidikan, menjadi kosong untuk sekali lagi diisi.

Minggu besok, adalah gerbang pertama yabg harus saya lalui.
Saya tidak tau apakah saya akan lolos menembus gerbang itu pada percobaan pertama ini ataukah harus kembali lagi tahun depan dan mencoba lagi, entahlah.

Saya serahkan saja pada jodoh kali ini,
Saya harap pertarungan cukup sekali saja,
Karena sungguh, yang tidak mudah bukanlah mengasah kembali otak untuk diajak berpikir,
Tapi lebih kepada waktu yang demikian cepatnya bergulir, melenakan saya bahwa masih banyak waktu dan masih bisa bersiap, tapi ternyata yang cepat itu memang waktu itu sendiri.

Merelakan waktu bergumul dengan peri kecil itu, untuk sekedar corat2 kedua buku tebal ini, buku yang tidak pernah saya sentuh kalo ngga terpaksa ikut ujian saringan. Semoga cukup sekali ini saja, dan saya cukup kecil untuk bisa lolos saringan.

Rabb,
Kabulkanlah, mudahkanlah, jodohkanlah aku dengan mimpiku kali ini.

#catatan di malam yang super galau#

Another Dream may Come True

Sampai detik ini, saya belum berani menyebut diri sebagai Entrepeneur. Entah mengapa.Bisa jadi saya kurang pede, atau bisa jadi karena alasan lainnya. Seringkali saya menyebut diri saya sebagai pengangguran bahagia, yang ngga lagi dikekang peraturan sebagaimana ketika saya diikat pekerjaan dahulu, tapi tetap memiliki target-target tertentu untuk sesuatu yang saya kerjakan sekarang.

Yang pastinya selalu saya utamakan adalah kepentingan gadis saya. Jadwal harian saya, pasti menyesuaikan kesibukannya. Begitu yang terjadi saat ini. Dan saya sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, karena gadis cilik itu adalah prioritas utama.

Pada diskusi dengan beberapa teman jaman SMA, walopun sama-sama saling memahami, persimpangan pilihan antara menjadi wanita bekerja dan full time mom, tetap saja hal demikian, tidak selalu mudah untuk ditemukan kesimpulannya

Selalu berakhir dengan kesimpulan bahwa semua pilihan baik, pasti ada resikonya dan tidak ada yg menjadi lebih baik dari yang lain, baik yang memilih antara menjadi full time mom maupun working mom.

Saya, dengan backgroud keluarga yang tidak biasa, pun pada awalnya mendapatkan diri pada semacam keraguan. Memiliki suatu pekerjaan dengan gaji yang teratur setiap bulannya menjanjikan perasaan aman, nyaman belum tentu. Tentu saja saya memiliki sedikit trauma terhadap figur suami yang akan meninggalkan istrinya begitu saja, seperti yang diperbuat papa terhadap mama. Tentu saja saya enggan menghadapinya lagi, sehingga ketika berpikiran tentang ini, memiliki pekerjaan yang relatif stabil secara gaji dan penghasilan, seakan-akan merupakan seutas tali tempat berpegangan kala keadaan rumah tangga goyah.

Tapi saya tidak ingin menjadikan trauma masa kecil itu menghantui dan membuat saya melakukan pekerjaan hanya karena takut. Iya, rasa takut itu pasti ada. Tapi saya serahkan semua kepada Alloh swt, pencipta segala kemungkinan dan pelindung yang paling kekal.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya sebagai Enginner di departermen R&D sebuah perusahaan dalam group Astra. Dan alhamdulillah, sampai detik ini saya tidak menyesalinya.

Pada akhirnya sebuah kepasrahan akan melahirkan sesuatu yang hasilnya jauh dari apa yang kita angan-angankan. Menjauhkan diri dari apa yang kita takutkan akan terjadi. Percaya bahwa Alloh akan menjaga kita dalam kepasrahan dan usaha kita.

Saya belum pernah sebahagia saat ini. Melimpah kasih sayang yang saya berikan untuk buah hati kami. Tetap produktif dan menghasilkan sesuatu, walopun mungkin tidak banyak, tapi ini sudah banyak dan lebih dari cukup untuk saya. Apapun dan berapapun pastinya indah dan cukup jika disertai dengan rasa syukur. Alhamdulillah.

Saya siap meraih mimpi berikutnya, menjadikan diri sebagai self employee dengan keragaman bisnis yang siap saya tapaki. Satu hal yang membuat saya menyenangi apa yang saya lakukan adalah, dengan menjadi seperti sekarang, saya lebih aware terhadap orang lain. Memberikan satu atau dua orang wanita-wanita yang kurang beruntung dalam pendidikan, menjadikan mereka setidaknya berguna untuk keluarganya. Itu membahagiakan.

Semoga segala rintangan didepan dapat segera teratasi. Semoga mimpi yang lebih tinggi dapat segera tercapai. Tanpa harus ada yg dikorbankan. Pasti bisa.

 

 

anak (kecil) jaman sekarang

Siapa yang menyangka bahwa anak sekecil itu, 2tahun 5 bulan, sudah memendam marah dan dendam.

Malam ini, seperti biasa sudah tiba waktunya saya menina-bobokan neyla. Putri kecil saya yg baru berumur 2tahun 5 bulan.

Seperti biasa juga, saat dia memegang blackberry saya, yang dia ingat adalah video video yg isinya adalah rekaman kegiatannya.

“Lambuk, bunda lambuk” katanya sambil nunjuk2 video dia potong rambut
“Habis nonton ini, lgsung bobo’ ya?” Kataku bernegosiasi
“Iyaa” katanya

Lalu dia melihat video potong rambutnya dr awal sampe selesai

Ternyata ngga puas, dia menunjuk2 video berikutnya

“Sekolah, sekolah” katanya sambil nunjuk video gambar dia sedang senam pagi bersama teman2nya
“Habis ini lgsung bobo’ ya?” Kataku sekali lagi bernegosiasi
“Iyaa” katanya lagi.

Lalu diputarlah video senam itu sampe selesai.

Tapi dia masih minta lagi, dan akhirnya saya mengambil sikap tegas dengan mengambil handphone dan meminta dia tidur.

Tapi neyla justru marah dan minta pindah ke kamar amang (nenek)nya. Hati saya meradang sedih seketika.

Saya bujuk dia, “Neyla tidur sama bunda aja ya?” Tapi rupanya dia sudah terlanjur kesal. Dibukanya pintu kamar kami dan diketuk2lah pintu kamar amangnya.

Tidak lama kemudian, saya intip dr jendela, buah hati saya sudah tertidur pulas. Dengan sedih saya kembali ke kamar dan memikirkan kejadian barusan.

Anak saya itu, ternyata temperamennya keras. Dia berkarakter, dan berkeinginan keras. Hampir sama dengan saya. Maka sebenarnya cara menghadapinya bukan lagi dengan ancaman, tapi mengalah sambil memberi pengertian.

Saat ini pada saat ancaman itu datang ke dia, mungkin dia akan menuruti. Tapi nanti ketika dia beranjak besar, pasti dia akan menuruti pemikirannya.

Hmmhh.. Anak sekecil itu, sudah mampu membuatku kewalahan dengan sikap dan perilakunya.

Saya pikir saya akan kesepian malam ini. Tapi untunglah mama membuka pintu kamar, dan neyla-pun saya ‘culik’ balik lg ke pelukan saya.

Baik-baik sama bunda ya neyla sayang. Bunda tidak bisa memejamkan mata jika tidak ada kamu disisi bunda.