Another Dream may Come True

Sampai detik ini, saya belum berani menyebut diri sebagai Entrepeneur. Entah mengapa.Bisa jadi saya kurang pede, atau bisa jadi karena alasan lainnya. Seringkali saya menyebut diri saya sebagai pengangguran bahagia, yang ngga lagi dikekang peraturan sebagaimana ketika saya diikat pekerjaan dahulu, tapi tetap memiliki target-target tertentu untuk sesuatu yang saya kerjakan sekarang.

Yang pastinya selalu saya utamakan adalah kepentingan gadis saya. Jadwal harian saya, pasti menyesuaikan kesibukannya. Begitu yang terjadi saat ini. Dan saya sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, karena gadis cilik itu adalah prioritas utama.

Pada diskusi dengan beberapa teman jaman SMA, walopun sama-sama saling memahami, persimpangan pilihan antara menjadi wanita bekerja dan full time mom, tetap saja hal demikian, tidak selalu mudah untuk ditemukan kesimpulannya

Selalu berakhir dengan kesimpulan bahwa semua pilihan baik, pasti ada resikonya dan tidak ada yg menjadi lebih baik dari yang lain, baik yang memilih antara menjadi full time mom maupun working mom.

Saya, dengan backgroud keluarga yang tidak biasa, pun pada awalnya mendapatkan diri pada semacam keraguan. Memiliki suatu pekerjaan dengan gaji yang teratur setiap bulannya menjanjikan perasaan aman, nyaman belum tentu. Tentu saja saya memiliki sedikit trauma terhadap figur suami yang akan meninggalkan istrinya begitu saja, seperti yang diperbuat papa terhadap mama. Tentu saja saya enggan menghadapinya lagi, sehingga ketika berpikiran tentang ini, memiliki pekerjaan yang relatif stabil secara gaji dan penghasilan, seakan-akan merupakan seutas tali tempat berpegangan kala keadaan rumah tangga goyah.

Tapi saya tidak ingin menjadikan trauma masa kecil itu menghantui dan membuat saya melakukan pekerjaan hanya karena takut. Iya, rasa takut itu pasti ada. Tapi saya serahkan semua kepada Alloh swt, pencipta segala kemungkinan dan pelindung yang paling kekal.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya sebagai Enginner di departermen R&D sebuah perusahaan dalam group Astra. Dan alhamdulillah, sampai detik ini saya tidak menyesalinya.

Pada akhirnya sebuah kepasrahan akan melahirkan sesuatu yang hasilnya jauh dari apa yang kita angan-angankan. Menjauhkan diri dari apa yang kita takutkan akan terjadi. Percaya bahwa Alloh akan menjaga kita dalam kepasrahan dan usaha kita.

Saya belum pernah sebahagia saat ini. Melimpah kasih sayang yang saya berikan untuk buah hati kami. Tetap produktif dan menghasilkan sesuatu, walopun mungkin tidak banyak, tapi ini sudah banyak dan lebih dari cukup untuk saya. Apapun dan berapapun pastinya indah dan cukup jika disertai dengan rasa syukur. Alhamdulillah.

Saya siap meraih mimpi berikutnya, menjadikan diri sebagai self employee dengan keragaman bisnis yang siap saya tapaki. Satu hal yang membuat saya menyenangi apa yang saya lakukan adalah, dengan menjadi seperti sekarang, saya lebih aware terhadap orang lain. Memberikan satu atau dua orang wanita-wanita yang kurang beruntung dalam pendidikan, menjadikan mereka setidaknya berguna untuk keluarganya. Itu membahagiakan.

Semoga segala rintangan didepan dapat segera teratasi. Semoga mimpi yang lebih tinggi dapat segera tercapai. Tanpa harus ada yg dikorbankan. Pasti bisa.

 

 

Iklan

2 thoughts on “Another Dream may Come True

    1. Utk sekarang ini saya menganggap proses yang saya alami ini adalah sebuah pembelajaran. Mengenai laba dan sebagainya mungkin belum diitung bener secara profesional. Selalu ada harga yg dibayar utk sebuah pembelajaran.

      makasih sudah berkunjung 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s