Malam Ini,

Malam ini, bulan muncul setengah muram. bintang yang sekecil-kecilnya pun enggan menjenguk. seakan langit kelam tanpa alasan. juga angin menari tak sepenuh hati. tak tentu arah.

Begitu juga di hati ini keadaannya. ada sepi hendak menelantarkan. sedikit rindu jiwaku terbelenggu. juga rasa bersalah. maafkan perempuan ini. yang sering minta kamu temani. bila saat itu ia tau diri. kamu takkan menghilang begini…

Jakarta, Juli 2015

untitled

Merenungi kembali apa makna cinta
Dan bagaimana seharusnya kita menjalani cinta
Karena akhir akhir ini yang terasa adalah ruang kosong dan hampa
Aku memilihmu sebagai teman hidupku selamanya, sebagai satu-satunya orang yang aku ajak bicara selamanya, namun akhir akhir ini kita semakin jarang melakukannya

Menunggu itu memang melelahkan
Dan ternyata menjalaninya denganmu pun, tidak selalu berakhir menyenangkan

Mungkin ini hanya sebuah fase yang harus kita alami, entahlah
Aku hanya ingin kita
Itu saja
Tidak lebih
Tidak kurang

Maafkan aku, tapi malam ini
Kehampaan ini membunuhku

my -boy- bestfriend

Namanya castilian, saya memanggilnya iyan. Dia tidak terlalu tampan, tapi punya tubuh yang tinggi semampai. Tapi itu semua tidak terlalu penting, karena dia baik hati. Dia adalah sedikit dari teman laki-laki yang saya kenal yang peduli tentang prestasi akademik, dia pendengar yang baik, dia juga tidak pernah berat hati menolong saya, bahkan keluarga saya. Dia, adalah satu-satunya sahabat laki-laki yang saya punya. Dia, adalah bukti saya pada dunia bahwa laki-laki dan perempuan bisa menjadi sahabat tanpa harus mengaitkan perasaan.

Umurnya kurang lebih sama dengan umur saya. Hal itulah yang menjadikan pembicaraan kami nyambung satu sama lain. Pertemuan yang tidak sengaja, setidak sengaja tentang cerita sampai bagaimana kami berakhir sebagai sahabat. Belum pernah saya se-nyambung itu ngobrol ama seorang laki-laki. Tanpa ada perasaan ingin dianggap apapun oleh dia. Bebas saja, menjadi diri saya sendiri. Iyan yang tadinya berniat menjadikan adik saya sebagai pacarnya, justru berakhir dengan menjadi sahabat saya. Sungguh lucu dunia ini.

Dia tidak hanya nyambung, tapi juga lucu. Iyan juga yang mengenalkan saya dengan dunia mapala, dunia hiking. Bahkan sempat saya dijodohkan dengan beberapa temannya kala itu. Tapi tidak ada yang bisa menyamai kenyamanan saya bersama iyan. Saya kadang masih ingin jaim dengan teman-temannya tapi tidak dengan iyan. Dia sahabat saya, sahabat terbaik saya.

Tidak hanya saya, mungkin dia pun merasa demikian. Beberapa malam minggu jarang dia habiskan dengan pacarnya dia justru mencari saya. Sambil bersepeda motor, kami mengunjungi drive thru Mc donald dan memesan ice cream cone kesukaan kami. Lalu beberapa jam kedepan, kami pasti sudah tenggelam dalam cerita tentang angan-angan, dan mimpi yang hendak kami raih.

Semester ketiga tahun 2003, di semarang adalah kala terakhir kami bertemu. Beberapa tahun berpisah tidak membuat dia berubah terhadap saya. Baginya saya adalah sahabat perempuannya. Dan iyan, masih saja lucu, spontan dan nyambung, selama apapun kami terpisahkan. Kami akan cerita jujur satu sama lain tanpa takut dinilai satu dengan yang lain.

Tapi itu semua berubah…

Satu kabar saja dari mamanya. Membuat saya seketika kehilangan sahabat terbaik yang pernah saya punya. Orang paling loyal dan baik hati dalam hidup saya. Tempat dimana saya melihat dunia ini -yang kala itu hancur berantakan didepan saya- dengan mata normal. Orang yang berkali-kali menyadarkan saya bahwa mimpi-mimpi didepan masih layak untuk diperjuangkan dan saya mampu melakukannya. Saya kehilangan sahabat istimewa saya, tepat setelah dia melakukan pernikahannya.

Sempat kami bertemu sebelum pernikahan itu -terpaksa- dilakukan. Dia masih iyan sahabat saya, yang bercerita dengan jujur. Bahwa dia ingin membuktikan kepada keluarga si pihak perempuan bahwa dia mampu menjadi seorang mantu yang bisa dibanggakan. Dia merasa harga dirinya terkoyak oleh keluarga pasangannya. Sesaat saya merasa bahwa sahabat saya yang dulu, begitu bangga dengan dirinya. Bangga dengan ke-apaadaan-nya, tiba-tiba memudar dan lama-lama hilang. Terganti menjadi laki-laki yang terluka egonya oleh cinta, dan dibutakan oleh ‘dendam’ dan disibukkan dengan pembuktian kepada keluarga istrinya.

Saat itu juga, saya disadarkan oleh kenyataan bahwa mungkin disinilah jalan kami akan berpisah. Saya masih akan fokus mengejar mimpi-mimpi yang dulu selalu kita bicarakan, sedangkan dia, harus seketika menjadi dewasa dan mengayomi keluarga barunya. Sejak itulah kami terpisah dan hampir tidak pernah lagi bertukar kabar dan sapa.

Dan malam ini… Saya rindu sahabat lama saya. Saya rindu iyan…

Sahabat, dimanapun kamu berada. Ini yang ingin aku katakan. Senang sekali, dan bahagia rasanya saat ini mengenang bahwa dulu kita punya hubungan yang indah dan murni. Senang sekali saat ini mengingat bahwa dulu, aku punya sahabat terbaik dalam hidupku yaitu kamu. Seperti apapun kamu mengambil keputusan atas masa depanmu, aku hanya ingin kamu tau wahai sahabatku, bahwa aku berterima kasih, atas kebaikan, atas kasih sayang, perlindungan, dan semua pertolongan tanpa balas yang kamu telah berikan.

Sahabat, semoga bahagia hidupmu saat ini. Sama seperti diriku. Dan sahabat, terima kasih sekali lagi, karena telah menjadi bagian dari hidupku…

-teruntuk sahabatku, castilian udhi sapta-

-newly- passionate

85699,1177778634,1Sebelumnya engga pernah menyangka akan merasa seperti ini. Terlebih ketika dia mengajukan permintaan menikah tepat pada perayaan 5 tahun masa perkenalan slash pacaran kami . Jika ada pertanyaan mengapa saya ingin segera menikah dengannya adalah karena satu hal, saya ingin ditemani. Entah mengapa, terasa lelah berjalan sendirian diantara semakin banyaknya masalah yang muncul di hadapan saya, berjalan beriringan dengan semakin bertambahnya umur.

Iya, alasan saya menikah selain tentu saja karena saya mencintai dia, tapi satu yang membuat saya merasa harus mensegerakan adalah karena saya lelah selalu sendirian. Terlebih semakin kesini, teman-teman yang senantiasa dapat diandalkan setidaknya untuk menghabiskan weekend, sekarang lebih memilih untuk sibuk sendiri-sendiri. Jangankan menyempatkan diri berburu barang-barang murah di daerah senen, ataupun glodok. Sekedar rujakan di kos saya saja sepertinya mereka tidak sempat lagi.

Hmmm.. iya, saya merasa sangat kesepian. Terlebih ketika pada usia produktif seperti ini saya semakin disibukkan dengan rutinitas kantor yang jamnya semakin lama semakin ngga menentu. Saya justru merasa dunia saya semakin sempit, dan di dunia sempit itu saya sendirian. Hmmmh… sedih sekali jka teringat waktu-waktu itu. Sampai saya tersadar bahwa walo bagaimanapun mencoba untuk tidak sampai ke titik ini -baca : kesadaran menikah- pada akhirnya semua manusia sesuai dengan fitrahnya, akan tergiring dengan sendirinya menuju ke fase ini. Semuanya memang seperti ada yang mengatur, bahwa saya tidak akan selamanya di temani oleh teman-teman saya yang mereka pun pada akhirnya akan menentukan jalan sendiri-sendiri yang kemungkinan berbeda dengan jalan yang saya ambil. Maka, demi menghilangkan perasaan kesendirian di dunia saya yang semakin lama semakin mengecil ini, mau tidak mau, saya harus memilih -dan membidik- salah satu teman saya untuk dijadikan teman seumur hidup, menemani saya sampai rambut menguban dan memutih (insyaalloh).

Niat yang sudah kian membulat itu rupanya engga begitu aja mulus. Bener kata orang, menuju pernikahan itu biasanya cobaan beragam, klo dalam bahasanya iqa (seorang teman dari Bandung) karena kalo menikah, semua ibadah nilainya berlipat ganda, jadi setan engga mau pahala kita bertambah demikian cepatnya sehingga berusaha untuk menghalangi pernikahan tersebut. Hmmm… masuk akal sih, but in my opinion, semua cobaan pada dasarnya untuk menaikkan level seseorang, dan apakah pahala menjadi berlipat karena pernikahan, wallohu a’lam, saya engga mau berurusan matematika dengan Alloh, itu hak Dia sebagai maha segala dari apa yang ada didunia ini.

Dan finally, hari itu, minggu 2 Agustus 2009,  saya pun menjadi muhrimnya.Laki-laki yang saya coba mengenal selama kurun waktu duatahun perkenalan, dan lima tahun pacaran. Bismillah, semoga saya memilih lelaki yang tepat, untuk diri saya dan anak-anak saya kelak. Amien.

Saya tidak menyangka, bahwa sebuah pernikahan akan merubah apa yang telah menjadi idealisme saya dalam memandang sebuah profesi atau posisi. Profesi dalam hal ini adalah pekerjaan yang berkaitan dengan sebuah instansi tertentu, ada hitam di atas putihnya, perjanjian antara manusia dan manusia. Tadinya, laki-laki itu mengenal saya sebagai sosok yang pantang menyerah dengan semua cita-cita tingginya. Seseorang yang percaya dengan quote-nya Andrea Hirata “bermimpilah setinggi langit dan Tuhan akan memeluk mimpimu itu”.

Saya masih Na yang itu. Yang ingin mimpinya di peluk Tuhan. Tapi yang pasti saya bukan lagi Na yang dulu. Begitu terobsesi untuk selalu menjadi nomor satu dan menjadi dragon lady, wanita dengan karier cemerlang. Dikelilingi fasilitas nomor satu dan dengan segala kemudahan dalam hidup. Saya sempat ingin menjadi seseorang yang mengejar itu semua. Semua semata-mata karena saya kira nilai kebahagiaan terletak pada itu semua, jika semua hal yang menyangkut hidup ini menjadi demikian mudah dan indah, bagaimana mungkin hidup tidak bahagia?

That’s my stupid thought. Dan saya menyadari kebodohan itu tepat ketika saya mengalami masa-masa dimana ternyata mengejar apa yang saya kira benar itu sungguh melelahkan. Terlalu banyak effort yang harus dikeluarkan untuk sesuatu yang saya belum yakin bahwa semua itu akan membuat saya bahagia. Effort yang saya yakin tidak akan seimbang dengan hasilnya apabila yang harus saya korbankan adalah waktu-waktu singkat saya bersama keluarga dan orang-orang yang saya sayangi. Pada titik tertentu, saya menyadari bahwa ternyata saya ngga seambisius itu, bahwa untuk menjadi bahagia tanpa kehilangan mimpi saya yang sebenarnya ternyata ngga harus se-ngoyo itu.

Then, I became who I am right now. Masih saya yang ingin terus bermimpi ingin menjadi dosen, karena dengan profesi itu saya punya banyak tabungan akherat dengan meninggalkan banyak ilmu yang berguna. Menuju itu, terlebih dahulu saya harus kuliah S2 (dosen S1 sekarang udah jarang boww) dan kesanalah panah impian saya saat ini saya tancapkan. Saya, masih orang itu yang memiliki mimpi berjenjang. Yang tidak lagi menganggap enteng tentang motherhood *ampuni saya para ibu-ibu didunia*, bahkan mulai menyadari bahwa justru dari rumahlah kunci semua ke kesuksesan yang di dapat di luaran sana. Dari rumahlah kebahagiaan itu dibangun, dan ditangan ibulah kunci diletakkan. Ngga mudah memang, tapi mungkin memang itulah alasan kenapa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

missing Solo

entik dan njawani...
entik dan njawani...

Saya cinta banget ama kota itu. Entah karena apa. Suasana malamnya mungkin, atau hanya orang-orangnya.
Saya ngga punya satupun sodara kandung disana. Yang ada hanya sodara dari mantan istri pertama papa saya. Bukan sodara sih menurut saya. Kenalan lama saja. Toh saya kenal baik dengan mereka ketika saya masih kecil banget. Sekarang? hmmm… lagipula jarang sekali saya mengunjungi mereka. Bukan keharusan menurut saya.
Tapi saya memang menyukai Solo, dan senang berada disana. Seperti selalu memanggil-manggil saya untuk pulang, padahal Solo is not really my hometown.
Kota yang menawarkan ke-apa adanya-an. Semua orang dari setiap sudut, mengenal satu dengan yang lain, dan tidak kuatir untuk menjadi asing.
Dulu, saya memang menolak keberadaan saya disana. Awalnya, saya menyesal menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan study di kota dengan kultur yang sangat berbeda dengan tempat saya.
Saya yang begitu meng-idolakan Surabaya sebagai tanah kelahiran saya, meskipun tidak besar disana.
Tapi semua itu berangsur berubah. Begitu saya kemudian membuka diri, menyatakan kepada diri saya bahwa saya akan memberikan kesempatan kepada kota ini untuk saya cintai.
Dan hasilnya, saya justru lebih mencintai kota Solo daripada tanah kelahiran saya sendiri.

Yang khas buat saya dari sebuah Solo, adalah dimana waktu disana berjalan dengan lambat. Bukan dalam artian yang sebenarnya sih, toh dimanapun kita, itungan sehari ya pastinya 24 jam.

hiasan burung-burungan dari kertas, perlambang harapan
hiasan burung-burungan dari kertas, perlambang harapan

Hanya saja, ketika disana, saya ngga perlu terburu-buru dalam melakukan aktivitas. Karena semua orang juga bergerak dengan kecepatan yang standar. Engga bakalan ada tuh motor yang dikendarai dengan kecepatan tinggi dilajukan dengan gerakan menyilang silang membahayakan pengendara lainnya. Semuanya melaju dengan kecepatan yang manusiawi. Selisih beberapa menit tetapi mengorbankan nyawa sendiri dan orang lain. Apalagi kalau kaki ini sudah melangkah memasuki kampus hijau. Suasana kampus yang sangat green, menambah kesejukan penghuninya. Kultur jawa yang adem ayem, membuat nyaman penduduknya.

Kalo inget kos-an saya apalagi. Meskipun letaknya nyaris berdekatan dengan kuburan cina *temen saya suka bilang giniati-ati loh na, kalo tiba-tiba malem2 ada orang jualan sate lewat didepan kamarmupadahal kamar saya dilante 2, artinyaaa…???* tapi tetep saja, tanpa menghiraukan kuburan cina yang ada di bawah kamar, saya tetp ngerasa nyaman dikamar itu. Apalagi klo temen-temen udah pada nongkrong di kamar saya yang suka dijadikan basecamp.

Engga begitu saja saya mencintai Solo. Prosesnya panjang. Tapi toh saya menjalani proses itu, dan hasilnya, sekarang saya malahan sangat mencintai kota itu. Tempat dimana saya merasa didewasakan, baik oleh kota itu, baik oleh penduduknya, baik oleh keadaan selama saya disana, oleh semua yang saya dapatkan disana.

Hmmm… saya kangen ama solo-banget!

-sang kekasih-

249017721Dia itu, lelaki kedua yang menempati tempat sekian lama diruang hati saya. Demikian juga saya dihatinya. Lelaki pertama? jangan tanya siapa. Meskipun waktu itu saya masih SMA, tapi untuknya, saya beri hati yang utuh dan berusaha menjaga meskipun terpisah karena saya harus kuliah di kota yang berbeda. Meski begitu, toh saya tidak lantas men-single-kan diri dan mencari yang lebih baik dari dia. Saya akui, karena memang waktu itu (tahun 2002) hape dan alat komunikasi lainnya masih jarang dan engga sepopuler saat ini, toh demi dia saya berusaha setidaknya pulkam sebulan sekali demi menjaga yang tadinya saya minta untuk dihentikan saja. Tapi dia? tidak sekalipun dia melihat keadaan saya di kota tempat saya belajar. Sudah saya minta dari awalnya, sebaiknya saya dan dia menghentikan apa yang baru saja kami mulai saat itu, mumpung saya belum terlalu sayang, mumpung saya masih bisa mem-back flash posisi dia menjadi teman saya kembali, bukan pacar. Tapi dia enggan.

Saya kira itu komitmen, entahlah… toh saya juga masih terlalu muda untuk mengenal komitmen saat itu. Tapi setidaknya saya tetap mencoba. Sampai saat itu, ketika komunikasi mulai membaik diantara kami (thn 2004, saya mulai punya yang namanya hape) sebuah teror masuk ke kotak inbox saya. Lebih dari itu, banyak miscall, dan telpon engga penting mengganggu saya dan menyebut namanya. Seorang cewek mengaku sebagai kekasihnya, membuat saya terhenyak dari posisi sebagai orang yang penting dihatinya. Sungguh, saat itu, saya kira saya sudah berusaha menyelesaikan masalah itu dengan cara yang saya anggap dewasa. Menanyakan kepada dirinya tentang cewek itu, sungguh, saya berusaha untuk mempertahankan apa yang saya kira penting. Tapi dia, tak sekalipun menanggapi pertanyaan saya, dan tidak sedikitpun dia berusaha memenangkan hati saya. Saat itu pula saya sadar, hubungan tidak sehat ini sudah terlalu lama, dan dia… pun tidak menggapai saya ketika saya meninggalkannya.

Yang membuat sakit, dan perih dan enggan untuk memulai lagi adalah perasaaan dihina dan dicampakkan. Saya menjadi demikian pendendam dan merasa diabaikan olehnya. Tidak nampak semua cerita pertama kali tangan saya digenggam oleh laki-laki, tidak nampak oleh saya, saat mendebarkan yang saya tunggu ketika bertemu dengannya, tidak nampak itu semua. Saya terkadung sakit. Dan itu tak termaafkan sampai tahun kedua setelah kami berpisah.

Tapi saya beruntung, oleh lelaki kedua ini, saya diajari banyak hal. Bersama dia, saya merasa banyak berubah dan sepertinya menuju perubahan yang lebih baik. Bukan sengaja saya mencari kekasih lainnya sehingga bertemu dengan lelaki kedua ini. Bagi saya, awalnya dia adalah sosok yang menyenangkan untuk berbagi cerita, mimpi, kisah, harapan dan semua uneg-uneg yang mengganjal hati. Sampai akhirnya kebutuhan akan dirinya menjadi tidak tertahankan karena kerapuhan saya akibat sakit hati. Dan dia, menggengam tangan saya, menggantikan lelaki yang pertama, dengan cara yang berbeda.

Dan cerita kami pun, dimulai pada tahun yang sama, dengan cara yang sederhana dan apa adanya. Toh sebelumnya saya memposisikan diri sebagai seorang adik untuknya. Dan dia, bagi saya adalah seorang kakak laki-laki yang tidak pernah saya punya. Bersamanya, meskipun komitmen itu tidak terucap dengan lantang, toh kami menyadari posisi kami di hati masing-masing. Perjalanan kami pun tidak selalu mulus dan lancar, beberapa kali kami terpaksa harus berpisah karena jalan menuju mimpi ternyata berbelok menuju arah yang berlawanan. Tapi toh kami tidak menyerah, dia sebenarnya. Dia yang tidak pernah menyerah meyakinkan saya bahwa masih banyak yang bisa kami lalui bersama. Dia yang selalu berusaha ada untuk saya dan mengerti mimpi saya, mengajarkan kepada saya apa itu komitmen, apa itu hubungan dan apa itu rasa saling.

Sampai kemarin malam, rasa sayang yang dia perlihatkan kepada saya tidak berubah. Malah semakin kentara. Betapa dia menjadi sosok yang demikian mudah terpengaruh dengan suasana hati saya. Kalo saya lagi seneng, dia bisa dua kali lebih seneng, kalo saya lagi bete -apalagi klo betenya gara2 dia- dia bisa dua tiga kali lebih sedih karena saya suka mengadakan gencatan senjata, engga sms, engga nelpon, engga mau bales sms, engga mau angat telpon.

250152571Iya, saya akui. Semakin kesini, sepertinya saya semakin kolokan ngadepin dia. Dia, tetap berusaha memperlakukan saya selayaknya wanita dewasa. Okelah, kadang kalo logika saya lagi jalan, saya juga mampu diajak mikir logis en dewasa, tapi jujur, menghadapi dia, saya lebih suka mengeluarkan sisi manja -dan kolokan- saya. Hehehe…

Beberapa bulan terakhir ini, rasa diantara kami seperti diuji. Saya yang menguji, kadang juga keadaan yang menguji. Entah untuk menaikkan ‘kelas’ kami atau justru mendewasakan pemikiran kami tentang suatu hubungan itu sendiri. Entahlah. Yang jelas, meskipun sampai detik ini, masih banyak diantara kami yang harus kami temukan titik temunya, dia, meskipun adalah lelaki kedua yang menempati ruang hari saya, tapi dialah saat ini pemilik hati saya sepenuhnya.

-naj-

kado terindah

090227usca_sm_rightsabtu malam, tanggal 21 maret 09. Hari pertama saya akan menjalani umur 25, quarter of century. Udah kebayang dalam benak saya nantinya, bakalan banyak pertanyaan penting ngga penting yang akan nyangkut di telinga saya bersamaan ketika ada orang yang menanyakan umur saya. Adegannya bakalan kayak gini nih.

Orang laen : na, udah umur berapa sekarang kamu?

Saya : *sambil malu-malu -bukan- kucing* emm, masih 25. Dalam hati saya berharap, semoga yang kedengaran di telinga orang itu adalah kalimat Masihnya, bukan angka 25-nya. Huh, tapi keknya saya salah.

Orang laen : wah, udah waktunya nikah tuh na. Bla.. bla..bla.. yadda yadda..

Yang kemudian adegan diakhiri dengan orang tersebut akan menceritakan tentang dirinya sendiri, kapan tepatnya dia nikah, udah punya anak sekian, de el el, de es be. Sebal! Siapa sih yang engga pengen segera mengakhiri status dari single menjadi tidak single? dan, saya sendiri juga engga pengen mengakhiri masa lajang karena norma tidak tertulis dimasyarakat yang sepertinya mengharuskan wanita berusia 25th keatas seharusnya sudah menikah. Sepertinya saya kudu buka E-booknya Lajang dan Menikah demi melihat contekan si alexa untuk berkelit dari pertanyaan serupa selama beberapa waktu kedepan. Sekedar mengisi amunisi buat ngadepin pertanyaan penting ngga penting begituan.

Ultah kali ini, engga bakalan saya lupakan. Bukan, bukan karena ada kejadian yang super duper menyenangkan seperti yang saya publish kemarin. Tapi justru di Ultah kali ini, kejadian engga enaknya banyak. Awal bulan, menjelang ultah, adek saya kecelakaan. Yang membuat saya, mau ngga mau ikutan terseret untuk sedikit banyak bertanggung jawab atas kejadian itu. Lalu puncaknya, adalah hari dimana saya memulai peralihan umur, si mas, not been there. Sekedar mengucap selamat seraya mengucap doa untuk saya pun enggak. Lebih parahnya lagi, ternyata dia lupa! Awalnya saya kira dia sengaja. Sudah beberapa kali saya protes, karena kadar keromantisan yang dia berikan kepada saya cenderung berkurang akhir-akhir ini. Tidak ada kejutan-kejutan kecil yang dulu jarang saya dapat, tapi sekarang malah tidak pernah sama sekali. Saya pikir (dan berharap sih…) dia sedang menyiapkan kejutan dengan pura-pura lupa. Tapi sialnya, dia lupa beneran bo’. Saya nunggu sms dia, mulai pulu 11 malam, sampai jam setengah tiga. Terlalu capek menunggu, saya pun tertidur. Swear, saya kecewa dengan dia.

23024400Pagi harinya, kebetulan hari sabtu. My free day. Saya ijin ama koordinator project, pengen me-time hari ini. Kekecewaan sama mas semalam, berusaha saya pendam dan tidak terlalu saya besar-besarkan. Meskipun tak urung bikin saya sedih juga. Begitu banyak ucapan dan doa datang dari teman-teman saya, baik melalui Mukabuku maupun sms. Semuanya mendoakan dan membuat saya merasa disayangi oleh mereka. Teman-teman yang lama sekali tidak bersentuhan dengan saya, hanya berkirim kabar seadanya, tapi justru mereka-lah yang engga pernah absen di hari saya ultah. Diantara kesemuanya itu, malahan dia, orang yang ngakunya cinta dan sayang kepada saya, melupakan hari lahir saya.

Hari itu, saya habiskan dengan mengunjungi lagi ibukota Jakarta. Lebih tepatnya menikmati lagi Busway dengan ke-crowded-an yang pasti akan kita dapatkan ketika menikmati transjakarta itu. Dan memutuskan untuk mengunjungi gramedia terbesar dan terlengkap di daerah ini. Sempat linglung juga sih, jalan sendirian tuh engga ada enaknya. Ngga ada yang diajak ngerumpi, mencela yang ngga penting dan ngebahas apapun mulai dari yang penting ampe yang ngga penting. Setiap sudut saya kunjungi, demi untuk nge-test ketertarikan saya saja. Ngeliat ada kartu ucapan yang bagus, kata-kata yang lucu, dan kepikiran untuk menghadiahi diri sendiri dengan kartu lucu ini, tapi begitu lihat harga yang ngga masuk akal untuk sebuah selembar kertas tebel bertuliskan kata-kata ajaib, kok sepertinya harganya ngga relevan dan terlalu fantastis. Saya urung menghadiahi diri saya kartu tersebut.

Akhirnya, setelah melewatkan beberapa waktu dengan sekedar jalan2 dan membuka-buka buku-buku mahal saya nemu buku yang sudah lama saya cari. Adalah buku terakhir dari trilogi Naga karangan Christoper Paolini : Brizingr ternyata udah ada di Gramed. Tapi saya hampir shock lihat harganya, 450 ribu bo’. Hampir setengah jeti sendiri. Gileee… mahal banget. Engga sanggup saya ngehabisin duit segitu, segila-gilanya saya sama bacaan. Saya lihat saja tuh buku, sambil ngiler dan dalam hati bertekad untuk ke malioboro jogja atau ke bandung, demi dapet buku dengan harga yang sedikit bersahabat. Perjalanan pencarian kado diri sendiri ini berakhir di buku-buku dari penulis lokal yang sedang berusaha mengembangkan diri melalui tulisan. Finally, pilihan saya jatuh ke buku dengan cover lucu dan judul lucu karangan penulis pertama, bukan nama-nama terkenal seperti Icha Rahmanti, Raditya Dika, Okke Sepatumerah dan lainnya. Saya pengen ngasih penulis baru ini kesempatan untuk menjadi penulis kesayangan saya. Dan, saya membeli kedua buku karangan Ika Natasha yang berjudul A Very Yummy Wedding dan Divortiare *salah ngga ya tulisannya… ;)*. Sangat aneh menurut saya, disaat sedang menurun-menurunnya minat saya sama yang namanya wedding and their friends, yang saya beli malahan buku yang bertema married and so on… trus, lebih anehnya lagi, buku yang saya beli, temanya bersebrangan.. hehehe… engga niat sih, tapi terlanjur tertarik ama covernya, jadi beli deh.

Udah bayar, saya mutusin untuk pulang. Sebelumnya, ganjel perut dulu, mampir D’Creeps beli minum ama makanan buat di jalan entar. Begitu udah naek di jembatan penyebrangan, tau-tau ada miskol dari nomernya si mas yang simpati. Damn! Saya ketahuan ganti nomer. Okay, saya emang kolokan. Ngambeknya ke mas juga agak engga kreatif, kesannya ngga niat banget getto. Dulu, saya punya dua nomer, yang dua-duanya keluaran Indosat. Karena yang terlanjur di publish adalah nomer yang raja murah, maka nomer yang Raja siang, engga dipake lagi. Nah, dalam rangka melancarkan acara ngambek saya ini, si Raja siang, saya pake lagi. Demi sekedar bisa buka mukabuku dan kirim-kirim sms ke selain nomer si mas. Nah, karena si mas udah miskol, saya udah kayak orang ke-gap gitu. Setengah mati saya nahan diri supaya bisa stay cool, dan engga meledak-ledak, marah-marah ngga jelas karena dia ‘hanya’ melupakan ultah saya.

mas : hun, lagi dimana? kok ganti nomer ga bilang-bilang?

Ya iyalah saya engga bilang ama kamu mas.. saya ini ngambek ceritanyaaaa….

saya : Lagi diJakarta, iya tadi baru aja.Kenapa mas?

See, saya nyoba lho… untuk bersikap dewasa menghadapi dia. Walopun tak urung hati saya sedih juga. Dia benar-benar lupa sepertinya…

Mas : Ketemuan yukk, aku kangen banget. Apa ketemuan di Jakarta aja ya? Besok renang ya, kayak minggu kemaren…

Saya : Na bakalan sibuk hari ini. Besok na masuk mas… Ketemunya minggu depan atau minggu depannya lagi aja.

Saya berusaha menghindari dia.

Mas : Yah, lama amat hun. Ketemu nanti aja yah…

Saya diem, engga ngebales lagi sms dari dia. Saya ngerasa engga sanggup lagi nerusin sandiwara ini.

Lalu masuk telp dari dia, saya udah didalam angkot. Otomatis saya engga bisa ngomong kenceng. Intinya saya bilang ama dia, jangan telp saya dulu, disamping saya enggan ngomong kenceng2, disisi laen, saya pasti engga bisa bohong ama dia kalo saya sedang agresi mulut ama dia.

23453781Nyampe di kost, dia telp lagi. Dia pikir saya masih di Jakarta. Lama-lama kesel juga, ngomong ama orang yang engga ngeh juga ama keadaan kita. Saya sebel bukan main, sembari mikir, apa iya sih perasaan cowok setumpul ini? Sudah sekian tahun, masa’ sedikit pun dia tidak menangkap bahwa ada yang engga beres dengan diri saya?

Mungkin memang iya, toh nyatanya sampe pembicaraan yang sengaja saya buat boring pun, dia tetep aja keukeuh engga tanggep ama maksud saya. Iya, saya tau, engga semua cowok kek Deddy Cobuzier yang pinter baca pikiran orang. But in this things, saya pengen dia inget. Sampe akhirnya saya senewen dan bilang, “Mas, kamu inget ngga hari ini tanggal berapa” dan seketika itu juga, hening sesaat kemudian terdengar “astagfirullah….then, I shout down his call at that moment.

Saya kesel banget. Dan ampe hampir jam 8 malem pun kesel saya belum juga ilang. Sulit banget buat saya bisa berpikiran positip untuk si mas kala itu. Dia bilang dia cinta dan sayang saya, nyatanya hari ultah saya aja dia engga inget.

Sampe pukul 8 lebih dikit. Ada ketukan di pintu depan. Saya mendengar suaranya. Dia datang, dari Jakarta ke sini, just to ask apologize. Awalnya, saya masih menjadi diri saya yang angkuh dan enggan menerima kata maaf. Tapi siapa coba yang tahan dengan tatapan mata itu. Saya tau, dia tulus meminta maaf kepada saya. Saya tau, bahwa saya engga berhak menvonis dia dengan hukuman terlalu berat, melupakan semua apa yang telah kami lalui hanya dengan satu kesalahan yang pastinya engga dia sengaja. Toh nyatanya ketika dia menanyakan apakah saya masih berniat untuk melanjutkan perjalanan kami, saya engga sanggup bilang ENGGAK. Iya, saat itu juga saya sadar. Rasa sayang saya, ternyata jauh lebih besar dari kemarahan dalam diri saya.

Malam itu, kami nekat ke Jakarta. Kado dari dia adalah mewujudkan mimpi saya jalan-jalan di Jakarta malam hari. Engga terlalu diniatin sih, tapi karena cisangkuy di kota wisata udah tutup maka kami pun melanjutkan perjalanan ampe ke Senayan. Perjalanan malam itu berakhir pukul 03.00 tanggal 22 Maret 09. Yang menjadi lebih indah adalah ketika dia bilang bahwa bapak, mba mung dan mba evi, mereka mengamini niat kami untuk nikah tahun ini. Itu adalah kado terindah sepanjang ulang tahun saya.