ketika saat itu tiba

ini adalah tentang luka lama. luka yang terasa sakit awalnya namun ketika luka itu menahun, maka bukan lagi sakit, tapi terasa kebas. ini adalah memori tentangmu ayah, orang yang membuat hatiku menjadi kebas tidak merasa.

tidak banyak yang aku ingat. satu saja yang selalu aku pertahankan di memori adalah ketika aku 5 tahun dan lenganmu terasa seperti pelukan hangat, membopong tubuh kecilku dan aku menyandarkan lenganku di lehermu.

lalu perlahan aku mulai lupa, bagaimana kita berbicara satu sama lain, bagaimana kita berdiskusi yang kadang hampir selalu berakhir dengan perdebatan panjang. aku yang masih sangat muda, anak kecil bagimu sehingga apapun yang aku bicarakan tentang perilakumu sama sekali tidak berbekas. kemudian sampailah kita di titik itu ayah. hari dimana aku untuk terakhir kali mengingatkanmu tentang bagaimana aku berpegangan pada tali yang rapuh, serapuh kepercayaanku kepadamu, serapuh hormatku padamu, tentang bagaimana engkau mungkin akan kehilangan aku jika engkau masih saja berkutat dengan tabiatmu dan enggan berubah.

dan kau pun melepaskan kami, putrimu.

ayah, akan ada hari dimana kamu tidak lagi muda. akan datang masa dimana kami-lah satu-satunya hartamu didunia. akan tiba saatnya dimana yang tertinggal hanyalah penyesalan. bahwa hidup didunia hanyalah tempat untuk mencari bekal dikehidupan yang kekal. bahwa ini semua hanyalah persinggahan.

ayah, engkau telah memilih. Untuk tidak menua bersama kami, tidak melewati liku hidup bersama kami. ayah, saat itu aku belum belajar tentang salah dan benar, yang aku tau hanya bertahan. ayah, sungguh, maafkan aku jika tidak ada rasa tersisa dihatiku untukmu.

Ayah, setelah bertahun berlalu. dibeberapa persimpangan kita sempat bertemu. tanpa sepatah kata, engkau menyadari bahwa kami, aku, tidak lagi sama dengan putri kecilmu dulu. Ayah, aku tau tak banyak yang engkau pinta, pun sejujurnya aku terkadang enggan memberi. tapi keriput di tanganmu, wajahmu, rambutmu yang tidak selebat dulu, gigimu yang tidak sekuat dulu, menceritakan banyak hal tentang kehidupan terjal yang engkau lalui.

Ayah, kini bahkan setelah engkau tidak lagi didunia bersama kami, air mata yang jatuh untukmu dapat kuhitung dengan jari. ayah, betapa sedih dan luka dihatiku terlanjur mengering bersama air mata bertahun-tahun. Maafkan aku ayah, yang tidak menangisi kepergianmu, merelakanmu pergi dan tidak mengusahakan lebih untukmu. Sungguh maafkan aku ayah, sejauh itu yang mampu aku berikan, sejauh itu saja yang mampu aku ikhlaskan.

Aku memaafkanmu ayah. Aku mengikhlaskanmu, bahkan sebelum waktu ini tiba. Bahkan saat ragamu masih ada, namun jiwamu selalu pergi setiap kali ada kesempatan. Tidak ada luka ayah, bahkan saat kita bertemu beberapa tahun terakhir, aku sudah tidak lagi terluka, aku hanya sedih melihatmu tak kunjung bahagia. aku menemukan duniaku, menciptakan kebahagiaanku, dan aku ingin merawatnya. berusaha menjadi lebih baik daripada yang engkau ajarkan padaku.

Aku memaafkanmu ayah. Bahkan sebelum engkau memintanya. Aku merelakanmu. Semoga amal ibadahmu diterima, dilapangkan kuburmu, dan diterangi dengan cahaya-cahaya kebaikanmu. Aku mungkin bukan putri terbaikmu, tapi aku mengingatmu, lengan hangatmu saat menggendongku, disetiap sujudku.