Allah tau, tapi menunggu

Hidup ini aneh, kadang lucu. Tapi satu hal yang saya ingat dalam perjalanan belajar bisnis saya adalah tentang beberapa keinginan yang dulu terasa sulit sekali dijangkau namun seiring perjalanan, ternyata sekarang satu persatu mulai menjadi nyata.

5be2d9866919c6dd80036359684ab5e4
http://www.pinterest.com

Saya ingat sekali tahun 2012, saat pertama kali resign dan saya memilih untuk sibuk memulai kegiatan baru, membuka toko bayi dilingkungan perumahan kami tinggal. Saat itu semua serba terbatas, tidak banyak yang kami, tepatnya saya punya untuk memulai bisnis ini. Langkah awal tentu saja harus punya tempat sendiri untuk sekedar display, karena stock barang yang lumayan banyak menumpuk banget dirumah sampai2 ruang tamu ditimbuni banyak barang.

Akhirnya Alhamdulillah, jalan Allah mempertemukan saya dengan pemilik ruko, singkat kata saya menyewa ruko tersebut dengan nominal 15jt pertahun. Murah ya, iyaaa sekarang…. tapi tahun itu terasa mahal bagi saya. Singkat kata, soft opening alhamdulillah berjalan lancar, saya mulai enjoy menikmati rutinitas baru dan mulai serius menekuni kegiatan baru ini. Waktu setahun berjalan dengan cukup baik, dan hampir tidak terasa. Saya pun punya satu pegawai saat itu. Akhirnya tibalah habis masa kontrak dan saya dihadapkan pada pilihan : pindah ke ruko lain atau beli ruko yang saya tempati saat ini, karena si pemilik berniat menjual ruko tersebut dengan harga yang tidak dapat saya bayangkan saat itu, 650juta. Ya Allah…

Galau, bingung tapi akhirnya saya memilih pindah. Dan berharap semoga peruntungan kami setidaknya sama dengan saat menempati tempat lama yang memang lebih strategis. Yang saya yakin, Allah sudah membagikan rejekinya dengan adil setiap harinya, bagi hamba-Nya yang meyakini, bahkan untuk semut saja Dia membaginya dengan adil, apalagi bagi kita, manusia yang berusaha. Singkatnya, kami pindah ke tempat baru di deretan yang sama hanya kali ini posisinya di tengah2. Untuk periode ini, saya menyewa 2 tahun dengan nominal 18jt/th. Alhamdulillah.

Waktu 2 tahun hampir tidak terasa. Banyak hal terjadi di tahun-tahun itu, 2013 sampai 2015, yang lain waktu akan saya ceritakan beberapa detailnya. Beberapa misalnya, saat saya mulai bisnis hijab yang akhirnya berhenti di tengah jalan karena inconsistency, lalu saat saya mulai melepas KB dan berharap hamil, tapi ga kunjung hamil sampai akhirnya saya daftar S2, sebagian karena memang pengen sekolah lagi, sebagian karena desperate ga hamil-hamil, yang akhirnya hamil juga di awal semester kuliah. Sampai akhirnya keputusan kami harus pindah rumah karena rumah yang kami tempati saat itu hanya 2 kamar sedangkan penghuni rumah kami (5 orang saat itu) akan bertambah satu lagi dan kami merasa akan kurang ruang gerak terutama untuk anak2.

Long story short, kami pindah ke rumah yang baru, setelah rumah kami terjual (ke tetangga sendiri), pada saat itu juga saya yang sedang hamil tua harus mulai mikir masa depan toko, karena lagi2 sudah habis masa kontrak. Kami yang saat itu sedang menganggarkan pengeluaran untuk renovasi rumah baru (menambah beberapa kamar dan ruangan) pun harus merogoh kembali kantong lebih dalam karena masalah yang sama terjadi di ruko kedua, rukonya dijual! Pilihannya kembali menjadi membeli ruko ini atau pindah lagi, untuk ketiga kalinya. Ya Allahh….

Akhirnya, dengan pertimbangan dan perhitungan yang cukup membuat pusing, campur bingung campur was-was. Saya dan suami memutuskan untuk membeli ruko yang kami tempati saat ini. Harga yang diminta pemilik adalah 680jt, kami tawar sampai akhirnya dapat 670jt. Ya Allah, angka yang sangat fantastis bagi saya. Karena waktu itu status kontrak saya masih ada, maka pembayaran uang ruko kami cicil 3x, 200juta sebanyak 2 kali lalu terakhir 270jt diakhir masa kontrak. Dan Alhamdulillah, berkah Allah, sang pemilik menyetujuinya.

Hamil tua, kuliah semester 2 yang lagi masuk masa ujian akhir, rumah sedang di renov, toko yang harus dibayar, dan terakhir suami yang kerjaannya dipindah ke pulau lain sehingga kami harus LDR. Lengkaplah sudah apa yang saya rasakan saat itu. Karena rumah sedang di renov, maka pilihan tempat tinggal kami saat itu adalah sewa tempat lain, atau tidur di lantai 2 ruko yang statusnya saat itu separuh milik kami, separuh milik orang lain. Dengan pertimbangan menghemat biaya, akhirnya kami (saya, mama, adek, neyla) pun tinggal sementara di lantai 2 ruko kami selama hampir 3 bulan.

Ga usah dibayangkan bagaimana rasanya kami yang tadinya menghuni rumah, lengkap dengan dapur yang walau kecil tapi cukup bagi kami, sedangkan diruko, dapur darurat kami sering banget keguyur hujan karena kami posisikan diluar untuk mencegah bau masuk, dan selain itu meminimalisir resiko tabung meledak dan lainnya. Intinya memang berkurang kenyamanan kami, terutama mama yang suka sekali kebersihan.

Perut saya sudah semakin besar, harus naik turun tangga saat ingin beraktivitas. Cukup melelahkan dan membuat frustasi. Namun harus bertahan dan kuat karena saat itu bisa dibilang saya adalah kepala rumah tangga sementara suami sedang bekerja di kota lain. Alhamdulillah tepat sebulan sebelum bayi Pelangi lahir, rumah sudah siap ditempati. Pun demikian juga ruko yang akhirnya selesai proses jual beli.

2 tahun berlalu setelah saat itu, dan kali ini insyaAllah saya akan membuka kembali cerita baru dalam perjalanan bisnis saya. Ruko lama, ruko dengan posisi strategis (hook) yang dulu adalah tempat pertama saya memulai mimpi ini, dijual kembali oleh pemiliknya (setelah beberapa kali ganti rencana). Walau dengan harga yang cukup fantastis, 850jt.

Apa yang kita kira saat ini adalah sesuatu yang paling kita inginkan, sabarlah, barangkali rencana Allah lebih indah, dan begitulah yang terjadi pada cerita saya, Allah memilihkan skenario yang lebih indah, yang tepat pada waktunya, walau jalannya harus berputar, melewati batu2 kerikil dan rintangan, tetaplah tawakal, dan berprasangka baik padaNya 

caa38652a376e23d5e19a3f33babb8b7.jpg
http://www.pinterest.com

Kali ini dengan Bismillah, dan kembali menghela nafas panjang, tabungan yang tadinya untuk kami pakai beli rumah di balikpapan, akhirnya kami pakai untuk membeli ruko yang tadinya saya impikan. Ruko yang 4 tahun yang lalu saya harap bisa membelinya, namun baru saat ini menjadi kenyataan, dan bahkan dengan ijin Allah, saat ini saya hampir memiliki 2 ruko. Ya Allah… Maka nikmat mana yang kamu dustakan. Yang saya sadari, bahwa jangan putus asa bermimpi, jangan berhenti memimpikan cita-cita karena Allah tau, tapi Dia meminta kita untuk menunggu. Apa yang kita kira saat ini adalah sesuatu yang paling kita inginkan, sabarlah, barangkali rencana Allah lebih indah, dan begitulah yang terjadi pada cerita saya, Allah memilihkan skenario yang lebih indah, yang tepat pada waktunya, walau jalannya harus berputar, melewati batu2 kerikil dan rintangan, tetaplah tawakal, dan berprasangka baik padaNya. Bukankah Allah swt adalah seperti apa yang disangkakan hambanya, maka berprasangka baiklah, niscaya apa yang diinginkan akan menjadi nyata, lewat jalan yang kita tidak duga.

Iklan

Tentang mimpi lainnya

image

Ini dia senjata untuk menembus mimpi saya berikutnya,
Jadi mahasiswa di kampus depok. Kembali ke dunia pendidikan, menjadi kosong untuk sekali lagi diisi.

Minggu besok, adalah gerbang pertama yabg harus saya lalui.
Saya tidak tau apakah saya akan lolos menembus gerbang itu pada percobaan pertama ini ataukah harus kembali lagi tahun depan dan mencoba lagi, entahlah.

Saya serahkan saja pada jodoh kali ini,
Saya harap pertarungan cukup sekali saja,
Karena sungguh, yang tidak mudah bukanlah mengasah kembali otak untuk diajak berpikir,
Tapi lebih kepada waktu yang demikian cepatnya bergulir, melenakan saya bahwa masih banyak waktu dan masih bisa bersiap, tapi ternyata yang cepat itu memang waktu itu sendiri.

Merelakan waktu bergumul dengan peri kecil itu, untuk sekedar corat2 kedua buku tebal ini, buku yang tidak pernah saya sentuh kalo ngga terpaksa ikut ujian saringan. Semoga cukup sekali ini saja, dan saya cukup kecil untuk bisa lolos saringan.

Rabb,
Kabulkanlah, mudahkanlah, jodohkanlah aku dengan mimpiku kali ini.

#catatan di malam yang super galau#

-newly- passionate

85699,1177778634,1Sebelumnya engga pernah menyangka akan merasa seperti ini. Terlebih ketika dia mengajukan permintaan menikah tepat pada perayaan 5 tahun masa perkenalan slash pacaran kami . Jika ada pertanyaan mengapa saya ingin segera menikah dengannya adalah karena satu hal, saya ingin ditemani. Entah mengapa, terasa lelah berjalan sendirian diantara semakin banyaknya masalah yang muncul di hadapan saya, berjalan beriringan dengan semakin bertambahnya umur.

Iya, alasan saya menikah selain tentu saja karena saya mencintai dia, tapi satu yang membuat saya merasa harus mensegerakan adalah karena saya lelah selalu sendirian. Terlebih semakin kesini, teman-teman yang senantiasa dapat diandalkan setidaknya untuk menghabiskan weekend, sekarang lebih memilih untuk sibuk sendiri-sendiri. Jangankan menyempatkan diri berburu barang-barang murah di daerah senen, ataupun glodok. Sekedar rujakan di kos saya saja sepertinya mereka tidak sempat lagi.

Hmmm.. iya, saya merasa sangat kesepian. Terlebih ketika pada usia produktif seperti ini saya semakin disibukkan dengan rutinitas kantor yang jamnya semakin lama semakin ngga menentu. Saya justru merasa dunia saya semakin sempit, dan di dunia sempit itu saya sendirian. Hmmmh… sedih sekali jka teringat waktu-waktu itu. Sampai saya tersadar bahwa walo bagaimanapun mencoba untuk tidak sampai ke titik ini -baca : kesadaran menikah- pada akhirnya semua manusia sesuai dengan fitrahnya, akan tergiring dengan sendirinya menuju ke fase ini. Semuanya memang seperti ada yang mengatur, bahwa saya tidak akan selamanya di temani oleh teman-teman saya yang mereka pun pada akhirnya akan menentukan jalan sendiri-sendiri yang kemungkinan berbeda dengan jalan yang saya ambil. Maka, demi menghilangkan perasaan kesendirian di dunia saya yang semakin lama semakin mengecil ini, mau tidak mau, saya harus memilih -dan membidik- salah satu teman saya untuk dijadikan teman seumur hidup, menemani saya sampai rambut menguban dan memutih (insyaalloh).

Niat yang sudah kian membulat itu rupanya engga begitu aja mulus. Bener kata orang, menuju pernikahan itu biasanya cobaan beragam, klo dalam bahasanya iqa (seorang teman dari Bandung) karena kalo menikah, semua ibadah nilainya berlipat ganda, jadi setan engga mau pahala kita bertambah demikian cepatnya sehingga berusaha untuk menghalangi pernikahan tersebut. Hmmm… masuk akal sih, but in my opinion, semua cobaan pada dasarnya untuk menaikkan level seseorang, dan apakah pahala menjadi berlipat karena pernikahan, wallohu a’lam, saya engga mau berurusan matematika dengan Alloh, itu hak Dia sebagai maha segala dari apa yang ada didunia ini.

Dan finally, hari itu, minggu 2 Agustus 2009,  saya pun menjadi muhrimnya.Laki-laki yang saya coba mengenal selama kurun waktu duatahun perkenalan, dan lima tahun pacaran. Bismillah, semoga saya memilih lelaki yang tepat, untuk diri saya dan anak-anak saya kelak. Amien.

Saya tidak menyangka, bahwa sebuah pernikahan akan merubah apa yang telah menjadi idealisme saya dalam memandang sebuah profesi atau posisi. Profesi dalam hal ini adalah pekerjaan yang berkaitan dengan sebuah instansi tertentu, ada hitam di atas putihnya, perjanjian antara manusia dan manusia. Tadinya, laki-laki itu mengenal saya sebagai sosok yang pantang menyerah dengan semua cita-cita tingginya. Seseorang yang percaya dengan quote-nya Andrea Hirata “bermimpilah setinggi langit dan Tuhan akan memeluk mimpimu itu”.

Saya masih Na yang itu. Yang ingin mimpinya di peluk Tuhan. Tapi yang pasti saya bukan lagi Na yang dulu. Begitu terobsesi untuk selalu menjadi nomor satu dan menjadi dragon lady, wanita dengan karier cemerlang. Dikelilingi fasilitas nomor satu dan dengan segala kemudahan dalam hidup. Saya sempat ingin menjadi seseorang yang mengejar itu semua. Semua semata-mata karena saya kira nilai kebahagiaan terletak pada itu semua, jika semua hal yang menyangkut hidup ini menjadi demikian mudah dan indah, bagaimana mungkin hidup tidak bahagia?

That’s my stupid thought. Dan saya menyadari kebodohan itu tepat ketika saya mengalami masa-masa dimana ternyata mengejar apa yang saya kira benar itu sungguh melelahkan. Terlalu banyak effort yang harus dikeluarkan untuk sesuatu yang saya belum yakin bahwa semua itu akan membuat saya bahagia. Effort yang saya yakin tidak akan seimbang dengan hasilnya apabila yang harus saya korbankan adalah waktu-waktu singkat saya bersama keluarga dan orang-orang yang saya sayangi. Pada titik tertentu, saya menyadari bahwa ternyata saya ngga seambisius itu, bahwa untuk menjadi bahagia tanpa kehilangan mimpi saya yang sebenarnya ternyata ngga harus se-ngoyo itu.

Then, I became who I am right now. Masih saya yang ingin terus bermimpi ingin menjadi dosen, karena dengan profesi itu saya punya banyak tabungan akherat dengan meninggalkan banyak ilmu yang berguna. Menuju itu, terlebih dahulu saya harus kuliah S2 (dosen S1 sekarang udah jarang boww) dan kesanalah panah impian saya saat ini saya tancapkan. Saya, masih orang itu yang memiliki mimpi berjenjang. Yang tidak lagi menganggap enteng tentang motherhood *ampuni saya para ibu-ibu didunia*, bahkan mulai menyadari bahwa justru dari rumahlah kunci semua ke kesuksesan yang di dapat di luaran sana. Dari rumahlah kebahagiaan itu dibangun, dan ditangan ibulah kunci diletakkan. Ngga mudah memang, tapi mungkin memang itulah alasan kenapa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

-sang kekasih-

249017721Dia itu, lelaki kedua yang menempati tempat sekian lama diruang hati saya. Demikian juga saya dihatinya. Lelaki pertama? jangan tanya siapa. Meskipun waktu itu saya masih SMA, tapi untuknya, saya beri hati yang utuh dan berusaha menjaga meskipun terpisah karena saya harus kuliah di kota yang berbeda. Meski begitu, toh saya tidak lantas men-single-kan diri dan mencari yang lebih baik dari dia. Saya akui, karena memang waktu itu (tahun 2002) hape dan alat komunikasi lainnya masih jarang dan engga sepopuler saat ini, toh demi dia saya berusaha setidaknya pulkam sebulan sekali demi menjaga yang tadinya saya minta untuk dihentikan saja. Tapi dia? tidak sekalipun dia melihat keadaan saya di kota tempat saya belajar. Sudah saya minta dari awalnya, sebaiknya saya dan dia menghentikan apa yang baru saja kami mulai saat itu, mumpung saya belum terlalu sayang, mumpung saya masih bisa mem-back flash posisi dia menjadi teman saya kembali, bukan pacar. Tapi dia enggan.

Saya kira itu komitmen, entahlah… toh saya juga masih terlalu muda untuk mengenal komitmen saat itu. Tapi setidaknya saya tetap mencoba. Sampai saat itu, ketika komunikasi mulai membaik diantara kami (thn 2004, saya mulai punya yang namanya hape) sebuah teror masuk ke kotak inbox saya. Lebih dari itu, banyak miscall, dan telpon engga penting mengganggu saya dan menyebut namanya. Seorang cewek mengaku sebagai kekasihnya, membuat saya terhenyak dari posisi sebagai orang yang penting dihatinya. Sungguh, saat itu, saya kira saya sudah berusaha menyelesaikan masalah itu dengan cara yang saya anggap dewasa. Menanyakan kepada dirinya tentang cewek itu, sungguh, saya berusaha untuk mempertahankan apa yang saya kira penting. Tapi dia, tak sekalipun menanggapi pertanyaan saya, dan tidak sedikitpun dia berusaha memenangkan hati saya. Saat itu pula saya sadar, hubungan tidak sehat ini sudah terlalu lama, dan dia… pun tidak menggapai saya ketika saya meninggalkannya.

Yang membuat sakit, dan perih dan enggan untuk memulai lagi adalah perasaaan dihina dan dicampakkan. Saya menjadi demikian pendendam dan merasa diabaikan olehnya. Tidak nampak semua cerita pertama kali tangan saya digenggam oleh laki-laki, tidak nampak oleh saya, saat mendebarkan yang saya tunggu ketika bertemu dengannya, tidak nampak itu semua. Saya terkadung sakit. Dan itu tak termaafkan sampai tahun kedua setelah kami berpisah.

Tapi saya beruntung, oleh lelaki kedua ini, saya diajari banyak hal. Bersama dia, saya merasa banyak berubah dan sepertinya menuju perubahan yang lebih baik. Bukan sengaja saya mencari kekasih lainnya sehingga bertemu dengan lelaki kedua ini. Bagi saya, awalnya dia adalah sosok yang menyenangkan untuk berbagi cerita, mimpi, kisah, harapan dan semua uneg-uneg yang mengganjal hati. Sampai akhirnya kebutuhan akan dirinya menjadi tidak tertahankan karena kerapuhan saya akibat sakit hati. Dan dia, menggengam tangan saya, menggantikan lelaki yang pertama, dengan cara yang berbeda.

Dan cerita kami pun, dimulai pada tahun yang sama, dengan cara yang sederhana dan apa adanya. Toh sebelumnya saya memposisikan diri sebagai seorang adik untuknya. Dan dia, bagi saya adalah seorang kakak laki-laki yang tidak pernah saya punya. Bersamanya, meskipun komitmen itu tidak terucap dengan lantang, toh kami menyadari posisi kami di hati masing-masing. Perjalanan kami pun tidak selalu mulus dan lancar, beberapa kali kami terpaksa harus berpisah karena jalan menuju mimpi ternyata berbelok menuju arah yang berlawanan. Tapi toh kami tidak menyerah, dia sebenarnya. Dia yang tidak pernah menyerah meyakinkan saya bahwa masih banyak yang bisa kami lalui bersama. Dia yang selalu berusaha ada untuk saya dan mengerti mimpi saya, mengajarkan kepada saya apa itu komitmen, apa itu hubungan dan apa itu rasa saling.

Sampai kemarin malam, rasa sayang yang dia perlihatkan kepada saya tidak berubah. Malah semakin kentara. Betapa dia menjadi sosok yang demikian mudah terpengaruh dengan suasana hati saya. Kalo saya lagi seneng, dia bisa dua kali lebih seneng, kalo saya lagi bete -apalagi klo betenya gara2 dia- dia bisa dua tiga kali lebih sedih karena saya suka mengadakan gencatan senjata, engga sms, engga nelpon, engga mau bales sms, engga mau angat telpon.

250152571Iya, saya akui. Semakin kesini, sepertinya saya semakin kolokan ngadepin dia. Dia, tetap berusaha memperlakukan saya selayaknya wanita dewasa. Okelah, kadang kalo logika saya lagi jalan, saya juga mampu diajak mikir logis en dewasa, tapi jujur, menghadapi dia, saya lebih suka mengeluarkan sisi manja -dan kolokan- saya. Hehehe…

Beberapa bulan terakhir ini, rasa diantara kami seperti diuji. Saya yang menguji, kadang juga keadaan yang menguji. Entah untuk menaikkan ‘kelas’ kami atau justru mendewasakan pemikiran kami tentang suatu hubungan itu sendiri. Entahlah. Yang jelas, meskipun sampai detik ini, masih banyak diantara kami yang harus kami temukan titik temunya, dia, meskipun adalah lelaki kedua yang menempati ruang hari saya, tapi dialah saat ini pemilik hati saya sepenuhnya.

-naj-