Journey Of Neyla’s Little Corner Babyshop

Bismillah,

Inilah kali pertama saya akan mencoba menceritakan perjalanan bisnis yang saya lakoni. Jujur saja sebenarnya sampai detik ini rasanya masih janggal dan enggan menyebut ini sebagai bisnis, walaupun kenyataannya memang berlaku seperti bisnis dan berjalan seperti layaknya bisnis. Rasanya bagi saya seperti menjalankan hobi.

Bermula dari ketika Neyla lahir tahun 2010, saya yang saat itu bekerja sebagai karyawan swasta di grup Astra merasa punya gaji sendiri yang cukup banyak untuk memenuhi keinginan belanja demi mendandani anak semata wayang yang sedang lucu-lucunya. Hampir setiap bulan ga kurang dari 500ribu pasti habis untuk belanja pernak pernik kebutuhan bayi mulai dari sekedar headband, baju, kaos kaki, sepatu, mainan, apapun yang lucu-lucu.

Lalu mulai sadar bahwa kebiasaan shopping saya ini bisa saya manfaatkan untuk belanja dengan jumlah banyak dan dijual kembali, sisanya bisa saya pakai untuk anak sendiri. Berangkat dari kesadaran itu, akhirnya mulai searching beberapa penjual yang menjual grosiran. Masih pakai platform facebook, media sosial yang lagi booming saat itu. Dengan facebook pula saya memutuskan bikin account baru yang khusus untuk berjualan biar lebih fokus.

Account baru dibuat, tapi butuh waktu sekitar setahun sampai akhirnya saya ketemu mood lagi dan mulai mengaktifkan account tersebut dan mulai aktif berkenalan dengan beberapa orang. Perjalanan online dimulai dari sini. Malam-malam panjang saya lalui, karena waktu online dimulai jam 9 malam sampai jam 2 dini hari, mulai berkenalan, merapikan album-album, merapikan deskripsi, menjawab komentar sampai bikinin rekapan, dan ajaibnya, beberapa customer malam itu juga transfer, hahaha masih inget ada satu customer orang bandung yang order jumper2, ditransfer jam 2 dini hari. Antara senang tapi kaget juga liat semangat mak2, dini hari masih juga shopping.

Bermodalkan 5juta yang hanya dapat barang satu kontainer kecil, sampai akhirnya setelah dilakoni selama 2 tahun, barang dagangan yang tadinya sedikit banget beranak pinak sampai jadi satu lemari, beranak lagi sampai akhirnya rumah kami hampir jadi kayak gudang penyimpanan karena barang-barang disimpan dimanapun tempat kami bisa simpan, bawah kursi, belakang kursi, belakang pintu, bahkan kadang sampai bawah kasur.

Semua proses itu saya lakoni hampir 2 tahun tanpa kerasa, sampai akhirnya, pada beberapa kesempatan, rasanya semakin berat melakoni 2 peran, 2 tuntutan, 3 tanggung jawab, sebagai ibu, pekerja alias karyawan, dan pedagang yang dikejar-kejar customernya. Pekerjaan sebagai seorang Mechanical Engineer yang semakin membutuhkan konsentrasi karena beberapa project yang sedang saya pegang, disisi lain hobi baru sebagai pedagang yang juga semakin lama semakin menuntut perhatian karena sering kali juga ketemu customer yang ga bisa sabar menunggu, siang transfer maunya sore uda dapat resi. Akhirnya sering kelabakan pulang kerja buru-buru bungkusin paket dan kejar JNE takut ketutupan. Begitu terus sampai akhirnya dihadapkan pada satu titik saya harus memilih.

Dengan melihat kenyataan bahwa cepat atau lambat saya bakal resign juga, karena jika suatu saat suami mutasi maka saya pasti akan dihadapkan juga dengan pilihan pertahankan pekerjaan atau keluar, maka dengan itu, saya pun menyiapkan diri untuk resign dari pekerjaan yang dulu saya impikan. Pekerjaan yang dibanggakan oleh kedua orang tua saya. Dan januari tahun 2012, saya resmi berstatus pengangguran yang mulai belajar bisnis.

Uang pisah saya pakai untuk menambah modal, saya didorong suami untuk mulai buka toko offline. Awalnya niatnya sekedar display karena barang-barang yang ngga muat ditaruh dirumah. Modal digelontorkan untuk melengkapi toko dan biaya sewa. Tidak mudah awalnya. Sering kali toko sepi karena memang baru mulai mencari pelanggan. Saya yang jaga sendiri demi menghemat biaya operasional harus beberapa kali meninggalkan toko demi sekedar mengantar Neyla sekolah, atau pergi untuk urusan yang lain.

Toko yang masih sepi terselamatkan karena saat itu saya menarget setiap bulan minimal ada 100 paket pengiriman, dengan nilai transaksi sekitar 100-150ribu. Maka target bulanan online saya 10-15juta. Dibreakdown perhari, target harian saya 3-5paket. Dan dengan hanya mengandalkan facebook, Alhamdulillah target itu terpenuhi sehingga dengan laba bersih dari online, operasional toko dapat berjalan. Begitu terus sampai akhirnya ketemu ritme dan alhamdulillah di berikan satu karyawan yang dapat gantian sama saya di toko. Seiring dengan berjalannya waktu, bertambah pula pelanggan toko maka grafik omset offline pun naik, dari target 5juta perbulan sampai 10 juta perbulan.

Waktu setahun berlalu dengan cepat, sampai akhirnya kami harus pindah tempat karena ruko yang kami sewa sekarang tidak disewakan lagi melainkan dijual, dengan angka yang cukup fantastis di awal tahun 2013 yaitu sekitar 650juta. Belum mampu membeli, kamipun pundah dan sewa ditempat yang lain. Kali ini kami sewa dengan harga 18juta per tahun dan langsung disewa selama 2 tahun.

Tahun 2014 awal, saya berencana hamil anak kedua. Setelah 6bulan kosong, akhirnya karena dipikir2 pusing juga nungguin hasil ga kunjung hamil, maka memutuskan kuliah S2, ambil di UI jurusan Teknik Metalurgi. Bukan tanpa pertimbangan, jurusan yang lumayan complicated ini masih linier dengan jurusan saat S1 dulu yaitu Teknik Mesin. Berharap agar nantinya ijasah bisa saya pakai buat daftar dosen, maka Bismillah, saya ikutan tes SIMAK UI, dan lolos pada percobaan pertama. Alhamdulillah.

Efek dari mulai kuliah, berdampak pada bisnis. Yang tadinya saya pantau target online bulanan sampai 10juta, turun drastis sampai menyentuh angka 5juta perbulan. Saya masih keukeuh dan mikir, yaudah mungkin lagi sepi. Tutup mata dengan pergerakan diluar sana. Ditambah lagi, penjualan offline yang masih lancar cenderung stabil di angka 15juta perbulan. Yasudah, makin gelaplah saya. Konsentrasi kuliah, ditambah hamil pas 3 bulan saya mulai kuliah. Makin malaslah mengurus bisnis. Dan perlahan NLC makin kehilangan saya sebagai soulnya.

Sampai akhirnya, beberapa masalah muncul. Seperti beberapa barang yang tidak terkontrol kemana perginya, keuangan yang berantakan, serta kepercayaan yang disia-siakan. Saya hampir selesai kuliah S2, sambil mengerjakan tesis, saya mulai benahi manajemen. Ternyata mempercayakan 100% manajemen dan keuangan kepada orang lain membuka kesempatan orang lain tersebut untuk melakukan sesuatu yang salah.

Iklan

Another Dream may Come True

Sampai detik ini, saya belum berani menyebut diri sebagai Entrepeneur. Entah mengapa.Bisa jadi saya kurang pede, atau bisa jadi karena alasan lainnya. Seringkali saya menyebut diri saya sebagai pengangguran bahagia, yang ngga lagi dikekang peraturan sebagaimana ketika saya diikat pekerjaan dahulu, tapi tetap memiliki target-target tertentu untuk sesuatu yang saya kerjakan sekarang.

Yang pastinya selalu saya utamakan adalah kepentingan gadis saya. Jadwal harian saya, pasti menyesuaikan kesibukannya. Begitu yang terjadi saat ini. Dan saya sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, karena gadis cilik itu adalah prioritas utama.

Pada diskusi dengan beberapa teman jaman SMA, walopun sama-sama saling memahami, persimpangan pilihan antara menjadi wanita bekerja dan full time mom, tetap saja hal demikian, tidak selalu mudah untuk ditemukan kesimpulannya

Selalu berakhir dengan kesimpulan bahwa semua pilihan baik, pasti ada resikonya dan tidak ada yg menjadi lebih baik dari yang lain, baik yang memilih antara menjadi full time mom maupun working mom.

Saya, dengan backgroud keluarga yang tidak biasa, pun pada awalnya mendapatkan diri pada semacam keraguan. Memiliki suatu pekerjaan dengan gaji yang teratur setiap bulannya menjanjikan perasaan aman, nyaman belum tentu. Tentu saja saya memiliki sedikit trauma terhadap figur suami yang akan meninggalkan istrinya begitu saja, seperti yang diperbuat papa terhadap mama. Tentu saja saya enggan menghadapinya lagi, sehingga ketika berpikiran tentang ini, memiliki pekerjaan yang relatif stabil secara gaji dan penghasilan, seakan-akan merupakan seutas tali tempat berpegangan kala keadaan rumah tangga goyah.

Tapi saya tidak ingin menjadikan trauma masa kecil itu menghantui dan membuat saya melakukan pekerjaan hanya karena takut. Iya, rasa takut itu pasti ada. Tapi saya serahkan semua kepada Alloh swt, pencipta segala kemungkinan dan pelindung yang paling kekal.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya sebagai Enginner di departermen R&D sebuah perusahaan dalam group Astra. Dan alhamdulillah, sampai detik ini saya tidak menyesalinya.

Pada akhirnya sebuah kepasrahan akan melahirkan sesuatu yang hasilnya jauh dari apa yang kita angan-angankan. Menjauhkan diri dari apa yang kita takutkan akan terjadi. Percaya bahwa Alloh akan menjaga kita dalam kepasrahan dan usaha kita.

Saya belum pernah sebahagia saat ini. Melimpah kasih sayang yang saya berikan untuk buah hati kami. Tetap produktif dan menghasilkan sesuatu, walopun mungkin tidak banyak, tapi ini sudah banyak dan lebih dari cukup untuk saya. Apapun dan berapapun pastinya indah dan cukup jika disertai dengan rasa syukur. Alhamdulillah.

Saya siap meraih mimpi berikutnya, menjadikan diri sebagai self employee dengan keragaman bisnis yang siap saya tapaki. Satu hal yang membuat saya menyenangi apa yang saya lakukan adalah, dengan menjadi seperti sekarang, saya lebih aware terhadap orang lain. Memberikan satu atau dua orang wanita-wanita yang kurang beruntung dalam pendidikan, menjadikan mereka setidaknya berguna untuk keluarganya. Itu membahagiakan.

Semoga segala rintangan didepan dapat segera teratasi. Semoga mimpi yang lebih tinggi dapat segera tercapai. Tanpa harus ada yg dikorbankan. Pasti bisa.

 

 

anak (kecil) jaman sekarang

Siapa yang menyangka bahwa anak sekecil itu, 2tahun 5 bulan, sudah memendam marah dan dendam.

Malam ini, seperti biasa sudah tiba waktunya saya menina-bobokan neyla. Putri kecil saya yg baru berumur 2tahun 5 bulan.

Seperti biasa juga, saat dia memegang blackberry saya, yang dia ingat adalah video video yg isinya adalah rekaman kegiatannya.

“Lambuk, bunda lambuk” katanya sambil nunjuk2 video dia potong rambut
“Habis nonton ini, lgsung bobo’ ya?” Kataku bernegosiasi
“Iyaa” katanya

Lalu dia melihat video potong rambutnya dr awal sampe selesai

Ternyata ngga puas, dia menunjuk2 video berikutnya

“Sekolah, sekolah” katanya sambil nunjuk video gambar dia sedang senam pagi bersama teman2nya
“Habis ini lgsung bobo’ ya?” Kataku sekali lagi bernegosiasi
“Iyaa” katanya lagi.

Lalu diputarlah video senam itu sampe selesai.

Tapi dia masih minta lagi, dan akhirnya saya mengambil sikap tegas dengan mengambil handphone dan meminta dia tidur.

Tapi neyla justru marah dan minta pindah ke kamar amang (nenek)nya. Hati saya meradang sedih seketika.

Saya bujuk dia, “Neyla tidur sama bunda aja ya?” Tapi rupanya dia sudah terlanjur kesal. Dibukanya pintu kamar kami dan diketuk2lah pintu kamar amangnya.

Tidak lama kemudian, saya intip dr jendela, buah hati saya sudah tertidur pulas. Dengan sedih saya kembali ke kamar dan memikirkan kejadian barusan.

Anak saya itu, ternyata temperamennya keras. Dia berkarakter, dan berkeinginan keras. Hampir sama dengan saya. Maka sebenarnya cara menghadapinya bukan lagi dengan ancaman, tapi mengalah sambil memberi pengertian.

Saat ini pada saat ancaman itu datang ke dia, mungkin dia akan menuruti. Tapi nanti ketika dia beranjak besar, pasti dia akan menuruti pemikirannya.

Hmmhh.. Anak sekecil itu, sudah mampu membuatku kewalahan dengan sikap dan perilakunya.

Saya pikir saya akan kesepian malam ini. Tapi untunglah mama membuka pintu kamar, dan neyla-pun saya ‘culik’ balik lg ke pelukan saya.

Baik-baik sama bunda ya neyla sayang. Bunda tidak bisa memejamkan mata jika tidak ada kamu disisi bunda.

wedding simply concept -nostalgia-

mari ber-Flasback!

-Oendangan-

Kalaoe tiada halangan jang berarti, kalaoe loempoer tiada menjerang warga kota delta seperti doea taoen laloe, toean dan njonja teman daripada sahaja dioendang oentoek tiba di pesta berkahwinnja saja dengan sahaja poenja perempoean poedjaan.

Mohon djangan dibajangkan pesta seperti toean dan njonja biasa berdansa di gedoeng Dharma Wanita di sebelah oetara Lapangan Delta. Tapi bila toean dan njonja sekedar maoe mentjitjipi hidangan, ada sate kambing dan goele djoegalah.

Ijab sahaja, anak mantan pegawai pemerintah dengan Ratna Permatasari, anak pedagang biasa dari Kampoeng Gedangan dilakoekan di boelan agoestoes tanggal 2 poekoel 09 pagi di roemah sahaja poenja tjalon bini, peroemahan permata tjandiloka blok S2 no sepoeloeh, Ketjamatan tjandi sidoardjo.

Syoekoeran berkahwin diadakan di sitoe joega poekoel 10 pagi. Djaoehnja dari kampoeng poenya orang aseli jang soenggoeh berdjoeta pohon ceremainja, kira-kira habis doea karoeng roempoet boeat koeda toean poenja sado ataoe bendi. Orang sitoe menjeboetnja Keramean Ngetan.

Mentjari tempat berkahwinnja sahaja gampang sadja. Kalaoe toean naik angkoet besar lapangan besar aloen-aloen sidoardjo, tjari sadjalah djoeroesan ke arah Porong, dan mintalah toean dan njonja toeroen di keramean ngetan. Dari sitoe ada angkoetan sado ataoe odjek ke roemah sahaja poenja tjalon bini.

Kalaoe toean soeda tiba di depan peroemahan permata tjandiloka, tjari sadja roemah berwarna hidjaoe tjang letaknja persis di depan perempatan pertama. Seharusnja tidaklah soesah mentjarinja karena letak roemah dapat dilihat langsung dari pintoe masuk peroemahan. Semogalah toean dan njonja dapat menemoekannya.

Djangan loepa membawa roempoet doea karoeng kalaoe toean membawa sado sendiri biar koeda toean tiada kelaparan selama menoenggoe toean dan njonja di atjara berkahwinnja saja dengan saja

Kira-kira begitulah bunyi undangan pernikahan saya dengan si dia yang sekarang alhamdulillah sudah menjadi suami saya.

Konsep pernikahan yang kami inginkan memang cukup sederhana, dan mewakili gaya kami berdua dan untungnyaaaaa mendapat restu kedua belah pihak ortu.

Eventhough, meskipun awalnya niat kami adalah simply wedding, tapi bahkan kami juga tidak bisa menghindari ribetnya ngurus sebuah pernikahan. Semua hal, kami diskusikan berdua, yang buat kebanyakan calon pasangan sering menghindari dan lebih menyerahkan segala hal kepada calon mempelai wanita, buat saya dan mas, justru dengan mengurus segala tetek bengek ini berdua, akan menguji kekompakan kami dalam mengerjakan sesuatu dan jadi pelajaran berharga untuk meneruskan dan mengetahui tingkat kerjasama kami, dan toh buat kami berdua,  kami bisa melaluinya tanpa banyak pertengkaran dan konfrontasi seperti yang kebanyakan pasangan takutkan.

Yang pertama setelah di temukan konsep, d-day’s date, dan lokasi tentu saja adalah menyiapkan sebuah Budget Planning. Ingat, dengan melakukan budget-ing aja kadang kita bisa over budget, apalagi klo engga sama sekali. Yang harus di pahami adalah, sedetail apapun kita merencanakan sebuah pernikahan, kadang kala masih adaaa aja yang kelupaan di hari h-nya, entah itu biaya untuk bunga, tukang parkir, atau apa aja deh… yang penting adalah detailkan semua jenis pengeluaran, mulai dari sewa gedung (kalo di gedung), tenda (klo dirumah), bunga-bunga untuk penghias, sewa kursi dan meja, baju pengantin (klo mo bikin ataw sewa), dan lain sebagainya di sesuaikan sendiri.

Tadinya kami sih pengennya garden party gittu… dimana yang datang hanya dan hanya teman-teman terdekat kami yang masih stay in touch dalam kurun waktu setahun ke belakang, sahabat, keluarga dan tetangga. Tapi karena kami ngga dapet lokasi yang cucok, maka konsep kami menyesuaikan lagi yaitu di halaman rumah saya, hahaha…

Trus yang ngga kalah penting adalah menyiapkan undangan, makanan, dan acara yang akan di gelar. Simply wedding bukan berarti habis acara, makan, langsung pulang. Hahaha, ngga lucu kan…

Meskipun undangan yang kami perkirakan akan datang adalah sekitar 200-an orang, kami memesan undangan sekitar 500-an biji. Bukan kenapa-kenapa, kantor saya dan suami ada di Bogor dan Jakarta sedangkan acara kami gelar di kota kelahiran saya Sidoardjo, maka kebutuhan akan undangan kami gunakan sebagai alat penyebar informasi bahwa kami akan menggelar pernikahan agar tidak terjadi fitnah, meskipun kecil kemungkinan teman2 kantor kami yang akan datang.

Acara yang di adakan kami padatkan dari pagi sampe siang sekitar jam 3-an. Pagi jam 08.00 wib kami menggelar Ijab, yang sebelumnya di lakukan pembacaan al-qur’an, lalu ijab, dan kemudian sambutan2 dari kedua belah pihak. Sedikit nasehat-nasehat tentang kehidupan berumah tangga, dan ceramah agama. Yang kemudian siangnya baru makan dengan cara prasmanan.

Kemudian lanjut foto2 ama keluarga dan teman-teman. Acara berlangsung cepat, tanpa kami berdua (saya dan suami) terlalu lama berdiri, dan capek senyam senyum. Hehehe…

Kurang lebih gitu deh, sedikit sharring dari cerita pernikahan kami. Sesungguhnya yang perlu di perhatikan lebih lanjut adalah kehidupan setelah pernikahan itu sendiri. Dan kami memilih untuk lebih banyak berkonsentrasi di hal itu, tentang bagaimana dimana dan seperti apa kehidupan berkeluarga kami kelak, itu yang lebih menjadi perhatian kami. Karena wedding day kan cuma sehari, kami ngga pengen terlalu force our energy untuk sehari. Dan thanks God, we can trough the day ’till this time…

Cheer’s!

menjadi hamil

Hamil, sebagaimana semua mengetahui, adalah sebuah proses kehidupan yang hampir selalu akan di lewati dalam fase kehidupan seorang wanita.
Menjadi hamil, sebagaimana yang sedang saya alami saat ini, adalah suatu proses yang mendorong saya untuk melakukan banyak perubahan terutama dalam siklus kehidupan saya.
Bukan sengaja saya melakukan perubahan-perubahan itu, but everything goes so naturally…

Masih inget, hari dimana saya melakukan check kehamilan pribadi pake test pack. Adalah beberapa hari setelah lebaran. Saya merasa mual sekali saat itu. Terkena efek sambal beberapa hari rupanya berbuntut ngga gitu bagus ama perut saya, ndilalah kok saya juga ngerasa mual-mual. Beberapa obat yg di dapat dari puskesmas menganjurkan untuk tidak di minum oleh ibu hamil. Waduh… saya memang sedang tidak haid sih, dan mual-mual itu, mendorong saya untuk beli test pack dan langsung uji lab kamar mandi saat itu juga…

Hasilnya : Strip satu alias Negatip

Saya langsung down begitu melihat hasilnya. Kami memang tidak berencana untuk menunda untuk segera memiliki momongan, makin cepat makin baik, karena masih muda, energi masih banyak, jadi bisa maksimal merawat anak. Tapi rupanya memang bukan kami penentu tentang hal itu, memiliki anak sama dengan meminta rejeki, Dia akan memberikan pada saat dan waktu yang tepat.

Lalu kami pulang ke Jakarta. dan kembali bekerja seperti biasa. Sampai saya sadar saya sudah telat haid kurang lebih seminggu lamanya. Sedikit exited, saya akui itu. Harapan tentang akan adanya jabang bayi di perut saya membuat saya kembali merasa bahagia, meskipun kami masih belum yakin tentang hal itu.

Saya pun kembali melakukan tes kamar mandi, dan kali ini keluar dua strip, tapi salah satu warnanya tidak begitu terang. Kurang percaya dengan penglihatan mata saya, saya pun membangunkan paksa suami yang sedang ngorok dengan hebohnya. Dan diapun sependapat dengan saya bahwa stripnya ada dua.

Tak dipungkiri, terasa ada kupu-kupu kecil di dada saya. Iya, saya bahagia meskipun kami masih ingin ke dokter kandungan untuk check usg dan meyakinkan bahwa memang ada calon kehidupan di perut saya.

Malamnya, kami antre di depan ruangan khusus dokter kandungan. Hati saya membuncah ketika alat usg di arahkan ke perut saya dan dokter Farid bilang kalau ada sesuatu dalam kandungan saya, dan kesimpulannya adalah Ya, saya sedang hamil. Pelukan suami saya terasa beda saat itu, lebih hangat dan lebih dalam. Tak terasa air mata saya mengalir seketika sambil tak lupa mengucap berkali-kali kalimat hamdalah.

Saya selalu menantikan saat itu, saat dimana saya akan di usg dan melihat perkembangan janin di dalam perut saya. Seperti rindu yang tak kunjung berhenti dan seperti pertemuan yang selalu saya nanti, itu adalah perasaan yang saya rasakan ketika alat usg meraba-raba perut saya.

Perubahan yang saya alami? hmmm.. boleh jadi saya ini termasuk hamil yang ndak gitu rewel. Ngidam saya ngga aneh-aneh, hanya tiba2 muncul selera makan terhadap makanan yang biasanya saya hindari seperti soto ayam. Lalu sempat eneg makan sayur di pagi hari selama beberapa minggu. Selama beberapa minggu juga engga doyan makan sampai berat saya turun 2,5 kilo dalam waktu seminggu. Hanya satu yang agak dramatis dan sedikit merepotkan, saya jadi doyan tidur…. hehehehe..
Biasanya, saya paling banter tidur selama sekitar 8 jam. Selebihnya jika saya memaksa tidur, maka yang terasa adalah kepala saya akan pusing dan berat. Tapi tidak dengan saya sekarang, bantal dan kasur itu jadi tempat ternyaman… hehehehe.. *alesan*. Satu lagi, saya yang uda dasarnya pemalas ini menjadi kian pemalas, malas masak, malas nyuci baju, malas setrika. Kerjaan-kerjaan rumah tetap saja numpuk dengan suksesnya padahal saya sudah menyempatkan diri pulang lebih awal.

Sekarang, si kecil dalam perut saya genap berusia 2 bulan 3 minggu. Umur yang masih rentan karena si kecil belum menempel kuat di perut saya. Meskipun dokter kandungan saya engga terlalu cerewet melarang macem-macem hal, tapi saya masih harus puasa mie instan, nanas, segala minuman bersoda, dan makanan fast food dan makanan2 ber-msg tinggi selama 2 tahun lebih. Ho ho ho ho.. its gonna be a long.. long.. long.. time… 😀

-facebook-

Nature 11saya nginep di kosan temen di daerah Tebet semalam…

berawal dari *curcol* dengan pasang status di FB – Ratna Permatasari is feel so insecure – dia langsung kasih komen dan menawarkan kasur serta kuping untuk dengerin curhatan saya. curhat yang tadinya saya dominasi berujung dengan curhatan berdua.. duhh.. kami sungguh kangen moment-moment seperti ini, thanks God we still have it… even not always.

Facebook,

Buat beberapa orang, FB adalah sarana yang sangat praktis to reach all of our friends.. temen dari jaman jebat, temen yang sekedar kenal say hi, temen sekantor, temen jaman kuliah, temen jaman SMA, jaman SMP, temen yang temennya temen kita, temennya si siapa yang pengen menjadi temen kita.. dan masih banyak lagee…

Buat sebagian kecil orang, FB adalah sarana yang dapat dipake untuk men-spy inceran dari dulu… sudah menikah-kah, masih single kah, bekerja dimana, dan banyak informasi pribadi yang bisa di dapat dengan sekali klik.

Buat beberapa bagian lagi, FB adalah alat yang super canggih untuk melihat aktivitas temen, pacar, tunangan, mantan gebetan, mantan pacar, bahkan suami, hakakakaka…

Saya?

saya ini tergolong dalam kelompok manusia yang terbuka, jadi biasanya dalam situs jejaring sosial pun saya suka isi profile information yang kurang lebih menggambarkan diri dan keadaan saya saat ini. Situs kek gitu, mulai dari twitter, friendster, bahkan Facebook… memang sengaja saya gunakan untuk ‘menggandeng’ temen saya jaman SMA, dan kuliah yang kebanyakan mereka mencar-mencar ngga stay di satu tempat…Nah, FB, FS dan teman-temannya adalah alat yang jauh lebih murah buat ngasih info dari pada kudu susah-susah sms…

alhamdulillah sampe detik ini saya -mungkin- termasuk pengguna kecanggihan informasi yang bijak. paling banter, nyampah-nya banyak! hahaha…

bagaimana dengan kamu?

Kebahagiaan itu Terasa

Masih inget banget dibenakku… Kejadian minggu malam kemaren.

_mg_2307kecilSebenarnya kedatangan di Mas ke kos-an niatnya pengen ngambil notbuk karena 2 minggu lagi dia mo ujian buat penempatan. Tapi kemudian acara berkunjung dilanjut dengan acara lunch bareng *hahaha, dasar ngga pengalaman, aku masaknya nasinya dikit banget, porsi 2 cewe gitu… walhasil, aku yg ngalah demi porsi makan si Mas yang bujubuneh…* dan dilanjut dengan jalan2 *tapi pake motor* bareng dengan tujuan ATM Permata Cibubur Town Square.

Kami berangkat dari kosku sekitar jam 4-an gitu. Si Mas yang akhirnya ngaku kalo dia bawa motor pabrik, tapi ngga dibekali STNK bikin aku keder juga, ni acara jalan *tapi naek motor* bisa dilanjut apa enggak ya?? Ditambah lagi, si Mas ternyata juga ngga bawa helm, so otomatis kalo pengen nekad jalan, kudu sedikit rela berkorban.

Walhasil, setelah perundingan satu belah pihak. Aku mutusin untuk beli helm. Itung2 investasi, siapa tau Beat yang aku booking jadi nyampe kos bulan depan. Akhirnya dimulailah perjalanan kami menuju tukang jualan helm. Menurut informasi satpam penunggu ATM Mandiri Plasa Cileungsi, penjual Helm ada di kenari di sebelah ATM Lippo… Hmm… deket nih, pikirku. Tanpa pikir panjang, si mas yg waktu itu sibuk nelp temen-nya di Surabaya segera putar balik motornya menuju ATM Lippo.

Sungguh, ternyata bukan hanya ucapan jomblo yang ngga bisa dipercaya *meng-adopt quote eljomblodesperado* tapi ucapan satpam pun sekarang sudah mulai tidak dapat dipercaya. Bukannya tukang jualan helm yang kami dapat begitu kami nyampe ATM Lippo, tapi hanya seonggok gerobak sampah *buseett… barang segitu gede gw bilang seonggok*… Hmm.. kuciwa, akhirnya aku berinisiatif mengajak si Mas membelokkan motor menuju arah Wanaherang.

Bukan tanpa alasan. Biarpun termasuk kota kecil yg notabene Cileungsi ngga masuk di Peta yang aku beli, tapi polisi diperempatan Cileungsi yg konon dinilai sebagai tempat yang strategis itu ternyata berwatak preman. Busettt… galaknya minta ampyun, dan No Compromise.  So, daripada jadi bulan-bulanan pak polisi yang lagi tanggung bulan ngga bayar bulanan kontarakan *halah, ngomong opo seh aku* lebih baik sedikit ngorbanin bensin -yg alhamdulillah sekarang harganya sudah turun 3x *hihihi, berasa lagi kampanye partai Demokrat*- buat muter2 nyari helm di Wanaherang. Aku inget, ada pasar yang lumayan rame di Perempatan sebelum menuju jalan Mercedes Benz. Yup… Jangan salah, biarpun ni kota ngga ada dipeta yg aku beli *ya pantes lah, peta yang gw beli peta Jakarta geeto loccchhh* industri yang ada disini lumayan gedhe. Sebut aja Holcim, Indocement, lalu Mercedes benz itu, yang saking paling gedhe-nya *ini dugaan gw* sampe ada jalan yang dinamai Jl. Mercedes Benz… buseeeetttt…

Akhirnya, setelah jalan sepanjang -uh, ngga ngukur gw- jalan, ketemu juga tukang jualan helm. Melewati sedikit perdebatan yang alot tentang harga, dapet juga helm merah yang keknya sedikit kekecilan dikepala si Mas. Hahaha… Perjalanan berlanjut, menuju perumahan Griya Bukit Jaya.

Wuih… kesan pertama : RAME! Beneran deh, ni perumahan rame bener. Apa karena hari minggu ya? dan jam berkunjungku agak tepat? jadi rame begini.  Di sepanjang jalan banyak orang jualan, ada baju imlek yang serba merah, diborong oleh ibu2 yang notabene ngga cina sama sekali, lalu tukang jualah helm juga, yang ternyata lebih mahal dari helm yang tadi aku beli, lalu rambutan…. trus tukang jualan durian.Aku bilang ama si Mas ” dari awal bulan musim durian ampe sekarang, Na ngga pernah makan durian sama sekali”, dan dengan tiba2 si Mas menghentikan motornya berenti didepan tukang jualan durian yang baunya sungguh menari2 di hidungku. “Mahal ah” kataku. “Ngga, paling juga 5000” kata si Mas. “Masa si cuma 5000?” ternyata beneran cuma 5000, tapi duriannya emang ngga bisa diharepin banyak, ada yang udah busuk, ada yang masih mentah, pokoknya ngga bisa ngarep banyak dahh…

Akhirnya kami beli yang agak mahalan dikit, 10000. Abis satu buah, rasa penasaran terpuaskan. Perjalanan berlanjut, nyari jalan tembusan dari Griya Bukit Jaya ke Bukit Golf di Cibubur. Hmm… dulu sih pernah lewat sini. Tapi sekarang giliran nyoba sendiri, aku bingung. Si Mas, dengan pedenya nerusin perjalanan dengan arah yang based on insting. Makin lama, ni jalan makin ngaco aja. Kami ketemu ama tempat semacam kamp gitu, judulnya Pusat Pelatihan Pengawas Presiden, yang sebelahnya banyak pohon palem2 gede. Lalu aku inget katanya orang2, rumah pak Sby ada di daerah Cikeas. Masih dengan penasaran tentang daerah ini, kami ketemu ama sawah2 yang lumayan keren, mengingatkanku akan Karang Anyar Jawa tengah sono, meskipun luasnya ngga seluas Karang Anyar, tapi lumayanlah klo sekedar melepas kangen mo liat yang ijo2. Perjalanan berlanjut dan pembicaraan antara kami adalah berkisar tentang tebak-menebak yang mana sebenarnya rumah pak Sby didaerah sini.

“Itu tuh pasti” jawabku sambil menunjuk ke rumah yang kecil berpagar rapat tanpa pengawal satupun tapi memiliki halaman yang super luas.

“Ah, masa rumah Sby kecil gitu” kata si Mas ngga percaya.

“Nah, itu pasti yang itu” kata dia dengan pede-nya ketika tiba2 kami ngeliat ada orang berseragam seperti tentara yang agak ngga biasa. Aku udah hampir mo percaya kalo aja mata kami ngga melihat ada tulisan besar “Cibubur Country” Hahahahaha…!!! Tuh orang yang kami lihat, ternyata satpam perumahan mentereng ini… pantesan aja seragamnya semacam satpam. Hihihi…

Perjalanan berlanjut, dan sepertinya insting si Mas ngga kalah ama GPS. Kami nyampe juga di Jl Ry. Transyogi -Alternatif Cibubur. Tapi yang namanya orang lagi seneng tuh, biasanya emang ada aja godaannya. Kali ini godaan datang dari perut gw sendiri. Gw lupa klo semalam menelan pil pahit berjudul Laxing, dikarenakan nge-pup gw ngga sesuai ama schedule akhir2 ini, demi mencapai target, gw minumlah tuh pil malem, sesuai dengan saran mbak Krisdayanti. But, unlucky me, tuh pil malahan bereaksi hebad setelah tadi makan satu biji durian 10ribuan yang bikin perut gw terasa panas, dan mulai ngga bisa nahan.

“Mas, cari pom bensin dunk… mau setor” kataku pelan.

“Dimana pom yang deket? ” tanya si Mas.

“Kali yang ada Gramedia Palsunya itu lohh” kataku udah ngga bisa konsentrasi lagi.

Dengan susah payah aku nyoba mengalihkan perhatian ke pikiran lain selain sakitnya perutku. Dan sampailah si Mas, menyelamatkanku dari siksaan perut di pom bensin yang emang ada toko jualan buku terbitan Gramedia, tapi bukan Gramedia yang aku maksud.

Setelah tragedi Laxing itu, kami pun sholat. Sambil ngebayangin suatu saat bakalan punya surau yang bagus kek yang ada di pom bensin ini, dengan taman yang bagus juga. Amieennn…

Perjalanan berlanjut, ke Atm permata yang aku maksud di cibubur town square yang depannya adalah toko kreatif berjudul ACE hardware. Hehehe, kalo udah nyampe sini, aku paling ngga tahan klo ngga bilang bahwa Cibubur adalah small town yang Big Town. Gimana enggak, semua kebutuhan dari A ke Z ada disepanjang jalan alternatif transyogi ini -kecuali Gramedia sih. Dan aku harus meng-amini omongan seorang bos bahwa Cibubur ini small town-nya Jakarta minus macet dan banjir. Hahaha…

24769115Yang paling berkesan, adalah saat perjalanan pulang. Setelah puas ngudek2 ACE hardware yang berakibat pada semakin panjangnya daftar barang -keinginan saya yang pengen saya beli dan sampe sekarang belon sanggup saya beli- dan mas yang tergiur ama barang2 yang kreatif tapi tidak dia budget untuk dibeli dan tidak sanggup menahan dan akhirnya terbeli. Puas ngerjain mas dipintu depan, saya yang tiba2 ngilang dan dia yang celingukan kebingungan, dan ketawa saya yang bikin heboh pengunjung laennya, maka kami pun melenggang pergi -diiringi dengan tatapan syukur mbak penjaga front door serta satpam. Tapi daftar kunjungan kami bertambah panjang, ketika saya tiba2 mengusulkan untuk mampir Top buah hanya karena penasaran isi toko itu apa.

Puas ngubek2 toko itu, yang ternyata lumayan murah juga kami pun memutuskan pulang. Saya hanya membeli jeruk kecil setengah kilo seharga Rp.5000.-. Kami pun pulang. Dalam perjalanan, seperti biasa, kebiasaan si mas adalah kalo kami di jalan, dan saya pegang makanan, biasanya dia minta disuapin.

“Uh, jeruknya kecut (asem-Jawa-. Red) mas! ” kataku sambil tetap menyuapkan jeruk itu ke mulutnya.

“^$*%$^%&*&%^%__()&&^#” kata masku berkomentar.

“Ngomong apa?” tanyaku karena aku ngga denger apa yang dia bilang.

“Iya ih, kecut …xxx…bla bla..bla… manis.. bla…bla..bla..” hanya sepotong2 yang berhasil aku dengar.

“Lha kan emang kecut tadi aku bilang” kataku agak sewot.

“Nduk, aku tadi bilang. Jeruknya emang kecut, tapi kok jadi manis ya dimulutku. Apa karena kamu yang nyuapin??” Dzing…

Aku speechless.

Penyakit budeg temporary-ku emang suka muncul tak diduga disaat yang ngga tepat. Tapi lalu masku ketawa, sambil ngomong gini.

“Susah ya punya pacar budeg, mo romantis malah jadinya bertengkar, hahaha…”

Dan kami pun tertawa…

Yang jelas, malam itu. Langit memang sedang ramah.  Setelah beberapa hari ini Bogor selalu diguyur hujan. Malam itu pula, aku merasa tidak ada lagi yang aku inginkan selain tetap disampingnya. Karena aku tidak perlu berusaha sempurna hanya untuk dapat berada disisinya.

-Na-