Allah tau, tapi menunggu

Hidup ini aneh, kadang lucu. Tapi satu hal yang saya ingat dalam perjalanan belajar bisnis saya adalah tentang beberapa keinginan yang dulu terasa sulit sekali dijangkau namun seiring perjalanan, ternyata sekarang satu persatu mulai menjadi nyata.

5be2d9866919c6dd80036359684ab5e4
http://www.pinterest.com

Saya ingat sekali tahun 2012, saat pertama kali resign dan saya memilih untuk sibuk memulai kegiatan baru, membuka toko bayi dilingkungan perumahan kami tinggal. Saat itu semua serba terbatas, tidak banyak yang kami, tepatnya saya punya untuk memulai bisnis ini. Langkah awal tentu saja harus punya tempat sendiri untuk sekedar display, karena stock barang yang lumayan banyak menumpuk banget dirumah sampai2 ruang tamu ditimbuni banyak barang.

Akhirnya Alhamdulillah, jalan Allah mempertemukan saya dengan pemilik ruko, singkat kata saya menyewa ruko tersebut dengan nominal 15jt pertahun. Murah ya, iyaaa sekarang…. tapi tahun itu terasa mahal bagi saya. Singkat kata, soft opening alhamdulillah berjalan lancar, saya mulai enjoy menikmati rutinitas baru dan mulai serius menekuni kegiatan baru ini. Waktu setahun berjalan dengan cukup baik, dan hampir tidak terasa. Saya pun punya satu pegawai saat itu. Akhirnya tibalah habis masa kontrak dan saya dihadapkan pada pilihan : pindah ke ruko lain atau beli ruko yang saya tempati saat ini, karena si pemilik berniat menjual ruko tersebut dengan harga yang tidak dapat saya bayangkan saat itu, 650juta. Ya Allah…

Galau, bingung tapi akhirnya saya memilih pindah. Dan berharap semoga peruntungan kami setidaknya sama dengan saat menempati tempat lama yang memang lebih strategis. Yang saya yakin, Allah sudah membagikan rejekinya dengan adil setiap harinya, bagi hamba-Nya yang meyakini, bahkan untuk semut saja Dia membaginya dengan adil, apalagi bagi kita, manusia yang berusaha. Singkatnya, kami pindah ke tempat baru di deretan yang sama hanya kali ini posisinya di tengah2. Untuk periode ini, saya menyewa 2 tahun dengan nominal 18jt/th. Alhamdulillah.

Waktu 2 tahun hampir tidak terasa. Banyak hal terjadi di tahun-tahun itu, 2013 sampai 2015, yang lain waktu akan saya ceritakan beberapa detailnya. Beberapa misalnya, saat saya mulai bisnis hijab yang akhirnya berhenti di tengah jalan karena inconsistency, lalu saat saya mulai melepas KB dan berharap hamil, tapi ga kunjung hamil sampai akhirnya saya daftar S2, sebagian karena memang pengen sekolah lagi, sebagian karena desperate ga hamil-hamil, yang akhirnya hamil juga di awal semester kuliah. Sampai akhirnya keputusan kami harus pindah rumah karena rumah yang kami tempati saat itu hanya 2 kamar sedangkan penghuni rumah kami (5 orang saat itu) akan bertambah satu lagi dan kami merasa akan kurang ruang gerak terutama untuk anak2.

Long story short, kami pindah ke rumah yang baru, setelah rumah kami terjual (ke tetangga sendiri), pada saat itu juga saya yang sedang hamil tua harus mulai mikir masa depan toko, karena lagi2 sudah habis masa kontrak. Kami yang saat itu sedang menganggarkan pengeluaran untuk renovasi rumah baru (menambah beberapa kamar dan ruangan) pun harus merogoh kembali kantong lebih dalam karena masalah yang sama terjadi di ruko kedua, rukonya dijual! Pilihannya kembali menjadi membeli ruko ini atau pindah lagi, untuk ketiga kalinya. Ya Allahh….

Akhirnya, dengan pertimbangan dan perhitungan yang cukup membuat pusing, campur bingung campur was-was. Saya dan suami memutuskan untuk membeli ruko yang kami tempati saat ini. Harga yang diminta pemilik adalah 680jt, kami tawar sampai akhirnya dapat 670jt. Ya Allah, angka yang sangat fantastis bagi saya. Karena waktu itu status kontrak saya masih ada, maka pembayaran uang ruko kami cicil 3x, 200juta sebanyak 2 kali lalu terakhir 270jt diakhir masa kontrak. Dan Alhamdulillah, berkah Allah, sang pemilik menyetujuinya.

Hamil tua, kuliah semester 2 yang lagi masuk masa ujian akhir, rumah sedang di renov, toko yang harus dibayar, dan terakhir suami yang kerjaannya dipindah ke pulau lain sehingga kami harus LDR. Lengkaplah sudah apa yang saya rasakan saat itu. Karena rumah sedang di renov, maka pilihan tempat tinggal kami saat itu adalah sewa tempat lain, atau tidur di lantai 2 ruko yang statusnya saat itu separuh milik kami, separuh milik orang lain. Dengan pertimbangan menghemat biaya, akhirnya kami (saya, mama, adek, neyla) pun tinggal sementara di lantai 2 ruko kami selama hampir 3 bulan.

Ga usah dibayangkan bagaimana rasanya kami yang tadinya menghuni rumah, lengkap dengan dapur yang walau kecil tapi cukup bagi kami, sedangkan diruko, dapur darurat kami sering banget keguyur hujan karena kami posisikan diluar untuk mencegah bau masuk, dan selain itu meminimalisir resiko tabung meledak dan lainnya. Intinya memang berkurang kenyamanan kami, terutama mama yang suka sekali kebersihan.

Perut saya sudah semakin besar, harus naik turun tangga saat ingin beraktivitas. Cukup melelahkan dan membuat frustasi. Namun harus bertahan dan kuat karena saat itu bisa dibilang saya adalah kepala rumah tangga sementara suami sedang bekerja di kota lain. Alhamdulillah tepat sebulan sebelum bayi Pelangi lahir, rumah sudah siap ditempati. Pun demikian juga ruko yang akhirnya selesai proses jual beli.

2 tahun berlalu setelah saat itu, dan kali ini insyaAllah saya akan membuka kembali cerita baru dalam perjalanan bisnis saya. Ruko lama, ruko dengan posisi strategis (hook) yang dulu adalah tempat pertama saya memulai mimpi ini, dijual kembali oleh pemiliknya (setelah beberapa kali ganti rencana). Walau dengan harga yang cukup fantastis, 850jt.

Apa yang kita kira saat ini adalah sesuatu yang paling kita inginkan, sabarlah, barangkali rencana Allah lebih indah, dan begitulah yang terjadi pada cerita saya, Allah memilihkan skenario yang lebih indah, yang tepat pada waktunya, walau jalannya harus berputar, melewati batu2 kerikil dan rintangan, tetaplah tawakal, dan berprasangka baik padaNya 

caa38652a376e23d5e19a3f33babb8b7.jpg
http://www.pinterest.com

Kali ini dengan Bismillah, dan kembali menghela nafas panjang, tabungan yang tadinya untuk kami pakai beli rumah di balikpapan, akhirnya kami pakai untuk membeli ruko yang tadinya saya impikan. Ruko yang 4 tahun yang lalu saya harap bisa membelinya, namun baru saat ini menjadi kenyataan, dan bahkan dengan ijin Allah, saat ini saya hampir memiliki 2 ruko. Ya Allah… Maka nikmat mana yang kamu dustakan. Yang saya sadari, bahwa jangan putus asa bermimpi, jangan berhenti memimpikan cita-cita karena Allah tau, tapi Dia meminta kita untuk menunggu. Apa yang kita kira saat ini adalah sesuatu yang paling kita inginkan, sabarlah, barangkali rencana Allah lebih indah, dan begitulah yang terjadi pada cerita saya, Allah memilihkan skenario yang lebih indah, yang tepat pada waktunya, walau jalannya harus berputar, melewati batu2 kerikil dan rintangan, tetaplah tawakal, dan berprasangka baik padaNya. Bukankah Allah swt adalah seperti apa yang disangkakan hambanya, maka berprasangka baiklah, niscaya apa yang diinginkan akan menjadi nyata, lewat jalan yang kita tidak duga.

happy turning 30 dear soulmate

Kepada langit yang hari ini bersinar dengan gegap gempita
Kepada bulan yang hampir sempurna
Kepada tanah yang kian rindu akan hujan… Dan tentu saja
Kepada pemilik segala ruh di muka bumi ini…

Kupanjatkan doa dengan segenap hatiku
Untukmu wahai jiwa yang kupilih untuk menjadi imam dalam hidupku
Semoga dipertambahan umurmu hari ini,
Segala rahmat tercurah olehNya untukmu
Diberikan umur yang berkah, jiwa yang semakin tawwadu, serta hati yang senantiasa merendah

Semakin dimatangkannya kedewasaanmu, senantiasa diberikan nikmat sehat, dan lisan yang tidak pernah lupa akan kalimat syukur

Semoga bersama, kamu dapat selalu membimbingku, menjadi makmum yang lebih baik dari hari ke hari. Dan kita pada akhirnya nanti dapat berkumpul kembali, menjadi suami dan istri yang tidak hanya dipertemukan olehNya dialam dunia ini tapi juga di akherat nanti…

Aku mencintaimu wahai jiwa yang kupilih.
Pun dengan segala kelemahan yang kamu miliki
Pun dengan segala keterbatasan yang ada pada dirimu
Aku mencintaimu karena semua itu

Semoga rasa ini akan selalu bersama kita, yang akan selalu datang sebagai pengingat kala rasa perlahan terasa samar

Kutitipkan doa ini lewat sujud sujud panjangku…

With Love,
Istrimu

memulai kembali

Tersadar…
Dunia ini memang memabukkan
Membuat kita sering kali cukup sibuk
Seolah olah 24 jam tidak pernah cukup
Seolah olah kita akan hidup selamanya disini

Tersadar…
Bahwa ini adalah sebagian dari mimpi
Menulis adalah sebagian dari jiwa
Sebagian dari diri saya
Dan saya telah bertahun-tahun melupakannya

Teringat..
Ada orang disana,
Dia yang selalu menggengam tangan saya
Dia yang jiwanya selalu kucinta
Dia yang selalu mendorong dan mengingatkan akan mimpi mimpi saya
Dia yang menjadi orang pertama yang berkata iyaa atas mimpi yang saya bangun
Dan tidak pernah berhenti membantu saya mewujudkannya

Mimpi menulis saya termakan oleh mimpi lainnya

Itu terjadi begitu saja
Dan sebagian adalah salah saya

Dunia sudah banyak berubah dari terakhir saya menjejakkan kaki di dunia menulis ini
Si kecil sudah beranjak balita
Sudah tidak menangis saat haus
Karena sekarang sudah pintar bilang ‘minum’
Sudah tidak membutuhkan tangan saya untuk melangkah
Karena sekarang sudah berlari kemana mana
Tapi masih hobi menendang
Hanya kali ini bukan hanya perut bundanya
Tapi juga bola bundar

Saya menjadi lebih percaya dengan teori bahwa dunia ini bulat, bukan lonjong apalagi kotak!
Teman-teman yang dulu berjibaku dengan saya masa kuliah pun berubah
Seiring dengan pergerakan dunia, seiring dengan perubahan waktu
Beberapa diantaranya ada yg sudah menikah dan punya anak, padahal yg saya ingat tentang dia adalah saat membuat dia bangun dengan paksa serta kamarnya yang totally smelly

Beberapa lainnya sudah menjejakkan kaki di belahan dunia lain, belajar lebih banyak
Menggapai mimpinya

Saya menjadi tergugah
Satu malam yang saya lewati tanpa tidur, dan menghabiskannya dengan blogroll sana sini sudah cukup menjadi bukti bahwa saya rindu ini…
Rindu kembali menulis
Dan menjejakkan jari jemari saya
Untuk sekedar dunia tau
Bahwa pernah hidup seorang saya

Lalu malam ini
Menandai kembalinya saya ke dunia menulis
Saya dihadiahi ciuman bertubi tubi oleh gadis kecil saya
Dan pelukan hangat yang sebentar lagi saya akan dapatkan dari suami tercinta…

Ya.. Saya akan memulai kembali
Apa yang dulu pernah saya mulai
Mimpi ini tidak akan terinjak oleh mimpi lainnya.. Tidak akan..

miss him

65566,1236528369,9bagaimana mungkin, menikah dan tinggal bersama dengan pasangan tapi tetap saja merasa rindu?

But it Happens! and unfortunatelly, it also happen to me… Hiks ūüė¶

Sebenarnya, fenomena dimana suami istri yang baru bisa bertemu menjelang larut malam sudah tidak asing lagi. Terlebih jika sang suami dan istri bekerja di kota besar layaknya Jakarta.

I admit that. Awalnya semua memang berjalan seperti yang saya bayangkan, terlebih di minggu pertama pernikahan kami, dimana hampir setiap saat di selalu ada di sebelah saya, terlepas dari kenyataan bahwa saat itu kami sedang cuti menikah dan memang dalam masa honimun, tapi setelah kembali ke Jakarta pun, kami masih dapat meluangkan banyak waktu berdua, walopun cuma sekedar hunting HIK (hidangan Istimewa Kampung) di sekitaran Cibubur-Cileungsi. But that’s FUN!! dan bener2 rasanya seperti sang waktu adalah belong to us.

Menikah muda, untuk yang sudah menjalani sebagaimana saya sekarang, terlebih untuk yang tinggal deket2 ama ibukota, keknya nasibnya ngga jauh-jauh dari saya. Tiba-tiba jadi inget ama temen yang rumahnya di Kota Wisata. Ngeliat dari jauh, emang keknya hidup yang mereka jalani perfect. Semua fasilitas kelas menengah ke atas telah mereka rasakan, mobil ada, segala hiburan tersedia. Apapun, you name it, they have it. Tapi apa yang mereka korbankan atas semua yang mereka dapatkan?

Yang sering tidak di sadari adalah hilangnya waktu bersama dengan orang-orang terkasih. Seperti yang akhir-akhir ini saya rasakan. Betapa saya merindukan sentuhan tangan suami saya saat saya sedang lelap tertidur, membangunkan saya dan menyadarkan saya akan kehadirannya.  Betapa saya sering kali merindukan saat-saat dimana kami dapat mengobrol santai dan tidak bertemu saat tubuh telah membunyikan alarm lelahnya. Betapa saya merindukan moment-moment simple nan indah yang biasa kami dapatkan saat dulu tekanan pekerjaan tidak sebesar sekarang. Sungguh, saya rindu itu semua.

Ini resiko sih, terlebih nanti klo sudah ada anak. Rasa kehilangan mungkin akan terasa sampe ke level kronis. Merasa lelah sendiri karena merasa sendirian merawat si kecil. Ah, sekarang aja saya sudah merasa sedih membayangkannya. Tapi saya yakin, jauh di dalam hati orang terkasih itu, suami saya tercinta, diapun tidak menginginkan jarak diantara kami demikian terasa, dia pun pasti menginginkan yang sama, senantiasa dapat berada di sisi saya.

Kami, hanya harus lebih berusaha… dan tetap saling mengerti tentunya…

ps : We Love you Ayah…

alarm dan puasa

Ramadhano iya, hari ini hari pertama puasa yah??

met puasa untuk yang menjalankan, untuk yang tidak.. semoga masih mau untuk sedikit menyingkir pabila sedang makan es cream atau es teh apalagi menjelang deadclock alias buka puasa… hehehe, kidding lah.. saya udah cukup gedhe (baik fisik dan semoga mental) untuk sekedar menahan godaan makhluk bernama es teh…

puasa kali ini (thanks God) saya sudah tidak sendiri lagi. Ada laki-laki itu, yang selama 5 tahun bersamanya dalam sebuah ikatan berstatus In Relationship ala Facebook, yang setiap datang Ramadhan, dia -hampir- selalu tidak bisa berada di samping saya. Bukan dia tidak mau, saya yakin keinginannya sebesar keinginan saya, tapi apa daya, toh dia tidak mampu begitu saja meninggalkan kota tempat dia bekerja dan menuju kesini, tempat saya berada.

Thanks God -again-, kami telah officially menjadi hubby en wiffy… di awal bulan ini, and I’m such a Happy Women right now. ¬†Rasanya masih ngga percaya, ada seseorang lain yang tidur di samping saya, masih tidak percaya, dan kadang saya suka meraba perutnya ditengah-tengah saya terjaga, dan saya menemukan sosok hangat itu, sedang ngorok dengan damainya… hahaha…

Ini adalah puasa pertama kami sebagai pasangan suami istri. Jangan ditanya betapa excited-nya saya. Kulkas, udah pasti penuh dengan bahan2 masakan, dari daging impor sampe fillet lokal, dari segala macam sayuran produk pasar seperti pete (ini makanan favorit hubbi), kacang panjang, sampe fresh veggie ala supermarket, semua ada dan ngumpul dengan rukunnya di kotak sedang nan dingin itu. Sudah dari kemarin2 saya mempersiapkan ibadah yang satu ini. Membayangkan betapa damainya ibadah sahur, dan tarawih kami nantinya.

Sampai tadi malam, hari terakhir makan semaunya, karena malamnya kami akan memasuki pintu Ramadhan dengan melakukan sholat tarwih, saya di sms suami tercinta, dan mengatakan saya harus tarawih sendirian malam ini… huhuhu… sad, tapi ya sudahlah.. it’s a -one of other- risk being a wife of civil engineer, yang kudu siap ngga bisa merencanakan apapun, karena agenda kerja mereka ngga selalu apa yang ada di atas meja.

Hari itu, lelakiku itu pulang lebih awal. Sadar kalo besok kami harus bangun lebih pagi kali ya?? jam 9 malam, ketika biasanya saya memeluk guling yang dingin itu, malam itu saya bisa memeluk perutnya yang hangat. Damai terasa sampai ujung-ujung kaki saya. Dia mengajak ngobrol karena waktu2 seperti ini, priceless sekali untuk kami. Sampai tak terasa pukul 11 malam.  Sudah hampir menjelang tengah malam, si mas ngajak supaya kami masak saja, sehingga pas nanti sahur kami tinggal angetin sayur dan goreng ikan seadanya. Saya menuruti usulnya yang tumben2an cemerlang.

Pekerjaan yang paling saya sukai dimulai. Dari mengiris-iris tipis sayur dan mengolahnya menjadi masakan yang uhuy… Hmm.. saya sangat menikmati peran saya yang satu ini. Kecapek’an masak, tepat pukul 11.30 saya pingsan sementara alias tidur. Suami saya? hmm.. saya ngga tau kegiatannya setelah dia membantu saya dalam proses masak-memasak itu. Yang saya tau, dia engga langsung tidur.

O iya, sebelum tidur, saya setting current alarm yang bisa bunyi tiap hari. Di hari biasa, ¬†saya setting benda kecil itu untuk membangunkan saya dari pingsan tepat pukul, 04.30. Belive me, they never late!… maka di bulan ramadhan ini, saya ganti settingan menjadi pukul 04.00. Setelah men-save settingan, saya pun beranjak tidur.

Tapi ohh, betapa kagetnya saya, benda kecil itu mengkhianati sayatepat di hari pertama saya akan melakukan puasa. Saya terbangun -sukses dengan kagetnya- tepat pukul 05.00, dimana terdengar suara seseorang mengaji dan beberapa detik kemudian panggilan sholat pun di kumandangkan. Saya hanya sempat menyambar air putih di kulkas. Sementara suami saya, masih terkaget-kaget dan berusaha menerima kenyataan bahwa kami bangunnya kesiangan, dan kami telat sahur!! Astagfirullah…

Semoga kami keluar sebagai pemenang pada puasa hari ini dan seterusnya.. amien.

trough de wed

101144p

Berbicara¬† tentang pernikahan, jadi inget dulu waktu saya masih semester 2. Seorang teman nanya, gimana tentang konsep pernikahan saya kelak. Hehehe… saya jawabnya ngasal banget. Dulu -ampe sekarang sihh- saya paling enggan disuruh pake benda yang namanya rok. Dalam lemari baju saya pun, benda yang namanya skirt, bisa diitung pake jari. Engga bermaksud untuk pilih kasih, tapi¬† gak tau deh, pake rok tuh sungguh bikin saya yang pencilakan ini engga nyaman. Risih gitu. Terlalu kebuka -bagian bawahnya- dan ngga bisa gerak sesuka hati. Maka saya bilang ama teman saya itu, kalo saya nikah besok-besok, dress code buat tamunya adalah simply jeans, celana jeans maksudnya. Hahaha, udah kebayang tuh dikepala, saya dan suami nerima tamu yang mereka semua kompak pake jeans dan atasan putih, hilanglah itu semua formalitas yang bikin gerah dan capek.

Sekarang, kalo dibalikin lagi ke sana, konsep impian saya diatas, masih akankah saya gunakan di pernikahan kelak. Hmm… sama kek temennya adisti di lajang&menikah, yang mendambakan menikah ala polka yang akhirnya menyerah ama keinginan orang tua yang ingin menikahkan anaknya dengan menggunakan tata cara pernikahan adat masing-masing. Bisa dipastikan, meskipun konsep menikah dengan dress code ala jeans engga bakalan saya dapet, tapi saya juga engga mau nikah pake adat manapun. Pake kebaya? iyalah. Sebuah harga yang engga bisa saya tawar. Tapi konsep yang saya inginkan adalah simply wed. Untungnya, keluarga si mas bukan keluarga penganut adat yang keukeuh. Sudah lumayan nasionalis dan lebih penting adalah mereka engga akan nuntut macem-macem untuk menggunakan adat yang melelahkan itu kepada saya. Fyuhh… lega rasanya.

hari ini, adalah H minus 2 bulan 1 mingguan sekian hari sekian sekian jam. I just cant wait for that beautifully moment. padahal, persiapan menuju kesana big Zero! hahaha, modal nekat doang emang…ama doa sih, gag tau banyakan mana, doa apa nekatnya. Hahaha, embuhlah.. bismillah aja, niatnya baik, insyaalloh ntar dimudahkan jalannya.

baru beberapa hari yang lalu aja, saya akhirnya menyelesaikan konsep pernikahan dan mengirimnya lewat email ama seorang teman. setelah baca artikel gimana menikah secara islam yang saya temukan secara ngga sengaja, artikel itu seakan memberikan inspirasi tentang pernikahan. Memang sih, harus ada penyesuaian sana sini, tapi pada dasarnya udah kena ama apa yang saya harapkan. Simple dan ngga neko-neko.

Acara akan saya lakukan di rumah saja, mengingat jumlah tamu yang kebanyakan adalah para tetangga saja. Keluarga saya yang bisa dibilang keluarga hanya segelintir saja, dan keluarga mas, ngga mungkin juga datang semua mengingat waktu yang sangat jauh dari negara *ceileh* hahaha, *propinsi ding* asal mereka. Jakar tempuh dengan mobil aja bisa 13 jam. Hampir ngga mungkin berkendara dengan waktu segitu lama dengan orang tua yang kebanyakan umurnya udah sepuh-sepuh. Lalu teman SMA, mungkin ngga akan saya undang semua, karena honestly, saya kurang suka harus bermanis-manis ria dengan teman yang engga deket dengan saya, dan jumlah temen yang saya anggap deket pun ngga seberapa. Orang kantor, baik kantor saya dan mas, hmmm… sepertinya tak satu pun dari mereka akan mendatangi negara saya, disamping waktunya yang udah deket ama bulan puasa, jaraknya yang jauh bangeddd… kalopun ada yang datang, sungguh.. niatnya memang sangat mulia. hahaha, lebay! Jadi, kemungkinan maksimal tamu yang akan hadir adalah sekitar 200 orang. Dekor dan kursi, jumlahnya menyesuaikan, kata si ewiet sih ada tempat yang mau menyewakan semuanya sekaligus. Jadi tinggal menyesuaikan budget ajah. Soal makanan, kata si mas akan lebih mending kalo kami masak sendiri, bukan apa-apa, karena acaranya dirumah, maka otomatis kami engga bisa mengontrol jam kedatangan para tetamu, kalo makanan diserahkan ke tukang catering, takutnya ntar pas ada tamu yang datang, kami ngga ada stock makanan. Bisa tengsin berat bo’.

Yang masih nyangkut di kepala cuma masalah Tenda, kursi, dan makanan. Sisanya, keknya bisa kami urus dalam waktu sehari. Undangan, tinggal nyari desain yang match aja, se simple mungkin. Kalo dah nemu desain yang cucok, tinggal pesen, cuma butuh seminggu untuk¬† bikinnya. Masalah agak gede mengingat selera saya yang agak susah dalam berkebaya adalah mencari atasan yang sesuai dengan acara saya. Selera saya agak aneh iya emang, saya enggak terlalu suka dengan hiasan yang terlalu rame, mau pesen aja yang sesuai dengan yang saya pengen, malahan lebih ribet lagi, kudu cari kain, cari penjahit yang cucok.. waduhh… bisa kriting saya mikirnya. Sudahlah, beli yang langsung pake aja, tapi tetep kudu nemu yang sesuai dengan selera dan budget tentunya.

Menuju ke pernikahan, emang sebenarnya engga ada yang simple sih saya kira. mo dibikin sesimple apapu acaranya, pastinya ada deh acara ribet-ribetnya, dikit atow banyak. se enggak kepengen-kepengennya saya ama acara yang terlalu detail dan ribet, tentu saja saya engga boleh gitu aja maen slonong girl tanpa mempertimbangkan wajah mama saya selaku tuan rumah yang akan dapat imbasnya apabila ada yang ngga berkenan ama para tetamu.

1444035pSejatinya, yang harus lebih saya pertimbangkan lebih adalah kesiapan mental untuk memutuskan hidup dengan the only one laki-laki itu. Engga saya pungkiri, seperti jawaban yang dia kemukakan ketika saya menanyakan alasan mengapa dia ingin menikahi saya, adalah karena kenyamanan dan kebutuhan, saya pun demikian. Tapi, pun ketika jawaban kami sama atas pertanyaan itu, pastinya nantinya masih akan ada sesuatu yang harus kami sesuaikan satu dengan yang lainnya. Perubahan yang akan terjadi setelah status kami satu sama lain berubah pun, kemungkinan akan ada pula. Saya yang sampe detik ini kemampuan memasaknya masih di bawah rata-rata seleranya, tentu saja masih harus banyak sekali belajar, saya yang menurutnya masih kurang sabar, tentu saja masih harus belajar bagaimana untuk bersabar di saat yang tepat *hahahha, mana pula tuh ada saat yg tepat untuk bersabar, alesan nih…*

Eeeniwei, all I know for sure, dari jaman kuliah sampai hari ini, detik ini, he is the best for me... semoga tak ada yang berubah, atau kalaupun ada perubahan pada kami masing-masing semoga cinta itu akan selalu menyelimuti hati dan mengalahkan ego masing-masing. Semoga benang merah yang selama ini menyatukan kelingking kami ini akan selalu ada, bahkan menjadi kuat dengan berjalannya hari. Amien.

gambar : pinjem dari jupiterimages

-sang kekasih-

249017721Dia itu, lelaki kedua yang menempati tempat sekian lama diruang hati saya. Demikian juga saya dihatinya. Lelaki pertama? jangan tanya siapa. Meskipun waktu itu saya masih SMA, tapi untuknya, saya beri hati yang utuh dan berusaha menjaga meskipun terpisah karena saya harus kuliah di kota yang berbeda. Meski begitu, toh saya tidak lantas men-single-kan diri dan mencari yang lebih baik dari dia. Saya akui, karena memang waktu itu (tahun 2002) hape dan alat komunikasi lainnya masih jarang dan engga sepopuler saat ini, toh demi dia saya berusaha setidaknya pulkam sebulan sekali demi menjaga yang tadinya saya minta untuk dihentikan saja. Tapi dia? tidak sekalipun dia melihat keadaan saya di kota tempat saya belajar. Sudah saya minta dari awalnya, sebaiknya saya dan dia menghentikan apa yang baru saja kami mulai saat itu, mumpung saya belum terlalu sayang, mumpung saya masih bisa mem-back flash posisi dia menjadi teman saya kembali, bukan pacar. Tapi dia enggan.

Saya kira itu komitmen, entahlah… toh saya juga masih terlalu muda untuk mengenal komitmen saat itu. Tapi setidaknya saya tetap mencoba. Sampai saat itu, ketika komunikasi mulai membaik diantara kami (thn 2004, saya mulai punya yang namanya hape) sebuah teror masuk ke kotak inbox saya. Lebih dari itu, banyak miscall, dan telpon engga penting mengganggu saya dan menyebut namanya. Seorang cewek mengaku sebagai kekasihnya, membuat saya terhenyak dari posisi sebagai orang yang penting dihatinya. Sungguh, saat itu, saya kira saya sudah berusaha menyelesaikan masalah itu dengan cara yang saya anggap dewasa. Menanyakan kepada dirinya tentang cewek itu, sungguh, saya berusaha untuk mempertahankan apa yang saya kira penting. Tapi dia, tak sekalipun menanggapi pertanyaan saya, dan tidak sedikitpun dia berusaha memenangkan hati saya. Saat itu pula saya sadar, hubungan tidak sehat ini sudah terlalu lama, dan dia… pun tidak menggapai saya ketika saya meninggalkannya.

Yang membuat sakit, dan perih dan enggan untuk memulai lagi adalah perasaaan dihina dan dicampakkan. Saya menjadi demikian pendendam dan merasa diabaikan olehnya. Tidak nampak semua cerita pertama kali tangan saya digenggam oleh laki-laki, tidak nampak oleh saya, saat mendebarkan yang saya tunggu ketika bertemu dengannya, tidak nampak itu semua. Saya terkadung sakit. Dan itu tak termaafkan sampai tahun kedua setelah kami berpisah.

Tapi saya beruntung, oleh lelaki kedua ini, saya diajari banyak hal. Bersama dia, saya merasa banyak berubah dan sepertinya menuju perubahan yang lebih baik. Bukan sengaja saya mencari kekasih lainnya sehingga bertemu dengan lelaki kedua ini. Bagi saya, awalnya dia adalah sosok yang menyenangkan untuk berbagi cerita, mimpi, kisah, harapan dan semua uneg-uneg yang mengganjal hati. Sampai akhirnya kebutuhan akan dirinya menjadi tidak tertahankan karena kerapuhan saya akibat sakit hati. Dan dia, menggengam tangan saya, menggantikan lelaki yang pertama, dengan cara yang berbeda.

Dan cerita kami pun, dimulai pada tahun yang sama, dengan cara yang sederhana dan apa adanya. Toh sebelumnya saya memposisikan diri sebagai seorang adik untuknya. Dan dia, bagi saya adalah seorang kakak laki-laki yang tidak pernah saya punya. Bersamanya, meskipun komitmen itu tidak terucap dengan lantang, toh kami menyadari posisi kami di hati masing-masing. Perjalanan kami pun tidak selalu mulus dan lancar, beberapa kali kami terpaksa harus berpisah karena jalan menuju mimpi ternyata berbelok menuju arah yang berlawanan. Tapi toh kami tidak menyerah, dia sebenarnya. Dia yang tidak pernah menyerah meyakinkan saya bahwa masih banyak yang bisa kami lalui bersama. Dia yang selalu berusaha ada untuk saya dan mengerti mimpi saya, mengajarkan kepada saya apa itu komitmen, apa itu hubungan dan apa itu rasa saling.

Sampai kemarin malam, rasa sayang yang dia perlihatkan kepada saya tidak berubah. Malah semakin kentara. Betapa dia menjadi sosok yang demikian mudah terpengaruh dengan suasana hati saya. Kalo saya lagi seneng, dia bisa dua kali lebih seneng, kalo saya lagi bete -apalagi klo betenya gara2 dia- dia bisa dua tiga kali lebih sedih karena saya suka mengadakan gencatan senjata, engga sms, engga nelpon, engga mau bales sms, engga mau angat telpon.

250152571Iya, saya akui. Semakin kesini, sepertinya saya semakin kolokan ngadepin dia. Dia, tetap berusaha memperlakukan saya selayaknya wanita dewasa. Okelah, kadang kalo logika saya lagi jalan, saya juga mampu diajak mikir logis en dewasa, tapi jujur, menghadapi dia, saya lebih suka mengeluarkan sisi manja -dan kolokan- saya. Hehehe…

Beberapa bulan terakhir ini, rasa diantara kami seperti diuji. Saya yang menguji, kadang juga keadaan yang menguji. Entah untuk menaikkan ‘kelas’ kami atau justru mendewasakan pemikiran kami tentang suatu hubungan itu sendiri. Entahlah. Yang jelas, meskipun sampai detik ini, masih banyak diantara kami yang harus kami temukan titik temunya, dia, meskipun adalah lelaki kedua yang menempati ruang hari saya, tapi dialah saat ini pemilik hati saya sepenuhnya.

-naj-